Sektor Pertanian Berkontribusi Besar Selama Pandemi, BPS Beri Apresiasi

Oleh stella maris pada 26 Feb 2021, 09:23 WIB
Diperbarui 26 Feb 2021, 09:32 WIB
Jokowi Hadiri Panen Raya Jagung di Tuban
Perbesar
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menghadiri panen raya jagung di Perhutanan Sosial, Ngimbang, Tuban, Jumat (9/3). Jokowi didampingi Ibu Negara Iriana, Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar, dan Menteri BUMN Rini Soemarno. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta Direktur Neraca dan Produksi pada Badan Pusat Statistik (BPS), Dody Herlando yang diwakili Koordinator Fungsi Konsolidasi Neraca Produksi Nasional, Nur Indah Kristiani mengapresiasi kontribusi sektor pertanian terhadap proses pemulihan ekonomi nasional selama krisis pandemi Covid-19 sejak 2020 hingga memasuki bulan kedua di tahun 2021.

Menurut Indah, data dan statistik sektor pertanian sejauh ini menunjukan pertumbuhan positif mencapai 2,59 persen dengan subsektor tanaman pangan sebagai penyumbang tertingginya, yaitu 10,47 persen. Angka tersebut didorong karena adanya peningkatan luas panen dan produksi padi, jagung, ubi kayu serta dukungan cuaca yang rekatif bagus.

"Selain itu BPS juga mencatat bahwa sektor pertanian berkontribusi terhadap pertumbuhan 5 sektor lapangan kerja. Kemudian kalau kita lihat dari perdagangan produk pertanian ke luar negeri juga mengalami kenaikan sebesar 14 persen dengan 3 komoditas utamanya, yakni kopi, tanaman obat dan rempah," ujar Indah dalam diskusi Talkshow LPEM UI, Selasa (23/2).

Indah mengatakan, berbagai perbaikan pada sektor pertanian juga berdampak besar pada kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTP).

NTP, kata Indah mengalami kenaikan 0,74 persen jika dibandingkan 2019, sementara NTP di Desember (M to M) naik sebesar 0,37 persen. Adapun untuk NTUP angkanya mencapai 0,70 persen untuk periode Desember 2020.

"Ke depan sektor pertanian memiliki peluang besar untuk meningkatkan Ekonomi Nasional. Sebab sampai saat ini rata rata pendapatan petani mencapai 1,9 juta dan menumbuhkan lapangan usaha pertanian sebesar 13 persen," katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Gajah Mada, Jamhari mengatakan bahwa sejak dulu sektor pertanian selalu memberi banyak peran baik dalam skala ekonomi mikro maupun makro. Peranan tersebut dinilai sangat sentral karena sektor pertanian mempengaruhi banyak sektor lain.

"Tidak akan ada restoran, penggilingan industri manufaktur dan lain-lain kalau tidak ada produksi pangan. Jadi saya kira peran sektor pertanian itu tidak tergantikan oleh sektor lain. Bahkan pertanian setelah Covid-19, saya kira masih akan berpeluang besar karena produk pertanian ke depan bukan hanya untuk makanan, namun juga digunakan untuk bahan baku pengolahan," katanya.

Oleh karena itu, Jamhari mengajak semua pihak untuk terlibat langsung dalam proses pembangunan sektor pertanian yang sedang berjalan. Ajakan tersebut disampaikan Jamhari, terutama untuk kalangan generasi muda yang memiliki kemampuan teknologi serta daya saing yang sangat tinggi.

"Kita harus ingat bahwa ke depan potensi sektor pertanian sangat bagus untuk menopang hidup. Kalau bukan kita siapa lagi yang menjaga alam kita dan yang menjaga keanekaragaman hayati dan konsumsi kita," tutupnya.

 

(*)