Mendag Lutfi Ingin Toyota dan Nissan Produksi Indonesia Banjiri Australia

Oleh Liputan6.com pada 25 Feb 2021, 19:15 WIB
Diperbarui 25 Feb 2021, 19:15 WIB
Pemerintah Berencana Memacu Aturan Ekspor Industri Otomotif
Perbesar
Pekerja mengecek mobil baru siap ekspor di IPC Car Terminal, Jakarta, Rabu (27/3). Pemerintah berencana memacu ekspor industri otomotif dengan harmonisasi skema PPnBM, yaitu tidak lagi dihitung dari kapasitas mesin, tapi pada emisi yang dikeluarkan kendaraan bermotor. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi menargetkan mobil produksi Indonesia bisa membanjiri pasar Australia. Ia pun menargetkan 10 persen populasi mobil di negeri kanguru itu berasal dari Indonesia di 2021.

"Target saya, saya ingin setidaknya 10 persen dari kebutuhan konsumsi Australia yang jumlahnya 1,2 juta mobil per tahun itu setidaknya 10 persen bisa diisi oleh mobil Indonesia," ungkap dia dalam konferensi pers virtual, Kamis (25/2/2021).

Mendag Lutfi mengungkapkan, salah satu upaya untuk mewujudkan keinginan itu ialah dengan memanfaatkan fasilitas perjanjian dagang yang dimiliki oleh Indonesia-Australia. Seperti Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia (IA-CEPA) yang resmi berlaku sejak Juli 2020 lalu.

"Indonesia sekarang nikmati 0 persen dari pasar dengan IA- CEPA tersebut. Kita bisa ekspor mobil ke sana," terangnya.

Adapun jenis mobil yang akan di ekspor ke pasar Australia ialah di dominasi oleh berbagai pabrikan besar Jepang. "Seperti merk Suzuki, Honda, Daihatsu, Toyota, Nissan dan Mitsubishi barang itu," contohnya.

Sementara berdasarkan nilai hitung-hitungan oleh Kementerian Perdagangan, jika Indonesia bisa mengekspor 100.000 mobil ke Australia per tahun, potensi devisa yang masuk sebesar USD 4 miliar.

Maka dari itu, pihaknya saat ini terus melakukan sejumlah langkah persuasif dengan sejumlah pabrikan asal Jepang tersebut agar bisa turut memfasilitasi kebutuhan produsen untuk melakukan ekspor.

"Kita kerjakan sedikit diplomasi dan memastikan stok itu jalan, dan ini akan jalan. Jadi, bayangan saya di 2021 targetnya adalah Australia," pungkasnya.

**Ibadah Ramadan makin khusyuk dengan ayat-ayat ini.

2 dari 3 halaman

Pelabuhan Patimban Bikin Pengiriman Mobil Produksi Industri di Karawang Lebih Efisien

Soft Launching dan Pengoperasian Perdana Pelabuhan Internasional Patimban di Patimban, Kecamatan Pusakanagara, Kabupaten Subang, Minggu (20/12/2020). (Foto: Humas Jabar)
Perbesar
Soft Launching dan Pengoperasian Perdana Pelabuhan Internasional Patimban di Patimban, Kecamatan Pusakanagara, Kabupaten Subang, Minggu (20/12/2020). (Foto: Humas Jabar)

Sebelumnya, Menteri Perhubungan (Menhub), Budi Karya Sumadi, mengatakan pengiriman mobil dalam bentuk jadi atau Completely Built Up (CBU) dari industri di sekitar Karawang lebih efisien melalui Pelabuhan Patimban. Baik untuk ke pasar ekspor maupun dalam negeri.

"Demikian pula dengan pengiriman mobil CBU terutama dari sekitar kawasan industri di sekitar Karawang lebih efisien dilakukan melalui Patimban. Baik tujuan ekspor maupun antar pulau," ujarnya dalam acara Publik Expose Pelabuhan Patimban: Wajah Modern Pelabuhan di Indonesia, Kamis (7/1).

Sebab, kata Menhub Budi, kondisi Pelabuhan Tanjung Priok saat ini sudah terlalu padat. Sehingga kerap menimbulkan kemacetan mulai dati ruas jalan Bekasi sampai Jakarta ataupun sebaliknya.

"Patimban akan memperkuat keberadaan Tanjung Priok yang sudah terlalu padat dan menimbulkan kemacetan di ruas jalan bekasi dan Jakarta atau sebaliknya," terangnya.

Selain itu, telah rampungnya pembangunan untuk terminal otomotif. Dan hampir selesainya pengerjaan terminal peti kemas di tahap pertama diyakini akan mempercepat proses bongkar muat petikemas (dwelling time) di pelabuhan.

"InsyaAllah dalam waktu dekat ini akan terjadi satu recovery dengan selesainya konstruksi terminal otomotif tersebut di tahap pertama, yang segera di susul terminal peti kemas tahap pertama. Kita dapat memulai dengan prinsip efisiensi biaya dan waktu untuk beroperasinya Patimban," tegasnya.

Lebih lanjut, dia melaporkan, produksi mobil CBU dalam negeri pada 2019 lalu mencapai 1,2 juta unit. Adapun jumlah penjualan mencapai 1 juta unit dengan komposisi untuk penjualan ekspor mencapai 332 ribu unit.

"Adapun, berdasarkan data Gakindo bahwa tahun 2019 ekspor mobil Indonesia sebanyak 332 ribu CBU. Produksi tercatat 1,2 juta CBU, penjualan sebanyak 1 juta CBU," ujar dia mengakhiri.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓