Salip China, Kenaikan Jumlah Crazy Rich Indonesia Diramal Jadi Juara di Dunia

Oleh Liputan6.com pada 26 Feb 2021, 15:00 WIB
Diperbarui 26 Feb 2021, 15:00 WIB
Pertumbuhan Ekonomi DKI Jakarta Turun 5,6 Persen Akibat Covid-19
Perbesar
Deretan gedung perkantoran di Jakarta, Senin (27/7/2020). Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pertumbuhan ekonomi di DKI Jakarta mengalami penurunan sekitar 5,6 persen akibat wabah Covid-19. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia diprediksi akan memimpin pertumbuhan jumlah orang kaya atau crazy rich di dunia. Bahkan, Indonesia bisa melampaui China dengan pertumbuhan orang terkaya. Ini seiring langkah vaksinasi Covid-19 yang mendukung pertumbuhan ekonomi.

Lembaga konsultan asal Inggris, Knight Frank memprediksikan jumlah penduduk Indonesia dengan kekayaan lebih dari Rp 420 miliar akan bertambah 67 persen pada tahun 2025.

Penduduk dengan aset lebih dari USD 30 juta atau setara Rp 420 miliar dikategorikan sebagai orang super kaya atau ultra-high-net-worth-individuals (UHNWI). Pertumbuhan orang super kaya di Indonesia bukan hanya tertinggi di Asia, namun juga di dunia, mengungguli negara-negara maju di Eropa bahkan Amerika Serikat.

Dikutip dari Nikkei Asia, Jumat (26/2/2021), Victoria Garrett, Knight Frank untuk Asia Pasifik, menyebut keberadaan penduduk usia muda yang mendominasi angkatan kerja serta pertumbuhan masyarakat kelas menengah jadi faktor utama yang melecut pertumbuhan ekonomi cukup signifikan.

"Ditambah dengan basis konsumsi domestiknya yang besar dan berkembang pesat, unicorn teknologi, seperti Gojek, ada banyak peluang untuk menciptakan kekayaan di dalam negeri (Indonesia)," tambahnya.

Secara umum, laporan Knight mengungkap negara-negara di Asia dan Afrika merupakan hotspot baru pertumbuhan jumlah orang kaya di dunia. Knight Frank mencatat 36 persen miliarder di dunia berasal dari Asia-Pasifik.

India, China dan Turki merupakan negara Asia lainnya yang masuk dalam daftar 10 negara dengan pertumbuhan orang super kaya tertinggi di dunia. Secara kumulatif, orang super kaya di Asia akan bertambah 39 persen, berada di atas rata-rata Global 27 persen.

Begitupun di Afrika, orang kaya di benua ini akan bertambah 33 persen. Tumbuh lebih banyak jika dibanding Eropa dan Amerika yang rata-rata tumbuh hanya 23 hingga 25 persen.

 

**Ibadah Ramadan makin khusyuk dengan ayat-ayat ini.

2 dari 3 halaman

Terpengaruh Pemulihan Ekonomi Pasca Covid-19

FOTO: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di Kuartal III 2020 Masih Minus
Perbesar
Pemandangan deretan gedung dan permukiman di Jakarta, Rabu (1/10/2020). Meski pertumbuhan ekonomi masih di level negatif, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyebut setidaknya ada perbaikan di kuartal III 2020. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Makin banyaknya orang kaya tidak begitu saja lepas dari pengaruh pertumbuhan ekonomi sebuah negara. Sekalipun menjadi kawasan yang pertama terdampak Covid-19, mayoritas analis memprediksikan Asia akan memimpin pemulihan ekonomi dunia pasca pandemi Covid-19.

Lembaga moneter dunia, IMF menyebut ekonomi Indonesia mulai pulih sejak semester kedua tahun 2020. Ekonomi Indonesia diprediksikan tumbuh 4,8 persen tahun ini dan 6 persen pada tahun 2022.

"Disebabkan oleh langkah-langkah dukungan kebijakan yang kuat, termasuk rencana distribusi vaksin COVID-19 serta kondisi ekonomi dan keuangan global yang membaik," sebut Thomas Helbling, kepala divisi IMF Asia-Pasifik seperti dikutip dari siaran persnya yang dirilis Januari lalu.

Sementara itu, ekonomi Asia diproyeksikan tumbuh 8,3 persen, jauh lebih tinggi dari pertumbuhan global sekitar 5,5 persen tahun ini. India dan China akan memimpin pertumbuhan paling signifikan di dunia. Pertumbuhan ekonomi medua negara tersebut secara berurutan 11,5 persen dan 8,1 persen tahun ini.

Meski begitu, penyebaran virus yang belum sepenuhnya terkendali masih menyisakan ketidakpastian atas proyeksi-proyeksi tersebut.

"Pengetatan kembali pembatasan mobilitas di pulau Jawa dan Bali pada Januari akan menyebabkan melemahnya momentum pemulihan konsumsi swasta." ujar Sung Eun Jung, seorang ekonom di Oxford Economics.

Reporter: Abdul Azis Said

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓