3 Stategi Baru Pemerintah Pasarkan Destinasi Wisata Indonesia

Oleh Tira Santia pada 04 Mar 2021, 12:40 WIB
Diperbarui 04 Mar 2021, 12:40 WIB
Pulau Komodo
Perbesar
Pulau Komodo di kawasan Taman Nasional Komodo, NTT. (dok.Instagram @pulaukomodotour/https://www.instagram.com/p/BoD9yfCB0zp/Henry

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menyebut sektor pariwisata dan ekonomi kreatif menjadi salah satu sektor yang terdampak pandemi Covid-19 cukup parah. Ini lantaran beberapa sektor pariwisata banyak yang ditutup dan dibatasi.

Kendati begitu, Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf Nia Niscaya mengatakan Kemenparekraf terus berupaya menjadikan Indonesia sebagai destinasi wisata utama di Asia Pasifik, dengan meningkatkan dan membangun strategi pemasaran yang lebih baik lagi.

“Tentunya ingin menjadikan Indonesia sebagai destinasi utama di Asia Pasifik. Bagaimana caranya? kita melalui quality tourism yang berkualitas, artinya mengejar orang yang tinggalnya lebih lama sehingga spendingnya lebih besar dan dari sisi destinasinya super prioritas,” kata Nia dalam Webinar Membangkitkan Optimisme Industri Pariwisata Nusantara – FORWADA, Kamis (4/3/2021).

Lebih lanjut Nia menjelaskan ada tahapan-tahapan dalam melakukan pemasaran. Pertama adalah building confidence and gaining trust. Ini adalah membangun kepercayaan dari sisi industrinya bahwa Indonesia siap menghadapi new normal dan juga membangun kepercayaan dari market.

“Karena dengan trend sekarang itu bukan destinasinya cukup menarik atau tidak, tetapi poin yang utama bagaimana protokol kesehatan di situ,” ujarnya.

Kini terjadi perubahan pola wisatawan, misalnya wisatawan sekarang tidak berwisata ke tempat-tempat yang ramai karena mengkhawatirkan kondisinya. Mereka lebih banyak mencari tempat yang menerapkan protokol kesehatan dan berorientasi alam terbuka serta adventure.

Bahkan dari sisi penerbanganpun sebagian orang lebih suka direct flight. Atau menyewa sendiri pesawat khusus keluarga yang tidak bercampur dengan penumpang lain.

Tahap kedua adalah soft selling. Setelah memulihkan kepercayaan pasar, Kemenparekraf akan melihat data-data dari sosial media, foto-foto asing yang tersebar di dunia maya, serta dari mitra-mitra Kemenparekraf di luar negeri untuk mencari tahu persepsi mereka terkait pariwisata Indonesia.

 

**Ibadah Ramadan makin khusyuk dengan ayat-ayat ini.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Hard Selling

Menikmati Eksotisme Pemandangan Alam Pulau Rinca
Perbesar
Pemandangan sebuah teluk di Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo, NTT, Minggu (14/10). Selain terkenal dengan komodonya, Pulau Rinca memiliki pemandangan alam yang indah dan memikat wisatawan. (Merdeka.com/Arie basuki)

Setelah persepsi pasar terkait Indonesia bagus, maka Kemenparekraf akan mulai soft selling dan sekaligus menerapkan tahap ketiga yakni hard selling.

“Memang pemasaran pariwisata sangat tergantung kepada penanganan covid-19, karena ini persoalan persepsi. Kemudian bicara pemasaran secara hukum regulasi kita ada pengembangan pasarnya, pengembangan citra, mitra dan promosinya,” ujarnya.

Lantaran, Key Performance Index (KPI) kita diukur dari pergerakan wisatawan Nusantara/domestik dan wisatawan mancanegara, dan brand recall index, Untuk mengetahui seberapa tahu orang mengenai brand kita “Wonderful Indonesia”.

“Kita memang harus berinovasi, beradaptasi dan berkolaborasi. Seperti sekarang ini sebetulnya kita sudah melakukan kolaborasi dalam rangka membangun persepsi bahwa Indonesia sudah siap dengan new normal memang tantangannya menegakkan protokol,” pungkasnya.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya