Bos Google Digaji Rp 4 Triliun Setahun, CEO dengan Bayaran Termahal di Dunia

Oleh Liputan6.com pada 08 Mar 2021, 21:00 WIB
Diperbarui 08 Mar 2021, 21:00 WIB
Sundar Pinchai, CEO Google (AFP)
Perbesar
Sundar Pinchai, CEO Google (AFP)
Liputan6.com, Jakarta Sebagai orang nomor satu di Alphabet, induk dari Google, tidak heran kalau Sundar Pichai mengantongi gaji selangit. Riset terbaru menunjukkan ia mendapat gaji sekitar USD 280,6 juta atau setara Rp 3,9 triliun pada 2019.
 
Dikutip dari berbagai sumber Businessinsider, Senin (8/3/2021), riset tersebut dirilis As You Sow, sebuah NGO yang aktif mengadvokasi para pemegang saham.
 
Dalam laporannya menunjukkan, bos Google telah dibayar 95 persen lebih tinggi dari gaji seharusnya. Pichai harusnya hanya mendapat gaji sekitar USD 14 juta atau Rp 200 miliar.
 
Laporan tersebut juga menunjukkan gaji Pichai bahkan 1.000 kali lipat lebih banyak dibanding rata-rata gaji karyawan Google yaitu USD 258,7 ribu atau Rp 3,7 miliar. 
 
Dengan gaji selangit itu, Pichai berada di peringkat pertama sebagai CEO dengan bayaran paling mahal di dunia.
 
Selain itu, masuk juga nama bos Microsoft, Satya Nadella dalam daftar 25 teratas sekaligus mewarnai masuknya bos perusahaan teknologi lainnya ke daftar ini.
 
Bos Microsoft ini berada di peringkat 24 sebagai CEO dengan gaji tertinggi. Tahun 2019, Nadella mengantongi gaji USD 42,9 juta setara Rp 613 miliar.
 
Gaji yang didapatkan ini dinilai 65 persen lebih tinggi dari gaji seharusnya yaitu USD 27,9 juta setara Rp 399 miliar.
 
Jika dibandingkan dengan gaji rata-rata Karyawan Microsoft sebesar USD 172,5 ribu atau Rp 2,4 miliar, Nadella mendapat gaji 249 kali lipat lebih tinggi dibanding rata-rata karyawannya.
 
Selain itu, dalam laporan berjudul "100 most Overpaid CEO" tersebut, As You Sow juga melaporkan pada tahun 2019, rata-rata gaji 100 CEO teratas menyentuh nilai USD 21,3 juta setara Rp 304 miliar.  Gaji itu naik 14 persen dari tahun sebelumnya.
2 dari 3 halaman

Gaji Besar Kinerja Jeblok

Pengertian Resesi
Perbesar
Ilustrasi Grafik Resesi Ekonomi Credit: pexels.com/energepic.com
As You Sow telah melakukan riset terhadap gaji CEO selama lima tahun terakhir sejak 2015. Dalam riset terbaru mereka juga menemukan perusahaan yang secara konsisten memasukkan CEO mereka ke dalam daftar bos dengan gaji termahal justru cenderung memiliki kinerja keuangan yang jeblok. 
 
Dikutip dari BusinessInsider, ada 9 CEO yang selalu masuk daftar teratas penerima gaji tertinggi selama 2015 hingga 2019 berturut-turut, yang jika diakumulasikan gaji mereka sekitar USD 2 miliar setara Rp. 28,6 triliun.
 
Namun, analisis As You Sow menemukan kesembilan perusahaan tersebut justru memiliki nilai pengembalian pemegang saham yang lebih rendah dibanding perusahaan kategori S&P 500 lain yang CEOnya justru memiliki gaji jauh lebih kecil dan belum pernah masuk daftar tersebut.
 
Sembilan perusahaan tersebut ialah, Discovery, Walt Disney, Comcast, AT&T, Goldman Sachs, IBM, McKesson, Ralph Lauren, and Regeneron. Kondisi ini bisa jadi mengindikasikan buruknya beberapa aspek dalam sistem kerja perusahaan.
 
"Akuntabilitas yang buruk, tata kelola yang lemah, dan kurangnya perhatian terhadap kepentingan pemegang saham," tulis Rosanna Landis Weaver dalam laporan tersebut.
 
Bukan hanya itu, tingginya gaji CEO di beberapa perusahaan berkinerja jeblok ini menjadi catatan khusus terutama karena ketimpangan yang sangat tinggi antara gaji CEO dengan rata-rata karyawannya. 
 
"Sementara itu, seperti yang dicatat laporan ini, upah pekerja sekarang mewakili bagian ekonomi yang paling rendah sejak 1940-an. Krisis ketidaksetaraan ini membuat tindakan terhadap gaji CEO menjadi semakin penting," sebut Rober Reich, mantan Menteri Ketenagakerjaan AS.
 
Reporter: Abdul Azis Said
3 dari 3 halaman

Saksikan Video Ini

Lanjutkan Membaca ↓