Vaksinasi Lansia dan Petugas Pelayanan Publik Dilaksanakan Hari Ini 17 Februari 2021

Oleh Andina Librianty pada 17 Feb 2021, 08:22 WIB
Diperbarui 17 Feb 2021, 08:23 WIB
FOTO: Ribuan Tenaga Kesehatan Jalani Vaksinasi Dosis Pertama Secara Massal
Perbesar
Vaksinator menyuntikkan vaksin COVID-19 dosis pertama produksi Sinovac kepada tenaga kesehatan saat vaksinasi massal di Istora Senayan, Jakarta, Kamis (4/2/2021). Kegiatan yang digelar Kemenkes dan Pemprov DKI Jakarta tersebut sebagai upaya percepatan vaksinasi COVID-19. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah terus memperluas vaksinasi. Pada hari ini, Rabu (17/2/2021), target vaksinasi Covid-19 adalah petugas pelayanan publik dan lansia.

"Pemerintah telah menetapkan kelompok sasaran vaksinasi tahap kedua yang akan dimulai pada hari ini, 17 Februari 2021 yakni tenaga pelayanan publik esensial dan masyarakat lansia," tulis Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam keterangannya pada Rabu (17/2/2021).

Penetapan sasaran ini sesuai dengan roadmap WHO, Strategic Advisory Group of Experts on Immunization (SAGE), dan Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional (ITAGI).

Vaksinasi tahap kedua ini dijadwalkan mulai pukul 8.00 WIB. Kelompok yang mendapatkan vaksinasi pada hari ini adalah yang rentan terpapar virus.

"Kelompok prioritas yang masuk dalam vaksinasi tahap kedua merupakan kelompok masyarakat yang memiliki interaksi dan mobilitas tinggi sehingga rentan terpapar virus," jelas Kemenkes.

2 dari 4 halaman

Respon Kemenkes Soal Sanksi Administratif Hingga Bansos Ditunda buat Penolak Vaksinasi Covid-19

FOTO: Tenaga Kesehatan Jalani Vaksinasi COVID-19 Tahap Kedua di Puskesmas Palmerah
Perbesar
Petugas medis memeriksa kondisi tenaga kesehatan sebelum disuntik vaksin COVID-19 Sinovac di Puskesmas Palmerah, Jakarta, Kamis (28/1/2021). Pemberian vaksin COVID-19 tahap kedua dilaksanakan terhadap tenaga kesehatan mulai hari ini. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Pemberian sanksi administratif hingga penundaan pemberian bantuan sosial bagi penolak vaksin covid-19 yang diatur dalam Perpres Nomor 14 Tahun 2021 menuai polemik.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan, dr. Siti Nadia Tarmizi angkat suara perihal ini. Menurutnya, implementasi berbagai ancaman sanksi tersebut menjadi opsi yang terakhir.

"Mengenai penolakan (vaksinasi) pada prinsipnya, walaupun di Perpres 14 tahun 2021 itu, dikatakan bahwa ada beberapa sanksi termasuk misalnya sanksi penundaan pemberian bansos, sanksi penundaan pengurusan administrasi, bahkan kalau kita hubungkan dengan Undang-Undang wabah maka ada beberapa sanksi yang termasuk misalnya kurungan satu tahun ataupun 6 bulan dan denda Rp 1 juta sampai Rp 500 ribu. Itu tentunya adalah merupakan langkah langkah terakhir," ujar dia  di Jakarta, Senin (15/2/2021).

Dikatakan, pada prinsipnya vaksinasi Covid-19 ditujukan untuk membuat Indonesia segera terbebas dari pandemi. Sehingga seluruh masyarakat diminta kooperatif mengikuti program vaksinasi agar penyebaran virus mematikan asal China itu bisa segera dibasmi.

"Jadi, vaksinasi yang diberikan kepada diri kita ini bertujuan untuk melindungi dan menyelesaikan permasalahan pandemi di negara ini. Jadi, bukan hanya untuk kepentingan pribadi atau individu, tapi kepentingan masyarakat bersama," tambah dia.

Dia memastikan, pihaknya akan tetap berupaya untuk mengedepankan tindakan persuasif dalam menyikapi masyarakat yang enggan vaksinasi. Antara lain dengan melibatkan tokoh agama sampai tokoh masyarakat demi meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya vaksinasi Covid-19.

"Tentunya keterlibatan para tokoh agama, tokoh masyarakat itu menjadi penting. Ini menjadi keteladanan dan juga mengajak komunitasnya untuk melakukan vaksinasi," jelas dia.

3 dari 4 halaman

Diteken Jokowi

Ribuan Tenaga Kesehatan Jalani Vaksinasi di Rumah Sakit Darurat Covid-19 Wisma Atlet Kemayoran
Perbesar
Petugas medis akan menyuntikkan vaksin Coronavac kepada tenaga kesehatan di Rumah Sakit Darurat Covid-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Rabu (20/1/2021). Sebanyak 2.630 tenaga kesehatan di RSD Wisma Atlet divaksinasi Covid-19 secara bertahap. (Liputan6.com/Fery Pradolo)

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meneken Peraturan Presiden soal perubahan atas peraturan presiden nomor 99/2020 tentang pengadaan vaksin dan pelaksanaan vaksin dalam rangka penanggulangan pandemi Covid-19. Dalam aturan tersebut ada beberapa pasal yang dihapus dan ditambah.

Salah satunya pasal yang ditambah. Pada pasal 13 dan pasal 14 disisipkan dua pasal yakni 13A dan 13B. Dalam pasal tersebut menjelaskan aturan Kementerian Kesehatan yang bertugas melakukan pendataan dan menetapkan sasaran penerima Vaksin Covid-19.

Setiap orang yang telah ditetapkan sebagai sasaran penerima vaksin wajib mengikuti vaksin, dikecualikan dari aturan Kemenkes bagi yang tidak memenuhi kriteria sesuai indikasi vaksin Covid-19.

Tak hanya itu, setiap orang yang telah ditetapkan sasaran dan tidak mengikuti vaksinasi akan dikenakan sanksi administratif.

"Penundaan atau penghentian pemberian jaminan sosial atau bantuan sosial, penghentian layanan administrasi pemerintah, dan denda," dalam pasal 13A dikutip merdeka.com, Minggu (13/2).

Sementara itu, pengenaan sanksi administratif tersebut dilakukan oleh kementerian, lembaga, pemerintah, dan badan sesuai kewenangan. Dalam pasal 13B menjelaskan orang yang ditetapkan sebagai sasaran penerima vaksin tetapi tidak mengikuti vaksin akan menyebabkan terhalangnya pelaksanaan penanggulangan Covid-19.

"Selain dikenakan sanksi sebagai dimaksud pasal 13A dapat dikenakan sanksi sesuai ketentuan undang-undang tentang wabah penyakit penular," bunyi pasal 13b.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓