Ini 10 Prioritas Indonesia Menuju Industri 4.0

Oleh Liputan6.com pada 15 Mar 2021, 13:20 WIB
Diperbarui 15 Mar 2021, 15:47 WIB
Pameran Manufacturing Indonesia
Perbesar
Pengunjung melihat peralatan industri yang dipamerkan dalam Manufacturing Indonesia 2019 di JIExpo, Kemayoran, Jakarta, Rabu (4/12/2019). Pameran manufaktur internasional terbesar di Indonesia tersebut berlangsung 4-7 Desember 2019. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan Indonesia telah menetapkan 10 prioritas nasional menuju Indonesia 4.0 untuk sektor manufaktur.

Hal tersebut diungkapkan dalam Web Summit NEC Industry 4.0. Dengan mengusung tema What's Next for Digital Transformation in Manufacturing Industry 4.0.

Sepuluh prioritas tersebut antara lain Perbaikan alur aliran material; Mendesain ulang zona industry; Mengakomodasi standar sustainability; Pemberdayaan UMKM; Membangun infrastruktur digital nasional.

Kemudian, Menarik investasi asing; Peningkatan kualitas SDM; Pembentukan ekosistem inovasi; Menerapkan insentif investasi teknologi; dan Harmonisasi kebijakan.

“Kami juga aktif berkoordinasi dan membangun jaringan kerja sama antar pemangku kepentingan untuk mempercepat transformasi ke industri 4.0. Kementerian telah menginisiasi ekosistem industri 4.0 yang disebut dengan Ekosistem Indonesia 4.0 (SINDI 4.0) sebagai wadah sinergi dan kolaborasi antara pemerintah dan sektor lain, termasuk pelaku industri, akademisi dan R&D, penyedia teknis, konsultan dan lembaga keuangan di dalam satu ekosistem," kata dia dikutip Senin (15/3/2021).

"Dengan semakin banyaknya perusahaan yang melakukan transformasi digital, Kementerian Perindustrian optimis pada tahun 2021 industri manufaktur di Indonesia akan terus berkembang,” lanjut Menperin.

Sementara itu, Direktur Operasi NEC Indonesia Edi Rachmadi mengatakan, industri 4.0 yang juga dikenal dengan transformasi industri 4.0 akan membantu sektor manufaktur dalam menjawab tantangan yang timbul dari pandemi COVID-19 dengan menyesuaikan dan menerapkan protokol kesehatan, mengoptimalkan dan meningkatkan manajemen proses dan sumber daya manusia melalui sarana digital.

Semakin banyak perusahaan manufaktur telah menerapkan atau menerapkan sejumlah teknologi baru seperti kecerdasan buatan (AI), Internet of Things (IoT), big data, dan analitik untuk mendorong pertumbuhan dan profitabilitas.

2 dari 3 halaman

Percepatan Digitalisasi

Sebuah pabrik manufaktur robot Siasun. (Xinhua/Siasun)
Perbesar
Sebuah pabrik manufaktur robot Siasun. (Xinhua/Siasun)

Dengan percepatan digitalisasi dan penyebaran IoT di industri manufaktur, aspek keselamatan, efisiensi pemeliharaan, dan kualitas produk dapat divisualisasikan dan dianalisis berdasarkan data yang dikumpulkan oleh sejumlah besar sensor yang dipasang di berbagai fasilitas dan lokasi pabrik.

“NEC yakin peningkatan penggunaan berbagai jenis data digital akan menciptakan solusi baru yang lebih bernilai. Perusahaan yang dapat memanfaatkan data untuk memberikan nilai yang lebih besar akan menonjol di era baru ini," kata dia.

Menurut dia, operasi sektor manufaktur sangat kompleks karena melibatkan interaksi manusia dan mesin. Produsen di Indonesia harus berinvestasi dalam transformasi digital dan mengoptimalkan prosesnya agar dapat melanjutkan perkembangannya selama dan setelah pandemi ini.

"Dengan menggunakan AI di bidang manufaktur, produsen mendapatkan kemampuan untuk membuat keputusan penting berdasarkan data waktu nyata (real-time) dan meningkatkan proses produksinya. Pengendalian kualitas (quality control) dan produktivitas keseluruhan juga akan meningkat secara signifikan sebagai hasilnya. NEC ingin membantu sektor manufaktur Indonesia berhasil dan meningkatkan reputasi Indonesia sebagai pusat manufaktur,” tutup Edi Rachmadi.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓