Saran Pengusaha Agar Stok dan Harga Pangan Aman Terkendali

Oleh Andina Librianty pada 05 Mar 2021, 17:15 WIB
Diperbarui 05 Mar 2021, 17:15 WIB
BI Prediksi Inflasi Capai 0,42 Persen pada Januari 2020
Perbesar
Aktivitas jual beli beli di pasar kawasan Glodok, Jakarta, Selasa (28/1/2020). Bank Indonesia memproyeksikan terjadi inflasi di Januari 2020 bersumber dari beberapa komoditas pangan yang mengalami tekanan harga, di antaranya telur ayam akan berkontribusi juga ke inflasi. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia, Roy Nicholas Mandey, menyaranan pemerintah untuk membuat roadmap distribusi bahan pokok (bapok) nasional. Melalui roadmap ini, pemerintah menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak untuk membuat distribusi bahan pokok menjadi lebih baik.

"Kolaborasi dan sinergi menjadi kata kunci di era pandemi saat ini. Bagaimana kolaborasi antar Kementerian/Lembaga dan semu pemangku kepentingan termasuk swasta, ritel dan lainnya," jelas Roy dalam Diskusi Panel Ketersediaan dan Stabilisasi Harga Bapok pada Jumat (5/3/2021).

"Kita membuat roadmap ini karena kalau berdiri sendiri tidak balance, dan data tidak akurat," sambungnya.

Selain itu, ia juga menyarankan pemerintah menerapkan digitalisasi total untuk e-distribution bahan pokok. Roy pun menilai agar Indonesia bisa mengadopsi teknologi pangan yang lebih maksimal dan konkret, bukan hanya sekedar konsep.

Selain itu, pemerintah juga harus bisa mengatasi kartel di rantai pasokan bahan pokok.

"Bagaimana penegakan hukum ini sangat diharapkan karena masih ada kartel-kartel tersebut," tuturnya.

Lebih lanjut, Roy mengatakan dibutuhkan kerja sama yang baik dari semua pihak untuk memperlancar proses distribusi barang termasuk bahan pokok.

"Proses distribusi terdiri dari hulu dan hilir. Tidak bisa dikatakan distribusi hanya pekerjaannya peritel, karena peritel itu yang menjual ke konsumen. Jadi perlu orkestra yang mengatur proses di hulu termasuk logistiknya, dan kami yang berada di hilir," ungkapnya.

 

**Ibadah Ramadan makin khusyuk dengan ayat-ayat ini.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Harga Cabai Naik Tak Terkendali, Pemerintah Dinilai Tak Paham Desain Pangan

FOTO: Harga Cabai Rawit Merah Tembus Rp 120 Ribu per Kg
Perbesar
Tumpukan cabai rawit merah yang dijual di Pasar Senen, Jakarta, Kamis (4/3/2021). Naiknya harga cabai rawit merah di pasaran saat ini disebabkan oleh produksi yang sangat rendah sehingga pasokan di pasaran tidak bisa memenuhi tingginya permintaan. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Harga sejumlah bahan pangan terus mengalami kenaikan, terutama cabai rawit merah. Dalam tiga bulan terakhir, harganya naik tak terkendali hingga kini di kisaran Rp 120 ribu hingga Rp 125 ribu.

Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI), Abdullah Mansuri, menilai bahwa harga cabai rawit merah yang terus mengalami kenaikan ini telah terjadi selama beberapa bulan terakhir. Ia melihat pemerintah belum melakukan upaya maksimal untuk mengatasinya.

Dibandingkan bahan pangan lain, kenaikan harga cabai rawit merah dinilai paling mengkhawatirkan karena sejak Januari 2021 kenaikannya sudah tak terkendali, bisa mencapai dua ribu hingga lima ribu.

"Persoalannya, pemerintah tidak mengerti desain pangan dan tidak punya roadmap pangan yang baik. Jadi harus ada pemetaan wilayah produksi cabai rawit dimana saja, lalu didampingi diberikan subsidi, sehingga tidak terjadi lagi panen raya yang tidak terserap," kata Mansuri saat dihubungi Liputan6.com pada Jumat (5/3/2021).

Kenaikan harga ini disebabkan dua faktor. Pertama karena setelah panen raya tahun lalu, harga cabai justru turun. Hal ini membuat petani enggan menanam lagi, dan beralih ke tanaman lain.

Permasalahan ini juga ditambah dengan faktor cuaca dengan hujan lebat, bahkan menyebabkan banjir di beberapa wilayah.

"Ditambah curah hujan tinggi, sehingga semakin membuat produksi dan permintaan tidak seimbang. Cabai ini adalah komunitas yang hampir wajib dan multiplier effect-nya besar mulai dari warung rumahan sampai pedagang-pedagang kecil," jelas Mansuri.

Oleh sebab itu, jika permasalahan cabai ini tidak segera diatasi, harganya kemungkinan akan terus melambung hingga Ramadan dan Lebaran. Ia pun berharap pada bulan ini petani cabai bisa panen raya.

"Kalau bulan ini panen raya, bisa dicegah kenaikan harga cabai rawit. Pada Ramadan dan Lebaran itu beberapa komoditas biasanya akan naik, jadi produksinya harus aman. Kalau tidak aman maka akan ada kenaikan harga," tuturnya. 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Cuaca Ekstrem, Harga Cabai Rawit di Pasar Kramat Jati Masih Tinggi

FOTO: Harga Cabai Rawit Merah Tembus Rp 120 Ribu per Kg
Perbesar
Pedagang merapikan cabai rawit merah yang dijual di Pasar Senen, Jakarta, Kamis (4/3/2021). Naiknya harga cabai rawit merah di pasaran saat ini disebabkan oleh produksi yang sangat rendah sehingga pasokan di pasaran tidak bisa memenuhi tingginya permintaan. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Harga komoditas pangan pada bulan Februari 2021 terpantau belum stabil. Hal ini dikarenakan beberapa faktor, seperti pandemi dan cuaca ekstrem yang melanda hampir seluruh daerah di Indonesia.

Menurut pantauan Liputan6.com di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur, Rabu (17/2/2021), harga beberapa bahan pangan seperti bawang putih dan cabai rawit merah terpantau naik.

Untuk bawang putih, harganya tidak stabil dan cenderung naik turun dengan rata-rata Rp 30.000 hingga Rp 35.000 per kilogramnya.

"Cabai rawit merah kita jualnya Rp 83 ribu per kilogram," ujar salah satu pedagang sayur mayur di Pasar Kramat Jati, Suhadi, kepada Liputan6.com.

Komoditas lain seperti bawang merah masih berada di kisaran harga Rp 36.000 per kilogramnya. Lalu untuk ayam ras harganya bervariasi. Untuk ukuran kecil dipatok Rp 28 ribu per ekor, dan untuk ukuran besar dipatok Rp 30 ribu per ekor.

Harga daging sapi juga sempat mengalami peningkatan karena adanya Hari Raya Imlek 2021 menjadi Rp 126.000 per kilogram.

"Ya, tapi sekarang sudah turun, sekarang Rp 110.000 per kilogram," ujar salah satu pedagang daging, Wahidin.

Kendati belum stabil, pemerintah menegaskan akan menjamin stok dan harga pangan terutama menjelang Ramadhan dapat tercukupi dengan baik. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, beberapa waktu lalu, mengatakan akan mengintervensi distribusi pangan sekaligus melakukan operasi pasar guna menstabilkan harga dan menekan laju inflasi. 

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya