Turun Drastis, Indonesia Cuma Cetak 4 Juta Kunjungan Wisatawan Asing di 2020

Oleh Tira Santia pada 04 Mar 2021, 11:50 WIB
Diperbarui 04 Mar 2021, 11:50 WIB
Turis Vietnam Tewas
Perbesar
Nguyen Hoang Hieu Dan (26) wisman asal Vietnam menjadi korban keganasan ombak Pantai Klingking, Nusa Penida, Bali. (I Made Martawan/ Jawapos)

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) saat ini sedang fokus untuk mengembangkan pariwisata di domestik dan mendorong wisatawan nusantara untuk berwisata ke destinasi super prioritas.

“Kita 2021 bersiap-siap untuk memulihkan itu dengan bertumpu terutama kepada wisatawan domestik dulu nih, sampai siap-siap untuk wisatawan mancanegara boleh dibuka. Sementara ini fokusnya Kementerian pariwisata lebih ke domestik,” kata Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf Nia Niscaya, dalam dalam Webinar Membangkitkan Optimisme Industri Pariwisata Nusantara – FORWADA, Kamis (4/3/2021)

Dirinya tidak menampik, sektor pariwisata dan ekonomi kreatif juga ikut terpukul dengan adanya kondisi pandemi covid-19 ini. Bahkan berdasarkan data statistik dari Kemenparekraf, Nia menyebutkan terjadi penurunan Wisatawan Mancanegara dan devisa.

“Penurunan wisman dan devisa di tahun 2019 kita punya Wisman itu sekitar 16 jutaan dengan devisa sekitar USD 116 juta. Kemudian tahun 2020 ini wismannya hanya tinggal 4.080.000 dan devisanya sekitar USD 3,54 juta,” katanya.

Menurutnya hal itu wajar terjadi, karena memang akses transportasi juga ditutup oleh Pemerintah karena ada kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada tahun 2020. Selain itu negara-negara lain juga rata-rata menerapkan kebijakan lockdown. Sehingga secara langsung menutup pintu pariwisata di seluruh dunia.

Kendati begitu, untuk menyikapi kondisi pandemi covid-1 ini. Nia menyebutkan ada beberapa tahap fase pengembangan. Yakni fase jangka pendek dan jangka Panjang menengah, untuk jangka pendeknya yaitu bagaimana cara menangani covid-19, memulihkan perekonomian.  Sementara jangka panjang menengah yakni membangun keunggulan melalui pariwisata.

“Tentu kita harus melakukan mitigasi di jangka 2020-2021. Jadi memang ketika terjadi 2020 kita langsung program perlindungan sosial untuk pekerja pariwisata, kemudian realokasi anggaran untuk beberapa kegiatan yang terkait dengan padat karya kemudian juga pemberian stimulus ekonomi pada sektor parekraf,” pungkasnya.   

 

**Ibadah Ramadan makin khusyuk dengan ayat-ayat ini.

2 dari 4 halaman

Ketimbang Buka Kunjungan Wisman, Pemerintah Fokus Genjot Wisatawan Lokal

Turis China Jatuh ke Laut
Perbesar
Li Huiling, wisman perempuan asal China jatuh terperosok ke laut saat asyik selfie dari atas sebuah tebing di Bali. (Liputan6.com/ Dewi Divianta)

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, mengatakan saat ini Pemerintah berupaya meningkatkan kapasitas minat masyarakat Indonesia terhadap pariwisata domestik, dibanding membuka wisata untuk turis asing ke Indonesia.

“Semua orang di 215 negara lainnya. Saya kira kalau kita buka itu harus bilateral, Indonesia tidak bisa buka sendiri. Jadi dalam Komunitas Internasional kita sekarang ada travel bubble atau travel Corridor Arrangement,” kata Airlangga dalam MNC Group INVESTOR FORUM 2021 “Recovery Story after The Big Reset", Selasa (2/3/2021).

Kesepakatan internasional mengenai travel bubble atau travel corridor arrangement merupakan kesepakatan lateral, dimana sekumpulan negara setuju untuk membuka perbatasan satu sama lain, tapi tetap menutup perbatasan ke semua negara lain.

“Untuk turis, saya pikir yang harus kita lakukan adalah mengembalikan permintaan domestik dan saya pikir penting untuk menerapkan protokol kesehatan,” ujarnya.

Saat ini Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sedang menyusun kebijakan untuk meningkatkan pariwisata domestik, demi menciptakan perjalanan pariwisata yang aman untuk masyarakat Indonesia.

“Jadi saya pikir setelah formula ditetapkan, Pemerintah bersedia membuat kebijakan karena meningkatkan kapasitas pariwisata dan salah satu hal yang telah kami lakukan adalah menggunakan hotel sebagai bagian dari isolasi dengan dukungan dari Pemerintah,” katanya.

Sehingga, yang menjadi pekerjaan bersama adalah meningkatkan pariwisata domestik untuk memulihkan ekonomi nasional.

“Menurut saya pariwisata domestik selanjutnya akan menjadi PR dan kami berharap program mereka dapat menciptakan herd immunity terpenuhi di akhir tahun, jadi itu akan menjadi pengubah permainan untuk pariwisata juga,” pungkasnya.   

3 dari 4 halaman

141 Ribu Wisman Datang ke Indonesia di Januari 2021, Didominasi Timor Leste

Jembatan Roboh di Nongsa
Perbesar
Jembatan di kawasan Montigo Resorts, Nongsa, Kota Batam, roboh. Akibatnya 18 wisman asal Singapura mengalami luka-luka. (Liputan6.com/ Istimewa)

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia tercatat sejumlah 141 ribu orang pada bulan Januari 2021.

Angka ini mengalami penurunan 13,9 persen dibandingkan bulan Desember 2020. Sementara secara year on year (yoy), penurunannya mencapai 89,05 persen.

"Berdasarkan moda transportasinya, mayoritas datang lewat darat, kemudian dari laut dan dari udara masih minim sekali," ujar Suhariyanto dalam rilis BPS, Senin (1/3/2021).

Pada bulan Januari 2021, jumlah wisman yang datang melalui jalur darat ialah sebesar 95,3 ribu orang atau sekitar 68 persen dari jumlah kedatang wisman.

Untuk jalur laut, jumlahnya 44,2 ribu atau 31 persen sedangkan untuk jalur udara jumlahnya 1.700 orang atau 1 persen dari keseluruhan kedatangan wisman.

"Bandara utama di Indonesia seperti Soekarno-Hatta, Sam Ratulangi, Juanda, jumlah wisman yang datang mengalami penurunan tajam baik month to month maupun yoy, demikian juga jalur laut dan darat," katanya.

Sementara itu, menurut kebangsaan, mayoritas wisman yang datang ke Indonesia berasal dari Timor Leste dengan sumbangan total 53,2 persen. Angka ini meningkat dari bulan Desember 2020 yang sebesar 49,4 persen.

Kemudian, wisman dari Malaysia memberi andil keseluruhan sebesar 34,2 persen. Lalu, wisman dari Papua Nugini memberi andil 2,4 persen.

"Jadi kalau dilihat pergerakan angka wisman ini jauh dari angka menggembirakan dan nampaknya sektor pariwisata masih butuh waktu yang panjang untuk recovery," ujar Suhariyanto.  

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓