Jokowi: Segera Hentikan Perdebatan soal Impor Beras

Oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana pada 26 Mar 2021, 20:25 WIB
Diperbarui 26 Mar 2021, 20:25 WIB
20170214-Indonesia Kirim Bantuan Beras ke Sri Langka-Jakarta
Perbesar
Presiden Joko Widodo (Jokowi) melakukan pengecekan saat melepas bantuan hibah 5.000 metrik ton (mt) beras kepada Pemerintah Sri Lanka di gudang Bulog, Jakarta, Selasa (14/2). Bantuan beras untuk korban kelaparan di Sri Lanka. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) memutuskan untuk tidak melakukan impor beras hingga Juni 2021. Kebijakan itu dikeluarkannya lantaran dirinya tak ingin harga gabah di tingkat petani semakin merosot.

Mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut menilai, harga beras milik petani di pasaran saat ini masih di bawah standar. Padahal musim panen raya tak lama lagi akan segera datang.

Atas dasar itu, Jokowi meminta segala polemik soal rencana impor beras dihentikan, agar tidak membuat harga beras dan gabah di tingkat petani semakin terpuruk.

"Oleh sebab itu saya minta segera hentikan perdebatan yang berkaitan dengan impor beras. Ini justru bisa membuat harga jual gabah di tingkat petani turun atau anjlok," seru Jokowi dalam siaran video pers Sekretariat Negara, Jumat (26/3/2021).

Di samping itu, dia juga memerintahkan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati untuk segera menyiapkan anggaran untuk Perum Bulog agar bisa menyerap gabah petani.

"Saya pastikan beras petani akan diserap oleh Bulog, dan saya akan segera memerintahkan Menteri Keuangan untuk membantu terkait anggarannya," ujar Jokowi.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Pengusaha Soal Impor Beras: Cari Waktu yang Pas

Presiden Jokowi meninjau Gudang Bulog di Kelapa Gading Jakarta Utara, Rabu (18/3/2020). (Biro Pers Kepresidenan)
Perbesar
Presiden Jokowi meninjau Gudang Bulog di Kelapa Gading Jakarta Utara, Rabu (18/3/2020). (Biro Pers Kepresidenan)

Sebelumnya, rencana pemerintah membuka keran impor beras di tengah panen raya menuai polemik. Kebijakan ini juga mengundang protes dari petani dan pengusaha beras.

Wakil Ketua Umum Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi) Jakarta Billy Haryanto mengatakan saat ini kondisi petani tengah terpuruk akibat wacana impor beras.

Di Tegal, misalnya, harga gabah kering anjlok dari Rp 5.000 per kg menjadi Rp 3.500 per kg. Untuk itu, jika keran impor beras akan dibuka, maka harus mencari waktu yang pas.

"Cari timing yang pas untuk membuat kebijakan strategis apalagi menyangkut petani. Jangan bicara data atau stok sesaat tapi efeknya kira-kira menguntungkan rakyat atau sekelompok orang," kata Billy di Jakarta, Rabu (24/3/2021).

Selain itu, kata Billy, pemerintah juga seharusnya bisa menghitung kebutuhan beras yang riil di lapangan. Berkaca dari tahun lalu, Billy mengatakan pemerintah tidak mengimpor beras karena kebutuhan sudah dicukupi dengan hasil petani lokal.

"Kami ini tidak anti impor. Boleh impor tapi waktunya janhan pas panen raya," kata Billy. 

Soal stok, Billy juga menyarankan agar Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi untuk berkoordinasi dengan Bulog.

"Hitung kebutuhan Bulog tiap tahun berapa. Wong sekarang ini Bulog pasarnya sudah ditutup pemerintah sendiri. Kalau impor lagi mau disalurkan ke mana itu beras. Yang sekarang ada saja bingung dilepas ke mana. Kalau saya jadi beliau, lebih terhormat mundur," ungkapnya.

Saat ini, lanjut Billy, seharusnya petani tengah menikmati hasil panen dengan harga gabah yang sepadan. Namun rencana impor beras dmembuat harga gabah anjlok.

"Jangan lagi panen malah ingin impor beras," tutup dia. 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya