Buwas: Bulog Tidak Impor Beras di 2019, tapi Swasta

Oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana pada 29 Mar 2021, 14:50 WIB
Diperbarui 29 Mar 2021, 14:50 WIB
Buwas Bahas Anggaran dan Kinerja Bulog Bersama DPR
Perbesar
Dirut Perum Bulog Budi Waseso saat rapat kerja bersama Komisi IV DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta (20/6/2019). Rapat membahas RKA Kementerian dan Lembaga Tahun 2020, evaluasi pelaksanaan anggaran triwulan I dan kinerja Bulog selama tahun 2018. (Liputan6.com/JohanTallo)

Liputan6.com, Jakarta Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan Indonesia telah berhenti melakukan impor beras sejak 3 tahun lalu, atau pada 2018. Ucapan ini sedikit bertentangan dengan laporan data Badan Pusat Statistik (BPS), yang menyebutkan Indonesia selalu impor beras sejak 2000-2019.

Lalu, mana yang tepat?

Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso atau Buwas mengamini, bahwa pihaknya memang tidak pernah lagi melakukan impor beras untuk konsumsi masyarakat sejak 3 tahun lalu.

"Seperti yang disampaikan bapak Presiden bahwa selama 3 tahun kita enggak pernah impor, Bulog memang enggak pernah impor," kata Buwas dalam sesi teleconference, Senin (29/3/2021).

Namun, dia juga tak memungkiri laporan BPS, yang memperlihatkan Indonesia tetap melaksanakan impor pada 2019. Tapi beras tersebut bersifat khusus hanya disalurkan secara terbatas dan bukan untuk konsumsi masyarakat luas.

"Kalau ada informasi data BPS beras masuk, itu beras khusus. Ini untuk kebutuhan khusus misal Japonica, Brasmati, itu untuk kebutuhan hotel dan restoran yang bersifat khusus," ucap Buwas.

Melansir data BPS, Indonesia pada 2019 lalu tercatat melakukan impor beras sebanyak 444.508 ton senilai USD 184,2 juta. Jumlah itu turun jauh dari data impor beras 2018, dimana Pemerintah RI mengimpor 2.253.824 ton beras senilai USD 1,037 miliar.

"Jadi bukan Bulog, tapi swasta sesuai kebutuhannya. Jadi tidak ada impor beras selain itu. Sampai hari ini Bulog belum melaksanakan impor," tegas Buwas.

2 dari 3 halaman

Bulog Sudah Serap 200 Ribu Ton Beras Petani

Buwas Bahas Anggaran dan Kinerja Bulog Bersama DPR
Perbesar
Dirut Perum Bulog Budi Waseso memberi penjelasan kepada Komisi IV DPR saat rapat kerja di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta (20/6/2019). Rapat membahas RKA Kementerian dan Lembaga Tahun 2020, evaluasi pelaksanaan anggaran triwulan I dan kinerja Bulog selama tahun 2018. (Liputan6.com/JohanTallo)

Perum Bulog menyatakan telah menyerap beras petani hingga sekitar 200 ribu ton. Jumlah serapan tersebut akan naik hingga 230 ribu ton sampai akhir Maret 2021.

Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengatakan, penyerapan beras tingkat petani tersebut dilakukan guna menghadapi musim Ramadhan dan Lebaran Idul Fitri pada April-Mei 2021.

Pria yang akrab disapa Buwas ini menyampaikan, proses penyerapan tersebut dimulai sejak awal Maret 2021 lalu, dimana musim panen raya baru terjadi.

"Jadi sampai hari ini, Bulog telah menyerap 200 ribu ton setara beras di wilayah panen," kata Buwas dalam sesi teleconference, Senin (29/3/2021).

Buwas menyatakan, Perum Bulog akan terus menyerap beras petani di seluruh wilayah panen. Adapun rata-rata penyerapan beras per hari yang dilakukan yakni sekitar 10 ribu ton.

"Jadi ini sekarang sudah 200 ribu, berarti tinggal 3 hari bulan Maret kita akan tambah 30 ribu ton. Sehingga kita menguasai beras sudah 1 juta ton," ungkap dia.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) disebutnya telah memprediksi proses serapan beras Bulog bisa terus berlangsung hingga Juni 2021. Buwas memperkirakan musim panen raya memang akan berakhir pada Mei 2021, namun stok cadangan beras Bulog akan tetap tersedia hingga akhir Juni nanti.

"Makanya disampaikan pak Presiden, Bulog akan dievaluasi serap beras sampai Juni. Kita akan utamakan produksi petani, lalu sampai Juli 2021 kita evaluasi," tukas Buwas.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓