Mendag Lutfi Minta Marketplace Tak Lagi Bakar Uang

Oleh Liputan6.com pada 25 Feb 2021, 20:38 WIB
Diperbarui 25 Feb 2021, 20:43 WIB
Dihadapan DPR, Mendag dan BKPM Bahas Pelaksanaan Investasi di Masa Pandemi
Perbesar
Mendag Muhammad Lutfi hadir pada rapat kerja di ruang rapat Komisi VI DPR RI, kompleks parlemen, Jakarta, Rabu (3/2/2021). Rapat kerja ini membahas realisasi anggaran tahun 2020, rencana kegiatan dan anggaran sesuai daftar isian pelaksanaan anggaranTahun 2021. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta Menteri Perdagangan (Mendag) RI, Muhammad Lutfi meminta manajemen marketpalace untuk tidak lagi melakukan praktik bakar uang dalam menarik minat konsumen. Sebab, dia ingin platform online tersebut menjadi sarana perdagangan yang adil dan bermanfaat bagi penjual maupun pembeli.

"Kenapa itu tidak boleh (bakar uang)? karena gini di marketplace ini sekarang menjadi liar. Jadi, saya memastikan bahwa marketplace ini akan menjadi sarana perdagangan yang adil, yang baik, yang bermanfaat bagi penjual dan pembeli," ujar dia dalam konferensi pers virtual, Kamis (25/2/2021).

Mendag Lutfi menambahkan, praktik bakar uang yang saat ini kerap dilakukan oleh marketplace juga telah melanggar asas-asad perdagangan internasional. Menyusul timbulnya praktik perdagangan yang tidak sehat.

"Nah, ketika terjadi bakar-bakaran uang, dumping itu adalah transaksi yang tidak sehat. Dan kita akan mengikuti peraturan dunia dalam hal tersebut," terangnya.

Mendag bilang, praktik curang ini marak terjadi lantaran tidak ada kejelasan identitas penjual maupun pembeli. Walhasil, antara mereka sendiri tidak saling mengetahui identitas secara pasti saat melakukan transaksi.

 

**Ibadah Ramadan makin khusyuk dengan ayat-ayat ini.

2 dari 3 halaman

Perbedaan

Dihadapan DPR, Mendag dan BKPM Bahas Pelaksanaan Investasi di Masa Pandemi
Perbesar
Mendag Muhammad Lutfi hadir pada rapat kerja di ruang rapat Komisi VI DPR RI, kompleks parlemen, Jakarta, Rabu (3/2/2021). Rapat kerja ini membahas realisasi anggaran tahun 2020, rencana kegiatan dan anggaran sesuai daftar isian pelaksanaan anggaranTahun 2021. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Hal ini berbeda dengan perdagangan antar negara, yang mana penjual dan pembeli dapat saling mengetahui identitas dengan jelas. Menyusul adanya aturan yang jelas termasuk kewajiban melampirkan negara asal.

"Kalau di dalam marketplace saya tidak melihat nih siapa orangnya. Tetapi karena tidak melihat orangnya, sepetinya pasar ini menjadi liar. Karena terjadi tuh yang namanya predatory pricing, jadi hajar-hajaran harga, kemudian mereka untung dimana, buang dimana, bakar duit," ungkapnya.

Oleh karena itu, pihaknya berjanji akan bersikap tegas untuk melawan praktik curang tersebut. "Kementerian Perdagangan sebagai wasit akan memastikan kita juga marketplace menganut asas-asas daripada perdagangan yang adil, yang baik, yang membawa manfaat bagi penjual dan pembeli," ucap dia menekankan.

Sulaeman

Merdeka.com

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓