Ombudsman Desak Pemerintah Tunda Impor Beras 1 Juta Ton, Apa Alasannya?

Oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana pada 24 Mar 2021, 13:30 WIB
Diperbarui 24 Mar 2021, 13:30 WIB
Ratusan Ribu Ton Beras Tak Terpakai di Gudang Bulog
Perbesar
Pekerja menata susunan karung beras di Gudang Bulog Divisi Regional DKI Jakarta, Kelapa Gading, Kamis (18/3/2021). Seperti diketahui, saat ini Perum Bulog masih memiliki stok beras impor dari pengadaan tahun 2018 lalu. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Liputan6.com, Jakarta Ombudsman RI menilai stok beras nasional Indonesia saat ini masih relatif aman, dan tidak perlu melakukan impor beras 1 juta ton berasdalam waktu dekat ini seperti yang dicanangkan pemerintah.

"Maka dengan ini Ombudsman menyatakan, meminta Kementerian Perekonomian melaksanakan rakortas menunda keputusan impor beras, hingga menunggu perkembangan panen dan pengadaan Bulog, paling tidak sampai awal Mei 2021," ujar Anggota Ombudsman Yeka Hendra Fatika dalam sesi teleconference, Rabu (24/3/2021).

Yeka mengatakan, saran Ombudsman itu didapat setelah menarik kesimpulan dari penelusuran data stok pangan dan potensi produksi beras nasional sepanjang 2021. Beberapa waktu lalu, pihaknya telah mendatangi Kementerian Perdagangan (Kemendag) meminta informasi terkait beras, yang katanya dikhawatirkan minim distribusi.

"Stok beras yang dimiliki Perum Bulog berdaarkan kemendag pertengahan Maret 2021 capai angka sekitar 883.585 ribu ton. Dengan rincian 859.877 ribu ton stok cadangan beras pemerintah (CBP), 23,7 ribu ton stok beras komersil," terang Yeka.

Dari jumlah CBP yang sekitar 859 ribu ton, terdapat stok beras potensi turun mutu sekitar 400 ribu ton. Sehingga stok beras yang layak konsumsi di sana kurang dari 500 ribu ton, atau sekitar 20 persen dari kebutuhan rata-rata beras nasional tiap bulan yang sekitar 2,5 juta ton.

Namun, Yeka mengingatkan, stok beras tak hanya disimpan di gudang milik Perum Bulog saja. Menurut informasi Kemendag per Februari 2021, ia menyebutkan, stok beras di lumbung pangan masyarakat tersedia 6,3 ribu ton.

Lalu di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) sekitar 30,6 ribu ton, hotel restoran dan kafe (horeka) 260,2 ribu ton, dan di rumah tangga 3,2 juta ton. Jika dijumlahkan, stok beras nasional total hampir mencapai 6 juta ton.

Jumlah itu bakal bertambah karena petani akan segera menghadapi musim panen raya. Sehingga stok beras nasional hingga April 2021 diperkirakan bakal mencapai 14,54 juta ton.

"Merujuk angka BPS 2021, luas panen padi Januari-April 2021 mencapai 4,8 juta ha. Tafsiran produksi sekitar 25,3 juta ton gabah kering, diperkirakan selama Januari-April hasilkan 14,54 juta ton beras. Atau naik 26,8 persen sekitar 3 juta ton beras dibanding tahun sebelumnya," papar Yeka.

"Jadi selain data stok beras 6 juta kurang, masih ada juga beras yang mau dipanen. Sampai April aja ada sekitar 14,54 juta ton," dia menegaskan.

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Temuan Ombudsman

Ratusan Ribu Ton Beras Tak Terpakai di Gudang Bulog
Perbesar
Pekerja saat mengangkut karung berisi beras yang belum terpakai di Gudang Bulog Divisi Regional DKI Jakarta, Kelapa Gading, Kamis (18/3/2021). Dirut Perum Bulog Budi Waseso menegaskan tahun ini Indonesia tidak akan mengimpor beras. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Selain itu, Yeka mengungkapkan, Ombudsman juga mendapat temuan dari data perdagangan beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) yang jadi barometer nasional melihat indikasi kelangkaan beras. Menurut dia, output normal beras yang ada di sana per harinya sekitar 3.000 ton.

Yeka mewajari beras terindikasi langka jika jumlah yang masuk hanya sekitar 1.000-2.000 ton. Namun saat ini PIBC bisa menyimpan stok beras per harinya hingga lebih dari 3.000 ton.

"Saat ini stok beras di PIBC cenderung masih normal dan lebih, yaitu sekitar 3.300 ton per hari. Jadi sebetulnya itu merupakan indikasi panen raya dan tidak ada kelangkaan," pungkas Yeka.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya