Diburu Elon Musk, Miliarder Bill Gates Justru Ogah Beli Bitcoin dan Ini Alasannya

Oleh Liputan6.com pada 12 Mar 2021, 21:00 WIB
Diperbarui 12 Mar 2021, 21:00 WIB
Bill Gates
Perbesar
Pendiri perusahaan raksasa Microsoft, Bill Gates (AFP PHOTO/JOSHUA LOTT)
Liputan6.com, Jakarta Saat Miliarder Elon Musk belakangan gencar memborong Bitcoin atau pun mata uang kripto lainnya, beda lagi dengan mantan CEO Microsoft, Bill Gates. Dia justru getol menolak transaksi Bitcoin, salah satunya karena alasan merusak lingkungan. 
 
Dikutip dari Fox Business, Jumat (12/3/2021) dalam wawancaranya dengan The New York Times, orang terkaya keempat di dunia ini menyebut Bitcoin diproduksi melalui proses-proses yang dapat menyumbang perubahan iklim.
 
"Bitcoin menggunakan lebih banyak listrik untuk setiap transaksi dibanding metode lain yang kita semua ketahui, ini bukan sebuah masalah iklim yang bagus," sebut Bill Gates.
 
Gates menyebut proses penambangan bitcoin atau menghasilkan mata uang digital menggunakan daya komputer yang kuat untuk menyelesaikan persamaan matematika yang sangat kompleks. Proses ini dinilai telah menghabiskan banyak listrik.
 
Sebuah penelitian terbaru dilakukan oleh Cambridge University di Inggris menemukan bahwa penambangan Bitcoin rupanya menghabiskan listrik lebih banyak dibanding konsumsi listrik di Argentina. Ini bisa lebih besar lagi seiring meningkatnya popularitas yang mendorong meningkatnya transaksi Bitcoin.
 
Meski begitu, Bill Gates tidak menutup kemungkinan untuk menyetujui keberadaan Bitcoin selama industri ini dapat merubah sistem produksinya agar lebih ramah lingkungan.
 
Terutama jika penambangan Bitcoin dapat mendukung penggunaan energi hijau. Harusnya Bitcoin tidak lagi menggunakan listrik dari batu bara atau pun bahan bakar lainnya penghasil emisi CO2 tinggi yang merusak lingkungan.
 
"Jika itu adalah listrik ramah lingkungan dan tidak mengurangi kegunaan lain, pada akhirnya mungkin tidak apa-apa,” tambah Gates.
2 dari 3 halaman

Tren Bitcoin

Bitcoin
Perbesar
Ilustrasi Bitcoin (iStockPhoto)
Dikutip dari CNBC, Bitcoin telah mendulang popularitas besar setelah mencatatkan performa positif dalam setahun terakhir. Selama tahun 2021 saja, harga Bitcoin sudah naik hingga 80 persen.
 
Jika ditarik lebih jauh lagi, dalam 12 bulan terakhir selama perekonomian melemah karena pandemi Covid-19, harga Bitcoin justru meroket 570 persen. Menjadikannya mata uang kripto paling populer saat ini. 
 
Kinerja Bitcoin makin menggila setelah mata uang kripto yang sedang dihadang banyak investor kelas kakap ini berhasil menyentuh rekor kapitalisasi USD 1 triliun atau lebih dari 14 ribu triliun berulang kali.
 
Pada tanggal 19 Februari lalu, Bitcoin untuk pertama kalinya menyentuh rekor tersebut, sebelum akhirnya turun dan kembali mencapai rekor itu lagi pada tanggal 9 Maret kemarin.
 
Dikutip dari Coindesk, harga Bitcoin dalam 24 jam pada penutupan perdagangan 11 Maret telah naik 2,11 persen ke harga USD 57.572 atau setara lebih dari Rp 800 juta. Ini masih lebih kecil dibanding rekor harga tertinggi yang pernah dicatatkan Bitcoin, yaitu USD 58.332.
 
 
Reporter: Abdul Azis Said
 
3 dari 3 halaman

Saksikan Video Ini

Lanjutkan Membaca ↓