Strategi Pemerintah Percepat Vaksinasi Covid-19

Oleh Liputan6.com pada 20 Feb 2021, 14:15 WIB
Diperbarui 20 Feb 2021, 18:24 WIB
Pemkot Depok Gelar Simulasi Vaksin COVID-19
Perbesar
Petugas kesehatan menyuntik pasien saat simulasi vaksin COVID-19 di Puskesmas Tapos, Depok, Jawa Barat, Kamis (22/10/2020). Pemkot Depok menggelar simulasi vaksin COVID-19 dalam rangka persiapan vaksinasi yang rencananya akan dilaksanakan bulan November 2020. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menugaskan Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) untuk memperbesar jumlah pelaksanaan vaksinasi. Hal tersebut dilakukan untuk mempercepat penyelesaian vaksinasi bagi seluruh warga Indonesia.

Sekretaris Eksekutif I Komite Penanganan Covid-19 dan PEN Raden Pardede menjelaskan, saat ini jumlah penyuntikan vaksin yang dilakukan tenaga kesehatan (nakes) pemerintah baru mencapai 70.000-80.000 orang per hari.

Dengan jumlah pengidap Covid-19 lebih dari 1 juta orang dan jumlah penduduk mencapai lebih dari 260 juta, membuat Johns Hopkins University belum lama ini memperkirakan pelaksanaan vaksinasi di Indonesia baru akan selesai dalam waktu 10 tahun.

"Sekarang ini memang masih kecil sekitar 70.000-80.000. Ini yang akan ditingkatkan dan kita persiapkan dalam 1-2 bulan terakhir supaya kita mampu memvaksinasi lebih besar," ujar Raden seperti dikutip Sabtu (20/2/2021).

Ia menuturkan, pelaksanaan vaksinasi yang baru sedikit tersebut disebabkan oleh beberapa hal. Faktor utamanya adalah jumlah kedatangan vaksin dari negara produsen yang masih terbatas. Kemudian, pemberian vaksin secara masif juga terkendala jumlah rumah sakit atau fasilitas kesehatan milik pemerintah yang jumlahnya tidak sebanyak milik swasta.

"Untuk tahap awal pemerintah memprioritaskan pemberian vaksin secara bertahap bagi nakes yang jumlahnya mencapai 1,5 juta orang. Sambil juga memperbaiki cara-cara kita memvaksinasi, termasuk menambah jumlah fasilitas kesehatan untuk memvaksinasi dan menambah tim vaksinator kita," jelas Raden.

2 dari 3 halaman

Libatkan Rumah Sakit

FOTO: Tenaga Kesehatan Lansia Jalani Vaksinasi COVID-19 Perdana di RSCM Jakarta
Perbesar
Tenaga kesehatan disuntik vaksin COVID-19 produksi Sinovac oleh vaksinator saat kegiatan vaksinasi di RSCM di Jakarta, Senin (8/2/2021). Kementerian Kesehatan secara resmi memulai vaksinasi tenaga kesehatan di atas 60 tahun pada hari ini. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Tidak hanya memperbanyak fasilitas kesehatan dan menambah tenaga vaksinator, pemerintah menurutnya juga akan melibatkan rumah sakit dan fasilitas kesehatan milik swasta untuk mempercepat pelaksanaan vaksinasi. Strategi keempat yang akan dilakukan adalah terus memperbaiki data kesehatan masyarakat sehingga vaksinasi tidak hanya masif namun juga efektif.

"Itu yang kita lakukan sekarang ya. Jadi penambahan vaksinator, penambahan fasilitas kesehatan, dan juga perbaikan dari data ya. Dan nanti kita juga akan melibatkan swasta, lebih agresif lagi dalam vaksinasi ini. Swasta dalam arti, rumah sakit-rumah sakit swasta, demikian juga fasilitas kesehatan swasta, demikian juga nanti value chain atau supply chainnya swasta akan kita gunakan. Ini yang kita persiapkan di kuartal kedua," papar Raden.

Dengan melaksanakan empat strategi itu, Komite Penanganan Covid-19 dan PEN mengupayakan jumlah penyuntikan vaksin bisa meningkat signifikan mulai kuartal II dan kuartal III dan berjalan konsisten untuk seterusnya.

"Jadi memang nanti yang kita harapkan terjadi percepatan itu sebagaimana target bapak presiden, itu di kuartal kedua dan kuartal ketiga itu kita harus bisa memvaksinasi hampir 1 juta orang per hari. Ini yang sekarang kami akan kejar sehingga mampu memvaksinasi jauh lebih besar lagi," pungkasnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓