Daerah Terpencil di Jawa Tengah jadi Sasaran Pengembangan PLTS

Oleh Liputan6.com pada 16 Feb 2021, 13:00 WIB
Diperbarui 16 Feb 2021, 13:00 WIB
Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Gedung Airport Operation Control Center (AOCC) Bandara Soekarno Hatta
Perbesar
Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Gedung Airport Operation Control Center (AOCC) Bandara Soekarno Hatta (dok: AP II)

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Dinas Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah, Sujarwanto Dwiatmoko mengatakan pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Jawa Tengah mengalami peningkatan dalam satu tahun terakhir.

Geliat PLTS ini didorong program nasional tentang Desa Mandiri Energi. Selain itu, Pemprov juga memberikan apresiasi kepada daerah yang menciptakan energi listrik dari surya, biogas atau PLTMA (Pembangkit Listrik Tenaga Mikroalga.

"PLTS sudah menampakkan geliat tumbuh yang baik dalam satu tahun terakhir dan kami masih konsisten setiap tahun memberikan apresiasi kepada desa yang menginisiasi menciptakan energi listrik sendiri," kata Sujarwanto dalam Webinar Central Java Solar Day, Jakarta, Selasa (16/2).

Sujarwanto mengatakan penggunaan listrik dari tenaga surya banyak digunakan di daerah terpencil seperti Nusa Kambangan. Di Pulau Laut, penggunaan PLTS komunal ini sudah dikembangkan secara kompleks.

Warga juga setempat memanfaatkan sampah untuk menerangi listrik rumah tangga sehingga menjadi wilayah produktif. "Strategi yang mereka kembagkan PLTS komunal dengan menghybridkan sampah dan mendayagunakan penerangan rumah tangga jadi kampung laut yang produktif," jelas Sujarwanto.

Selain di Nusa Kambangan, PLTS komunal juga telah dikembangkan di Karimun Jawa. Sudah ada 3 pulau di sana yang menggunakan PLTS Komunal. Bahkan, Sujarwanto menyebut penggunaan listrik diesel hanya sebagai cadangan.

"Permintaan mereka buat PLTS komunal juga banyak. Mereka terus bilang kurang dan dieselnya ini hanya untuk cadangan," tuturnya.

Selain itu, Provinsi Jawa Tengah juga tengah memanfaatkan gas yang berasal dari rawa untuk penggantikan gas LPG yang biasa digunakan masyarakat. Proyek pemanfaatan gas alam ini sudah berjalan di beberapa wilayah.

"Dari gas-gas rawa ini bisa kita utilisasikan buat gantikan gas LPG di beberapa daerah dengan baik," kata dia.

Sujarwanto menilai bila masyarakat mendapatkan liteasi lebih baik tentang energi baru terbarukan (EBT), diyakini Jawa Tengah bisa menjadi pelopor panen energi secara cuma-cuma. Memanfaatkan sumber daya alam yang sudah ada untuk dijadikan energi yang bersih.

"Kalau semua dapat literasi yang baik tentang ini, Jateng bisa jadi pelopor panen energi gratis," kata dia mengakhiri.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

2 dari 3 halaman

Pemanfaatan PLTS Bakal Percepat Target Bauran EBT 23 Persen

Pemanfaatan Tenaga Surya Sebagai Sumber Energi Listrik Alternatif
Perbesar
Teknisi melakukan perawatan panel pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di atap Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Selasa (6/8/2019). PLTS atap yang dibangun sejak 8 bulan lalu ini mampu menampung daya hingga 20.000 watt. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Pemerintah terus menyusun langkah meningkatkan bauran energi baru terbarukan (EBT) sebesar 23 persen di tahun 2025. Tenaga surya dinilai menjadi opsi terbaik untuk mempercepat target bauran EBT tersebut.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mengatakan, pemanfaatan energi surya dinilai dapat dilakukan dengan mudah dimana saja.

"Kami lihat pendekatan paling cepat adalah melalui pemanfaatan energi surya, kan ini ada dimanapun dan nggak sulit melakukan studi kelayakan untuk membangun PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) apalagi untuk di rooftop," ujar Dadan dalam webinar Central Java Solar Day 2021, Selasa (16/2/2021).

Dadan menjelaskan, saat ini Ditjen EBTKE KESDM memiliki beberapa program untuk PLTS, misalnya PLTS terapung, contohnya PLTS cirata.

"Angkanya cukup baik dari sisi harga sudah bisa masuk di bawah BPP (Biaya Pokok Penyediaan Listrik) pembangkitan Jawa," ujar Dadan.

Menurutnya, akan lebih baik lagi jika pengembangan PLTS ini dikombinasikan dengan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Dadan bilang, hampir semua PLTA digunakan sebagai peaker yang hanya digunakan saat beban puncak dan tidak dapat digunakan selama 24 jam karena ketersediaannya semakin terbatas.

"Umumnya dipakai sore hari, nah siangnya, logisnya, PLTA digantikan dengan PLTS, jadi ini PLTA dan PLTS ini saling mengisi," ujarnya.

Sementara itu, hingga akhir 2020, jumlah bauran EBT baru mencapai 11,5 persen. Dalam waktu 5 tahun, Indonesia harus bekerja lebih keras agar target 23 persen dapat tercapai.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by