Rupiah Berpotensi Menguat Dibayangi Imbal Hasil Obligasi AS

Oleh Andina Librianty pada 25 Feb 2021, 10:40 WIB
Diperbarui 25 Feb 2021, 10:40 WIB
Ilustrasi Mata Uang Rupiah
Perbesar
Ilustrasi Mata Uang Rupiah. Kredit: Mohamad Trilaksono (EmAji) via Pixabay

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dibuka menguat pada perdagangan hari ini. Rupiah berpeluang terus menguat, namun dibayangi kenaikan imbal hasil obligasi AS.

Mengutip Bloomberg, Kamis (25/2/2021), rupiah dibuka di level 14.082 per dolar AS, menguat tipis jika dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di angka 14.085 per dolar AS. Menjelang siang, rupiah berada di 14.105 per dolar AS.

Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 14.082 per dolar AS hingga 14.106 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah melemah 0,40 persen.

Sedangkan Berdasarkan Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di angka 14.104 per dolar AS, melemah jika dibandingkan dengan patokan sebelumnya yang ada di angka 14.089 per dolar AS.

Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan, pagi ini sentimen pasar terhadap aset berisiko terlihat meninggi dengan penguatan indeks saham Asia yang mengikuti kenaikan besar indeks saham Amerika Serikat.

"Pasar menanggapi positif pernyataan Gubernur The Fed Jerome Powell di hadapan komite jasa keuangan DPR AS bahwa target inflasi mungkin baru akan tercapai tiga tahun lagi. Oleh karena itu The Fed masih akan mempertahankan kebijakan pelonggaran moneter," ujar Ariston dikutip dari Antara, Kamis (25/2/2021).

Selain itu, lanjut Ariston, kemajuan program vaksinasi global juga bisa membantu penguatan sentimen aset berisiko hari ini.

"Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS dengan alasan di atas hari ini," katanya.

2 dari 4 halaman

Prediksi Rupiah

Ilustrasi dolar AS
Perbesar
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menguat, Jakarta, Kamis (23/10/2014) (Liputan6.com/Johan Tallo)

Namun penguatan rupiah bisa terbatas karena kenaikan tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS terutama tenor jangka panjang yang mendorong penguatan dolar AS terhadap nilai tukar lainnya.

Tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun mencatat level tertinggi di 1,43 persen sejak Februari 2020.

"Kenaikan tingkat imbal hasil ini masih karena respons pasar terhadap outlook kenaikan inflasi dengan membanjirnya stimulus di AS," ujar Ariston.

Ariston memperkirakan rupiah pada hari ini akan bergerak di kisaran Rp14.050 per dolar AS hingga Rp14.100 per dolar AS.

Pada Rabu (24/2) lalu, rupiah ditutup menguat 8 poin atau 0,05 persen ke posisi Rp14.085 per dolar AS dari posisi penutupan hari sebelumnya Rp14.093 per dolar AS.

 

3 dari 4 halaman

Infografis Rupiah dan Bursa Saham Bergulat Melawan Corona

Infografis Rupiah dan Bursa Saham Bergulat Melawan Corona
Perbesar
Infografis Rupiah dan Bursa Saham Bergulat Melawan Corona (Liputan6.com/Triyasni)
4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓