Harga Minyak Melonjak Lebih dari 3 Persen karena Produksi AS Melambat

Oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana pada 23 Feb 2021, 08:00 WIB
Diperbarui 23 Feb 2021, 08:00 WIB
lustrasi tambang migas
Perbesar
Harga minyak mentah Brent naik USD 2,04 atau 3,2 persen menjadi USD 64,95 per barel. (iStockPhoto)

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak naik lebih dari 3 persen pada menutupan perdagangan Senin (Selasa pagi waktu Jakarta). Kenaikan harga minyak ini dipengaruhi sentimen pengembalian produksi AS yang lambat akibat badai Texas yang membuat produksi kilang berhenti.

Produsen minyak di AS menghentikan produksi antara 2 juta hingga 4 juta barel per hari. Hal tersebut dilakukan karena cuaca buruk di Texas dan negara bagian penghasil minyak lainnya.

Kondisi dengan dingin yang tidak biasa ini telah merusak instalasi dan membuat kilang bertenti produksi lebih lama dari perkiraan.

Mengutip CNBC, Selasa (23/2/2021), harga minyak mentah Brent naik USD 2,04 atau 3,2 persen menjadi USD 64,95 per barel. Sementara harga minyak AS naik USD 2,25 atau 3,8 persen menjadi USD 61,49 per barel.

Kontrak minyak mentah patokan AS untuk pengiriman Maret berakhir pada hari Senin, dan kontrak April yang lebih banyak diperdagangkan naik USD 1,91 atau 3,2 persen menjadi USD 61,19 per barel.

Produsen minyak di AS membutuhkan setidaknya dua minggu untuk sepenuhnya memulai kembali produksi normal, kata sumber, karena penilaian kerusakan dan gangguan listrik memperlambat pemulihan mereka.

"Kehilangan signifikan dari produksi minyak mentah menunjukkan lebih banyak kenaikan dan kemungkinan untuk mencapai harga tertinggi baru bisa dilalui dalam satu minggu ini," kata konsultan Ritterbusch and Associates Jim Ritterbusch.

Tetapi dengan kapasitas penyulingan yang terbatas, dan ekspektasi bahwa penyulingan juga terganggu maka pemulihan bisa memakan waktu berminggu-minggu.

"Tapi mungkin harga minyak bisa tersandung karena kurangnya permintaan," kata Direktur Energi Mizuho, New York, Bob Yawger.

 

2 dari 3 halaman

Perdagangan Sebelumnya

Ilustrasi tambang migas
Perbesar
Ilustrasi tambang migas (iStockPhoto)

Hharga minyak turun dari level tertinggi pada perdagangan Jumat karena perusahaan energi di Texas mulai bersiap untuk memulai kembali aktivitas di ladang minyak dan gas yang sebelumnya ditutup oleh cuaca beku.

Dikutip dari CNBC, harga minyak mentah berjangka Brent turun 1,6 persen menjadi USD 62,91 per barel. Sementara harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS menetap turun 2,12 persen ke level USD 59,24 per barel.

Cuaca dingin yang tidak biasa di Texas dan negara bagian Plains membatasi produksi minyak mentah hingga 4 juta barel per hari (bph) dan 21 miliar kaki kubik gas alam, menurut analis.

Pabrik penyulingan Texas menghentikan sekitar seperlima dari pemrosesan minyak negara di tengah pemadaman listrik dan cuaca dingin yang parah.

Namun, perusahaan-perusahaan di wilayah tersebut pada hari Jumat diperkirakan bersiap untuk memulai kembali produksi karena tenaga listrik dan layanan air perlahan dimulai kembali.

"Pasar sudah matang untuk koreksi dan tanda-tanda kekuatan dan situasi energi secara keseluruhan mulai normal di Texas memberikan pemicu yang diperlukan," kata Vandana Hari, Analis Energi di Vanda Insights.

Harga minyak turun meski ada penurunan mengejutkan dalam stok minyak mentah AS dalam seminggu hingga 12 Februari, sebelum pembekuan.

Administrasi Informasi Energi melaporkan persediaan minyak di AS turun 7,3 juta barel menjadi 461,8 juta barel dan menjadi yang terendah sejak Maret 2020.

Amerika Serikat pada hari Kamis mengatakan siap untuk berbicara dengan Iran tentang kedua negara yang kembali ke perjanjian 2015 yang bertujuan untuk mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir.

Sementara hubungan yang mencair dapat meningkatkan prospek pembalikan sanksi yang diberlakukan oleh pemerintahan AS sebelumnya, para analis tidak memperkirakan sanksi minyak Iran akan dicabut dalam waktu dekat.

"Terobosan ini meningkatkan kemungkinan bahwa kita dapat melihat Iran kembali ke pasar minyak segera, meskipun ada banyak hal yang harus dibahas dan kesepakatan baru tidak akan menjadi salinan karbon dari kesepakatan nuklir 2015," kata analis StoneX Kevin Solomon.

 
3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓