OJK: Konsolidasi Bantu Perbankan Lebih Kuat

Oleh Athika Rahma pada 26 Feb 2021, 15:10 WIB
Diperbarui 26 Feb 2021, 15:10 WIB
20151104-OJK Pastikan Enam Peraturan Akan Selesai Pada 2015
Perbesar
Petugas tengah melakukan pelayanan call center di Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berkomitmen untuk terus mendukung penguatan perbankan Indonesia melalui beragam cara, termasuk konsolidasi perbankan.

Penggabungan perbankan dinilai akan membuat kinerja bank lebih kuat sehingga dapat berkontribusi lebih bagi negara.

Deputi Komisioner Pengawas Perbankan II OJK Bambang Widjanarko mengatakan, konsolidasi perbankan sudah menjadi perhatian dalam pembuatan kebijakan di OJK.

"Baik bank umum maupun BPR (Bank Perkreditan Rakyat), poin kebijakannya mengarah ke peningkatan kekuatan, dan bagaimana jadi lebih kuat, kalau kuat bisa kontribusi," ujarnya dalam Media Briefing OJK, Jumat (26/2/2021).

Bambang mencontohkan salah satu langkah konsolidasi yang sudah dilakukan pemerintah untuk memperkuat sektor perbankan tanah air khususnya di segmen syariah, yaitu dengan penggabungan 3 bank syariah milik BUMN menjadi Bank Syariah Indonesia (BSI).

Selain itu, OJK juga selalu melakukan pemantauan terhadap kinerja perbankan agar likuiditasnya selalu baik terutama di tengah pandemi. Tak lupa, pihaknya juga terus memanfaatkan teknologi untuk pengawasan jangka panjang.

"Jadi ini bukan hanya kaitannya dengan produk tapi juga dengan strategi pengawasan," tandasnya.

**Ibadah Ramadan makin khusyuk dengan ayat-ayat ini.

2 dari 3 halaman

OJK Pastikan Sektor Jasa Keuangan Stabil, Ini Indikatornya

Kepala OJK Wimboh Santoso
Perbesar
Kepala OJK Wimboh Santoso menyampaikan paparan dalam pertemuan dengan pimpinan bank umum Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Kamis (15/3). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Rapat Dewan Komisioner (RDK) Otoritas Jasa Keuangan menilai stabilitas sistem keuangan masih dalam kondisi terjaga di tengah upaya pemulihan perekonomian nasional dari dampak pandemi Covid 19. Ini mengacu pada data Januari 2021. 

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengakui, perekonomian sejumlah negara yang masih terkontraksi sepanjang tahun 2020 masih berimbas pada perekonomian Indonesia.

Namun demikian, outlook ke depan diperkirakan membaik seiring penurunan laju infeksi harian secara global dan vaksinasi global yang semakin luas. Hal itu sejalan dengan kebijakan fiskal dan moneter akomodatif yang terus dijalankan berbagai negara untuk mendukung pemulihan ekonomi.

"IMF memperkirakan perekonomian global tahun 2021 akan pulih lebih cepat dari perkiraan sebelumnya," jelas Wimboh, Kamis (25/2/2021).

Perkembangan positif tersebut mendorong pasar keuangan global termasuk Indonesia menguat di bulan Februari 2021. Sampai dengan 19 Februari 2020, IHSG menguat sebesar 6,3% mtd.

Namun demikian, aksi risk on investor menyebabkan pasar SBN sedikit tertekan dengan rerata yield SBN naik sebesar 9,4 bps mtd.

Investor nonresiden mencatatkan net buy di pasar saham sebesar Rp 2,49 triliun dan di pasar SBN sebesar Rp 6,5 triliun mtd (ytd pasar saham: net buy Rp 13,43 triliun; ytd pasar SBN: net buy Rp 19,9 triliun).

Dari sektor perbankan, Dana Pihak Ketiga (DPK) di bulan Januari 2021  tumbuh double digit sebesar 10,57 persen yoy.

Sementara itu, walau kredit perbankan terkontraksi -1,92 persen yoy namun tren pertumbuhannya mengindikasikan perbaikan dari bulan sebelumnya, terutama didorong oleh bank BUMN dan BPD yang tumbuh masing-masing 1,45 persen dan 5,68 persen yoy.

Di industri keuangan non-bank, piutang Perusahaan Pembiayaan terkontraksi sebesar -18,6 persen yoy, terutama disebabkan sektor rumah tangga seiring dengan masih rendahnya demand.

Sementara itu, premi asuransi yang dihimpun industri asuransi tercatat naik tinggi sebesar Rp 30,4 triliun. Dengan rincian, asuransi jiwa: Rp 19,1 triliun; asuransi umum dan eeasuransi Rp 11,3 triliun. Kemudian fintech P2P Lending November 2020 mencatatkan outstanding pembiayaan sebesar Rp 15,34 triliun atau tumbuh sebesar 13,5 persen yoy.

Hingga 23 Februari 2021, jumlah penawaran umum yang dilakukan emiten di pasar modal mencapai 16, dengan total nilai penghimpunan dana mencapai Rp 11,01 triliun.

Dari jumlah penawaran umum tersebut, 4 di antaranya dilakukan oleh emiten baru. Dalam pipeline saat ini terdapat 67 emiten yang akan melakukan penawaran umum dengan total indikasi penawaran sebesar Rp 22,55 triliun.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait