Pertumbuhan Ekonomi RI Kuartal II Diprediksi 1,5 Persen Meski PPKM Mikro

Oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana pada 24 Mar 2021, 09:31 WIB
Diperbarui 24 Mar 2021, 09:31 WIB
FOTO: Indonesia Dipastikan Alami Resesi
Perbesar
Warga berada di sekitar Spot Budaya Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (5/11/2020). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia pada kuartal III-2020 minus 3,49 persen, Indonesia dipastikan resesi karena pertumbuhan ekonomi dua kali mengalami minus. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Liputan6.com, Jakarta Pemerintah telah memperpanjang kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berskala mikro yang dimulai sejak 23 Maret-5 April 2021. Perpanjangan PPKM mikro jilid keempat ini pelaksanaannya diperluas di 15 provinsi di Indonesia.

Kendati ada perpanjangan pembatasan, Ekonom Senior Centre of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II 2021 nanti akan tumbuh positif.

"Meskipun masih ada PPKM mikro, saya perkirakan pertumbuhan ekonomi pada triwulan II akan positif dikisaran 0,5 persen sampai dengan 1,5 persen," ujar Piter kepada Liputan6.com, Rabu (24/3/2021).

Proyeksi itu dikeluarkannya lantaran basis hitung pertumbuhan ekonomi kuartal II 2021 masih mengacu pada periode sama tahun sebelumnya. Seperti diketahui, pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II 2020 terkontraksi parah minus 5,32 persen akibat masa awal pandemi Covid-19.

"Pertumbuhan ekonomi triwulan II tahun 2020 sudah terkontraksi sangat dalam. Dasar hitung triwulan II 2021 menjadi lebih rendah. Sedikit saja terjadi pertumbuhan akan terhitung positif," jelas Piter.

Sebaliknya, dasar perhitungan pertumbuhan ekonomi kuartal I 2021 harus bersandar pada periode tahun sebelumnya yang masih bergerak positif. Piter menerangkan, pertumbuhan ekonomi 2,97 persen di kuartal I 2020 secara statistik digunakan sebagai basis hitung untuk kuartal I 2021.

"Karena basis hitungnya tinggi, maka meskipun pada triwulan I 2021 sudah ada perbaikan, tetapi tetap masih lebih rendah dibandingkan triwulan I 2020. Dengan demikian pertumbuhan ekonomi menjadi negatif," paparnya.

Oleh karenanya, ia senada dengan proyeksi Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I 2021 masih akan terkontraksi negatif di kisaran minus 1 persen hingga minus 0,1 persen.

"Saya sependapat dengan bu Sri Mulyani. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2021 akan lebih baik dibandingkan triwulan IV tahun lalu, tetapi masih akan negatif di kisaran minus 1 persen," tandas Piter.

2 dari 3 halaman

Prediksi Fitch: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tembus 5,3 Persen di 2021

FOTO: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di Kuartal III 2020 Masih Minus
Perbesar
Pemandangan deretan gedung dan permukiman di Jakarta, Rabu (1/10/2020). Meski membaik, namun pertumbuhan ekonomi kuartal III 2020 masih tetap minus. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Lembaga pemeringkat kredit internasional, Fitch Ratings, memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pulih secara bertahap mulai tahun ini. PDB Indonesia diramal menjadi 5,3 persen pada 2021 dan 6 persen pada 2022.

Angka prediksi tersebut dinilai sebagai pertumbuhan yang sangat baik mengingat pertumbuhan ekonomi Indonesia sempat terkontraksi 2,1 persen pada 2020 akibat pandemi Covid-19.   

Fitch Ratings melihat pemulihan tersebut didukung stimulus belanja pemerintah dan ekspor neto Indonesia, termasuk dari perbaikan harga komoditas.  

“Kami memperkirakan momentum pertumbuhan ekonomi akan didukung lebih lanjut dalam waktu dekat oleh langkah-langkah bantuan fiskal dan belanja infrastruktur,” tulis Fitch dalam rilisnya.   

Pemerintah RI menurut Fitch Ratings sudah memulai program vaksinasi pada bulan Januari dan bertujuan untuk mencapai kekebalan kelompok pada kuartal I di 2022. Target ini pun dinilai optimistis.

Hal ini diamini Menko Perekonomian RI, Airlangga Hartarto. Dia mengatakan jika pemerintah akan menjaga momentum pemulihan ekonomi dengan menjaga keberhasilan PPKM Mikro untuk menekan kasus aktif yang saat ini sudah single digit.

"Selain itu juga percepatan vaksinasi, salah satunya dengan vaksin gotong royong,” ungkap  Airlangga yang juga Ketua KPCPEN menyikapi penilaiaan Fitch tersebut.  

Penerapan UU Cipta Kerja yang dilakukan pemerintah Indonesia, diyakini akan menjadi pendorong pemulihan ekonomi Indonesia.  

Dalam jangka menengah, Fitch berharap pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mendapat dorongan dari penerapan Omnibus Law UU Cipta Kerja, yang bertujuan untuk menghilangkan beberapa hambatan investasi yang sudah berlangsung lama.  

Selama ini Fitch melihat pengeluaran pemerintah tetap difokuskan untuk mengurangi dampak akibat krisis kesehatan.

Sekitar 4,2 persen dari PDB Indonesia yang dialokasikan pada tahun 2021 untuk langkah-langkah kesehatan dan bantuan guna  mendukung rumah tangga dan bisnis. Ini meningkat jika dibandingkan 3,8 persen dari PDB yang dicairkan pada tahun 2020.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihand di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓