Harga Minyak Tergelincir Karena Kekhawatiran Turunnya Permintaan BBM

Oleh Tira Santia pada 18 Mar 2021, 08:00 WIB
Diperbarui 18 Mar 2021, 08:00 WIB
Ilustrasi tambang migas
Perbesar
Ilustrasi tambang migas (iStockPhoto)

Liputan6.com, Jakarta - Harga Minyak tergelincir untuk hari keempat pada perdagangan Rabu (Kamis waktu Jakarta) dibebani oleh kekhawatiran turunnya permintaan bahan bahah minyak (BBM) di Eropa dan meningkatnya persediaan minyak mentah AS.

Dikutip dari CNBC, Kamis (18/3/2021), harga minyak mentah Brent turun 44 sen atau 0,6 persen menjadi USD 67,98 per barel. Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup turun 20 sen atau 0,3 persen pada USD 64,60 per barel.

Harga minyak tergelincir ke posisi terendah sepanjang sesi perdagangan setelah data pemerintah menunjukkan persediaan minyak mentah AS naik 2,4 juta barel pekan lalu. Ini menyusul laporan industri Selasa memperkirakan penurunan 1 juta barel. Analis memperkirakan kenaikan 3 juta barel.

Beberapa negara Eropa telah menghentikan penggunaan vaksin COVID-19 AstraZeneca karena kekhawatiran akan kemungkinan efek samping.

Jerman mengalami peningkatan kasus virus Corona, Italia memberlakukan penguncian Paskah secara nasional dan Prancis berencana untuk memberlakukan pembatasan yang lebih keras.

"Penangguhan tidak akan membantu pemulihan ekonomi dan bahan bakar," kata Stephen Brennock dari Pialang Minyak PVM.

Analis menyatakan persediaan minyak mentah AS telah meningkat selama empat minggu berturut-turut setelah beroperasinya kilang di wilayah selatan yang  terhambat oleh cuaca dingin yang tidak biasa dan parah pada bulan lalu. Perusahaan minyak perlahan memulai kembali aktivitas dan diharapkan pulih selama beberapa minggu ke depan.

Harga minyak telah pulih dari posisi terendah bersejarah yang dicapai tahun lalu karena permintaan anjlok, didukung oleh rekor pemotongan produksi minyak oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya. Brent mencapai USD 71,38 pada 8 Maret, tertinggi sejak 8 Januari 2020.

Kenaikan dolar AS menjelang pengumuman Federal Reserve AS juga merupakan hambatan bagi harga minyak karena dolar yang lebih kuat membuat minyak mentah lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Harga Minyak Tergelincir Imbas Pemulihan Ekonomi Eropa Kian Tak Pasti

Ilustrasi tambang migas
Perbesar
Ilustrasi tambang migas (iStockPhoto)

Sebelumnya, Harga minyak turun pada hari Selasa, memperpanjang penurunan menjadi tiga hari berturut-turut, karena meningkatnya stok di Amerika Serikat menambah risiko pemulihan permintaan setelah negara-negara termasuk Jerman dan Prancis menghentikan vaksinasi COVID-19.

Dikutip dari CNBC, Rabu (17/3/2021), harga minyak Brent turun 49 sen menjadi menetap di USD 68,39 per barel. Minyak mentah AS turun 59 sen, atau 0,9 persen menjadi USD 64,80 per barel.

Jerman, Prancis, dan Italia berencana untuk menangguhkan suntikan AstraZeneca COVID-19 setelah laporan kemungkinan efek samping yang serius, meskipun Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan tidak ada kaitan yang pasti dengan vaksin tersebut.

Langkah-langkah ini memperdalam kekhawatiran tentang lambannya vaksinasi di Uni Eropa, yang dapat menunda pemulihan ekonomi dari pandemi di salah satu daerah yang paling terpukul.

Pandemi meredupnya permintaan minyak tetapi harga telah pulih ke tingkat yang terlihat sebelum krisis kesehatan global, hanya untuk dibatasi karena peluncuran vaksinasi lambat di sebagian besar negara.

Di Amerika Serikat, stok juga meningkat karena "pembekuan besar" bulan lalu yang menghentikan operasi penyulingan yang membutuhkan waktu untuk kembali sepenuhnya.

"Arah jangka pendek akan ditentukan oleh laporan inventaris mingguan AS," kata analis PVM dalam sebuah catatan, menambahkan kekuatan dolar terhadap mata uang lain membebani harga minyak.

American Petroleum Institute, sebuah kelompok industri, akan melaporkan tingkat tumpukan stok minyak mentah pada hari Selasa, diikuti oleh angka resmi dari Departemen Energi pada hari Rabu, dengan analis mengharapkan kenaikan seminggu lagi.

Persediaan minyak mentah meningkat 12,8 juta barel dalam sepekan hingga 5 Maret, bertentangan dengan ekspektasi analis untuk kenaikan kurang dari 1 juta barel. HAl ini menjadi sentimen akhir harga minyak.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓