Indonesia Re Bangun Ekosistem Asuransi Berkelanjutan

Oleh Liputan6.com pada 06 Mei 2021, 19:10 WIB
Diperbarui 06 Mei 2021, 21:47 WIB
PT Reasuransi Indonesia Utama (Persero)
Perbesar
Acara Indonesia Re Insight oleh PT Reasuransi Indonesia Utama (Persero) atau Indonesia Re.

Liputan6.com, Jakarta - PT Reasuransi Indonesia Utama (Persero) atau Indonesia Re menyelenggarakan event Indonesia Re Insight yang bertempat di Graha CIMB di Jakarta pada tanggal 6 Mei 2021.

Dengan mengusung tema Redefining Growth, event ini dirancang sebagai platform komunikasi yang berkesinambungan dengan para Ceding Company dalam rangka mendukung transformasi bisnis, khususnya di area teknik dan operasional.

Corporate Solution Division Head Indonesia Re Winarko menyampaikan bahwa melalui Indonesia Re Insight, pihaknya berharap mendapatkan masukan dari para ceding company sebagai upaya Indonesia Re untuk terus meningkatkan pelayanan bagi industri asuransi nasional.

"Melalui event strategis ini, kami mendorong adanya dialog dan masukan kepada kami, khususnya di tengah kondisi yang serba tak pasti seperti saat ini akibat pandemi," dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (6/5/2021).

"Dengan demikian, kami dapat berbenah diri dan memberikan layanan yang lebih baik lagi kepada para ceding company" tutur Winarko.

Diikuti oleh 75 perusahaan asuransi umum di Indonesia, Indonesia Re Insight akan turut diisi oleh Aries Heru Prasetyo, MM, PhD, Co-Founder Crisis Management Centre & Vice Dean, PPM School of Management, selaku pembicara kunci yang akan membawakan materi bertajuk Achieving Operational Resilience for Business Continuity.

Sementara itu, Aries Heru Prasetyo menuturkan, pandemi Covid-19 membuat tantangan yang dihadapi dunia usaha kian rumit, karena korporasi tak hanya dituntut untuk dapat bertahan dan beradaptasi, tapi juga berinovasi sekaligus tetap dapat meruap laba.

"Di 2021-2022, dunia usaha harus mengantisipasi jika wabah ini masih belum sirna. Caranya, dengan memantabkan ketahanan di bidang keuangan, operasional, dan komersial," tukasnya.

2 dari 3 halaman

Industri Asuransi dan Reasuransi Mulai Tumbuh Kembali

Ilustrasi Asuransi (iStockphoto)
Perbesar
Ilustrasi Asuransi (iStockphoto)

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso, mengatakan bahwa industri asuransi masih mencatatkan pertumbuhan positif di tengah pandemi Covid-19 ini. Hal tersebut terlihat dari pengumpulan premi baik asuransi umum, kesehatan maupun reasuransi yang maish tumbuh tinggi.

“Di industri asuransi tercatat menghimpun premi sebesar Rp 23,1 triliun. Rinciannya asuransi jiwa di angka Rp 13,7 triliun, sedangkan asuransi umum serta reasuransi di angka Rp 9,4 triliun,” kata Wimboh dalam konferensi pers perkembangan kebijakan dan kondisi terkini sektor jasa keuangan, Kamis (27/8/2020).

Ia menyebut premi asuransi umum dan reasuransi pada Juli sudah tumbuh 2,22 persen setelah sebelumnya pada Juni terkontraksi sebesar 2,32 persen. Namun pertumbuhan premi asuransi jiwa pada Juli masih mengalami kontraksi sebesar 10,69 persen. Sedangkan pada Juni kemarin terkontraksi 10 persen.

Bahkan Wimboh menambahkan, asuransi umum dan reasuransi sudah mulai berada pada zona ekspansi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non-Bank OJK Riswinandi sebelumnya. Menurut Riswinandi, permintaan masyarakat terhadap produk asuransi diprediksi bakal meningkat setelah pandemi Covid-19 berakhir.

Hal itu tercermin dari jumlah peningkatan premi asuransi di China, negara yang pertama kali mengalami wabah Covid-19, hingga 2 kali lipat yang menunjukkan masyarakat mulai berpikir untuk berjaga-jaga urusan masa depannya.

"Ini belajar dari China, pandemi ini membuat orang menjadi risk averse, dimana 6 bulan setelah pandemi berakhir, terjadi peningkatan premi hingga 2 kali lipat dan ini diharapkan setelah selesai (di Indonesia) kita harap (juga) demikian," ujar Riswinandi pada Senin 24 Agustus 2020.

Riswinandi menyebutkan, terdapat 3 tahap yang akan dilalui industri asuransi saat dan pasca pandemi. Pertama, tahap pengurangan permintaan, karena daya beli masyarakat menurun, mereka tidak dapat membeli premi asuransi.

Kemudian kedua ialah tahap dimana nasabah melakukan redeem asuransi untuk mendukung kebutuhan keuangan.

"Hal ini terlihat dari data AAJI dimana industri asuransi jiwa membayarkan total klaim terkait Covid-19 per Maret hingga Juni 2020 yang mencapai Rp 216 miliar. Selain itu, untuk hal-hal yang terkait Covid-19 lainnya sudah dibayarkan sebanyak 1.642 klaim," papar Riswinandi.

Dan tahap terakhir ialah tahap dimana pandemi berakhir, ekonomi pulih dan masyarakat mulai menyadari pentingnya asuransi untuk melindungi diri mereka ke depan, seperti yang dijabarkan sebelumnya.

Riswinandi mendorong agar masyarakat mengambil polis asuransi sebagai bentuk proteksi. Namun, masyarakat juga harus jeli sebelum memilih dan mendalami informasi sebelum memilih polis. Begitu pula perusahaan asuransi yang harus memberi edukasi dengan baik.

"Kami dorong, hati-hati memilih produk asuransi. Dengar, dalami dan minta penjelasan kepada para agen penjual sedalam-dalamnya, dan kewajiban industri untuk memberi kewajiban sebaik-baiknya," katanya. 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓