Jokowi Pastikan Tak Impor Beras hingga Juni 2021, Bagaimana Setelahnya?

Oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana pada 29 Mar 2021, 14:20 WIB
Diperbarui 29 Mar 2021, 14:20 WIB
Ratusan Ribu Ton Beras Tak Terpakai di Gudang Bulog
Perbesar
Pekerja saat mengangkut karung berisi beras yang belum terpakai di Gudang Bulog Divisi Regional DKI Jakarta, Kelapa Gading, Kamis (18/3/2021). Dirut Perum Bulog Budi Waseso menegaskan tahun ini Indonesia tidak akan mengimpor beras. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) memastikan pemerintah tidak akan melakukan impor beras hingga Juni 2021. Kepastian itu meredam wacana bahwa pemerintah akan mengimpor 1 juta ton beras dalam waktu dekat ini.

Pernyataan itu ditimpali oleh Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso, yang menyatakan stok cadangan beras pemerintah (CBP) hingga Juni 2021 akan mencapai 1,4 juta ton.

"Kita prediksi normal sampai bulan Mei, sekarang kan sudah 1 juta ton, sampai bulan Mei itu tambahnya sekitar 400 ribu ton. Jadi secara keseluruhan kita memiliki stok yang ada di Bulog untuk CBP 1,4 juta ton," jelasnya dalam sesi teleconference, Senin (29/3/2021).

Menurut pria yang akrab disapa Buwas ini, jumlah cadangan 1,4 juta ton beras tersebut sudah sesuai dengan batas kapasitas yang ditentukan pemerintah. Secara aturan, Bulog wajib memiliki CBP pada kisaran 1-1,5 juta ton.

Lantas, pasca musim panen raya berakhir Mei 2021, apakah ketersediaan beras akan berada di bawah batas sehingga pemerintah mengimpornya?

Buwas mengatakan, menurut sejumlah perkiraan, panen beras akan kembali terjadi pada Agustus-September 2021. Sehingga Bulog akan kembali menyerap beras petani.

"Insya Allah kalau itu memang ada nanti keputusan dan kepastiannya, kita akan serap lagi. Kalau HPP-nya (Harga Pembelian Pemerintah) untuk Bulog tidak bisa, ya kita akan membeli dengan cara komersial," tuturnya.

Menurut dia, Bulog bersedia untuk mengeluarkan ongkos terpisah dari anggaran untuk menyerap beras petani, karena hasil produksinya salah satunya bisa dimanfaatkan untuk ekspor.

Perum Bulog sendiri sebelumnya telah memiliki kerjasama dagang dengan Arab Saudi untuk mengekspor 100 ribu ton beras tiap bulan. Namun, perjanjian tersebut belum terlaksana akibat krisis pandemi Covid-19.

"Salah satunya kita akan untuk kepentingan ekspor. Nanti petani ada jaminan, bahwa produksi beras mereka itu pasti diserap. Itu yang paling penting. Jangan sampai mereka dirugikan," tegas Buwas.

 

2 dari 3 halaman

Jokowi Tegaskan Tak Ada Impor Beras sampai Juni 2021

Presiden Jokowi meninjau Gudang Bulog di Kelapa Gading Jakarta Utara, Rabu (18/3/2020). (Biro Pers Kepresidenan)
Perbesar
Presiden Jokowi meninjau Gudang Bulog di Kelapa Gading Jakarta Utara, Rabu (18/3/2020). (Biro Pers Kepresidenan)

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) akhirnya buka suara terkait polemik impor beras 1 juta ton. Dia memastikan pemerintah tidak akan mengimpor beras hingga Juni 2021.

"Saya pastikan sampai Juni 2021 tidak ada beras impor yang masuk ke negara kita Indonesia," ujar Jokowi dalam siaran pers resminya, pada Jumat 26 Maret 2021.

Indonesia disebutnya sudah hampir tiga tahun tidak pernah melakukan impor beras dari negara luar.

Jokowi juga mengatakan, memang pemerintah sebenarnya juga punya ikatan kerja sama untuk menyerap beras dari Vietnam dan Thailand.

Namun perjanjian tersebut hanya untuk siaga jika Indonesia kekurangan stok beras di masa pandemi Covid-19 ini.

"Dan saya tegaskan, memang ada ada MoU dengan Thailand dan Vietnam. itu hanya untuk berjaga-jaga. Mengingat situasi pandemi yang penuh dengan ketidakpastian," ungkapnya.

"Saya tegaskan sekali lagi, berasnya belum masuk," seru Jokowi.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓