Sistem Pelabuhan Tak Efisien, Biaya Logistik di Indonesia Masih Tinggi

Oleh Liputan6.com pada 24 Mar 2021, 13:15 WIB
Diperbarui 24 Mar 2021, 13:15 WIB
20161018-Ekspor Impor RI Melemah di Bulan September-Jakarta
Perbesar
Aktivitas bongkar muat peti kemas di JICT Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (18/10). Penurunan impor yang lebih dalam dibandingkan ekspor menyebabkan surplus neraca dagang pada September 2016 mencapai US$ 1,22 miliar. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah mengakui bahwa biaya logistik di Indonesia masih sangat tinggi. Hal ini terjadi karena aktivitas bongkar muat di pelabuhan belim efisien.  

Staf Ahli Bidang Konektivitas, Pengembangan Jasa, dan Sumber Daya Alam Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Raden Edi Prio Pambudi mengatakan, laporan yang dilakukan oleh para pelaku usaha kepelabuhan mengenai biaya logistik yang tinggi tersebut benar. 

"Kami jujur aja mengamati bahwa kegiatan untuk kepelabuhanan ini memang cost-nya cukup tinggi. Kalau kami mendengar dari keluhan masyarakat yang mengirimkan barang lewat logistik pelabuhan itu kadang kala dia harus sampai (biaya) 24 persen tanggung di situ," tuturnya dalam webinar bertajuk Prospek Ekonomi dan Bisnis Logistik 2021, Rabu (24/3/2021).

Dia mengungkapkan, tingginya biaya logistik itu tak lepas dari belum efektifnya kegiatan bongkar muat di pelabuhan. Sehingga, pelaku usaha harus menanggung biaya tinggi.

"Nah sekarang juga banyak sekali platform di logistik. Ini kemudian pelaku usaha kesulitan yang bagaimana ini memilih platform yang baik untuk sistem konektivitas," imbuh dia.

Oleh karena itu, dia mendorong segera implementasi Ekosistem Logistik Nasional atau National Logistic Ecosystem (NLE) di seluruh pelabuhan Indonesia. Diharapkan melalui integrasi NLE bisa menurunkan biaya logistik Indonesia yang masih mahal.

"Ini (NLE) harusnya juga menjadi pemikiran sebagaimana mengefisiensikan pekerjaan dari pelabuhan. Karena memang terus terang negara kita di kepulauan. Laut itu harus jadi penghubung bukan pemisah, sehingga kapal bukan lagi sebagai alat transportasi tapi jadi jembatan," terangnya.

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Peluncuran Batam Logistic Ecosystem

Pelindo I
Perbesar
PT Pelabuhan Indonesia I (Persero) atau Pelindo 1 melakukan penandatanganan Perjanjian Kerjasama antara Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam

Sebelumnya, Pemerintah Jokowi resmi meluncurkan ekosistem logistik di Batam atau Batam Logistic Ecosystem (BLE) sebagai percontohan untuk ekosistem logistik nasional (National Logistic Ecosystem/NLE).

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan menargetkan untuk merampungkan pengembangan NLE di 8 pelabuhan Tanah Air pada 2021.

Dia pun mengancam akan membuldoser siapa saja yang menghalangi rencana duplikasi ekosistem logistik nasional tersebut.

"Ini kan ada 8 (pelabuhan) yang besar-besar. Di sini (Batam), Jakarta, (Tanjung) Priok nanti iya, juga Patimban, kemudian Tanjung Emas Semarang dan Surabaya, terus Medan, Makassar, pokoknya 8," tuturnya dalam sesi teleconference, pada Kamis 18 Maret 2021.

"Jadi kita mau itu tahun ini jadi. Kami sudah rapat, pokoknya kita bisa. Siapa yang menghalangi kita buldoser itu," tegas dia.

Luhut menjelaskan, platform NLE tersebut nantinya semua akan terintegrasi ke dalam satu sistem.

"Masalah kita di republik ini kita enggak pernah kerja holistik. Bandar udara sama. Supaya tertib. Kan terlalu banyak ketemu sama ini. Tadi kita buat efisiensi tapi efektif," ungkapnya.

Reporter: Sulaeman

Sumber: Merdeka.com

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya