Pertumbuhan Ekonomi RI Terus Turun dalam 10 Tahun, Pandemi Bikin Makin Buruk

Oleh Liputan6.com pada 25 Feb 2021, 16:20 WIB
Diperbarui 25 Feb 2021, 16:20 WIB
FOTO: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di Kuartal III 2020 Masih Minus
Perbesar
Pemandangan deretan gedung dan permukiman di Jakarta, Rabu (1/10/2020). Meski membaik, namun pertumbuhan ekonomi kuartal III 2020 masih tetap minus. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Chief Economist PT Bank CIMB Niaga Tbk Adrian Panggabean mengatakan sebelum pandemi Covid-19 terjadi, pertumbuhan ekonomi nasional selama 10 tahun mengalami tren penurunan. Kondisi tersebut makin diperparah pada tahun 2020 akibat penyebaran virus corona.

"Pertumbuhan ekonomi turun terus selama 10 tahun terakhir," kata Adrian di Jakarta, Kamis (25/2).

Sebagai informasi, pertumbuhan ekonomi pada tahun 2010 sebesar pada Q1 sebesar 6,77 persen. Tahun 2011 turun menjadi sebesar 6,17,. Turun lagi di tahun 2012 menjadi sebesar 6,03 persen. Tahun 2013 kembali turun menjadi 5,56 persen. Tahun 2014 turun menjadi 5,01 persen. Tahun 2015 turun menjadi 4,88 persen.

Pada tahun 2016 naik menjadi 5,03 persen. Tahun 2017 kembali naik menjadi 5,07 persen. Puncaknya pada tahun 2018 tumbuh menjadi 5,17 persen. Sayangnya tahun 2019 kembali turun menjadi 5,02 persen. Lalu pada tahun 2020 kembali turun menjadi 2,97 persen.

Pandemi Covid-19 ini membuat proses pemulihan ekonomi nasional makin lama. Adrian menyebut kondisi saat membawa pendapatan per kapita Indonesia mundur seperti tahun 2018.

"Secara pendapatan per kapita mundur ke tahun 2018. Kita kehilangan 2 tahun," kata dia.

Pun dengan angka kemiskinan membawa Indonesia kembali pada posisinya di tahun 2017 silam. Begitu juga dengan angka pengangguran meningkat dan membuat Indonesia juga turun.

"Angka pengangguran jua mundurnya banyak," uangkapnya.

Namun tidak dalam hal inflasi. Pandemi Covid-19 ini membuat inflasi masih terjaga dengan baik. Hal ini diakibatkan menurunnya permintaan barang dari masyarakat.

2 dari 3 halaman

Polarisasi Pendapatan

BTN Targetkan 250 Ribu KPR pada 2021
Perbesar
Anak-anak mengenakan masker saat bermain di perumahan subsidi Green Citayam City, Ragajaya, Bojong Gede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (13/2/2021). Kredit Pemilikan Rumah atau KPR pada 2021 diharapkan dapat berkontribusi pada perbaikan pertumbuhan ekonomi nasional. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Sementara itu polarisasi pendapatan juga terjadi antara masyarakat kelas bawah dan menengah. Angka kemiskinan meningkat seiring dengan menurunnya pendapatan masyarakat.

"Petani, buruh dan nelayan ini kan upahnya turun," kata dia.

Sedangkan kelas menengah tabungannya bertambah karena menahan diri untuk tidak berbelanja. Bahkan pendapatan mereka naik karena melek investasi dan mengalokasikan dananya untuk mendapatkan pasif income.

"Mereka ini gak mau belanja, mereka taruh uang untuk investasi," kata dia.

"Akibatnya orang kaya ini dapat dana dari pasif income, masih dapat dana dari rental atau sewa apartemen atau yang lainnya, tapi orang miskin makin jatuh," ungkapnya.

Kondisi inilah yang membuat pertumbuhan konsumsi sulit untuk memasuki fase percepatan pemulihan ekonomi. Bila ini terus berlanjut, maka kekebalan kelompok (herd immunity) yang dibentuk belum bisa berdampak pada tahun 2022.

"Kemampuannya sudah ada tapi kemauannya sudah enggak ada. Kalau dibiarkan ini bisa berdampak hingga 2022," kata dia.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓