Harga Minyak Mentah Dunia Terangkat Aksi Ambil Untung

Oleh Tira Santia pada 26 Feb 2021, 07:30 WIB
Diperbarui 26 Feb 2021, 07:30 WIB
Ilustrasi Harga Minyak Naik
Perbesar
Ilustrasi Harga Minyak Naik (Liputan6.com/Sangaji)

Liputan6.com, Jakarta Harga minyak mentah dunia mendekati posisi tertinggi dalam 13 bulan. Pemicunya, aksi ambil untung dibatasi jaminan bahwa suku bunga AS  yang akan tetap rendah dan penurunan tajam dalam produksi minyak mentah AS akibat badai di Texas.

Melansir laman CNBC, Jumat (26/2/2021), harga minyak mentah Brent turun 0,24 persen di April menjadi USD 66,88 per barel. Di awal sesi, kontrak diperdagangkan setinggi USD 67,70, yang merupakan level tertinggi sejak Januari 2020.

Sementara harga minyak WTI (US West Texas Intermediate) naik 0,49 persen menjadi USD 63,53 per barel, setelah mencapai posisi tertinggi USD 63,81 per barel di awal sesi, level tertinggi sejak Januari 2020.

Analis PVM Oil Associates, Tamas Varga, mengatakan penurunan harga minyak tersebut sebagian karena aksi ambil untung setelah reli tiga hari.

Kepastian dari Federal Reserve AS bahwa suku bunga akan tetap rendah untuk sementara waktu telah melemahkan dolar AS, sekaligus meningkatkan selera risiko investor dan pasar ekuitas global.

Badai musim dingin di Texas menyebabkan produksi minyak mentah AS turun lebih dari 10 persen atau 1 juta barel per hari (bpd) minggu lalu, menurut Administrasi Informasi Energi.

Pasokan bahan bakar di negara yang menjadi konsumen minyak terbesar dunia juga bisa terbatasi dipicu input kilang minyak mentah turun ke level terendah sejak September 2008, data EIA menunjukkan.

Analis ING mengatakan stok minyak mentah AS bisa naik dalam beberapa minggu ke depan karena produksi telah pulih cukup cepat. Sementara kapasitas kilang diperkirakan membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali normal dan mempengaruhi harga minyak.

 

2 dari 3 halaman

Harga Bisa Naik Lagi

Ilustrasi Harga Minyak Naik
Perbesar
Ilustrasi Harga Minyak Naik (Liputan6.com/Sangaji)

Barclays, yang menaikkan perkiraan harga minyak, mengatakan jika komoditas ini bisa naik lagi karena respons pasokan yang lebih lemah dari perkiraan oleh operator minyak AS terhadap harga yang lebih tinggi.

"Namun, kami tetap berhati-hati dalam waktu dekat untuk mengurangi dukungan OPEC +, risiko dari varian COVID-19 yang lebih dapat ditularkan, dan peningkatan posisi," kata Barclays.

Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya termasuk Rusia, sebuah kelompok yang dikenal sebagai OPEC +, akan bertemu pada 4 Maret.

Kelompok tersebut akan membahas pelonggaran pembatasan pasokan minyak dari April moderat. menurut sumber OPEC + mengatakan, ini mengingat terjadi pemulihan harga minyak, meskipun beberapa menyarankan untuk bertahan saat ini mengingat risiko kemunduran baru dalam pertempuran melawan pandemi.

Pemotongan minyak ekstra secara sukarela oleh Arab Saudi pada Februari dan Maret telah memperketat pasokan global dan mendukung harga. 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Ini

Lanjutkan Membaca ↓