Impor Januari 2021 Turun 7,59 Persen Jadi USD 13,34 Miliar

Oleh Athika Rahma pada 15 Feb 2021, 11:33 WIB
Diperbarui 15 Feb 2021, 11:36 WIB
Kinerja Ekspor dan Impor RI
Perbesar
Tumpukan peti barang ekspor impor di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (17/7). Ekspor dan impor masing-masing anjlok 18,82 persen dan ‎27,26 persen pada momen puasa dan Lebaran pada bulan keenam ini dibanding Mei 2017. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan, impor Indonesia bulan Januari 2021 terkontraksi 7,59 persen dari bulan Desember 2020, tepatnya turun dari USD 14,44 miliar menjadi USD 13,34 miliar.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, impor Indonesia secara year on year juga mengalami kontraksi sebesar 6,49 persen dari bulan Januari 2020.

"Ini terjadi karena impor non migas masih naik sementara impor migas turun 9 persen. Jadi kalau tadi ekspornya naik bagus, ini impornya terkontraksi," ujar Suhariyanto dalam konferensi pers virtual, Senin (15/2/2021).

Adapun impor secara year on year terjadi karena masih adanya penurunan impor baik dalam sektor migas sebesar 21,9 persen dan untuk sektor non migas sebesdar 4 persen.

Menurut penggunaan barang, impor mengalami kontraksi secara keseluruhan mulai dari aspek konsumsi, bahan baku/penolong, maupun barang modal. Konsumsi impor menurun 17 persen month to month dan 2,92 persen year on year menjadi USD 1,42 miliar.

Kemudian, impor bahan baku/penolong terkontraksi -2,62 persen month to month dan -6,10 persen year on year menjadi USD 9,93 miliar. Lalu, untuk impor barang modal turun -21,23 persen month to month dan -10,72 persen year on year menjadi USD 1,99 miliar.

2 dari 3 halaman

Subsitusi Impor Ditargetkan Bisa Tembus Rp 152 Triliun di 2022

Perdagangan Ekspor Impor di Masa Pandemi
Perbesar
Sejumlah truk masuk ke dalam kapal di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (4/12/2020). Deputi Bidang Perekonomian Setkab Satya Bhakti Parikesit menyampaikan upaya pemulihan ekonomi di tengah pandemi pemerintah telah mengeluarkan stimulus di sektor perdagangan. (merdeka.com/Imam Buhori)

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita, meluncurkan program substitusi impor 35 persen pada 2022. Targetnya, nilai subtitusi bisa mencapai Rp 152,83 triliun atau 35 persen dari potensi impor 2019 senilai Rp 434 triliun.

"Langkah-langkah yang akan kami lakukan adalah penurunan impor melalui substitusi impor dan peningkatan utilisasi sektor industri,” ujarnya dalam rapat bersama DPR, Jakarta, Selasa (9/2/2021).

Langkah-langkah untuk mengakselerasi program substitusi impor dan mendorong akselerasi pertumbuhan industri pada 2021, akan diimplementasikan ke dalam empat program utama.

“Yaitu, program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN), kebijakan harga gas, program hilirisasi mineral, serta program Bangga Buatan Indonesia,” jelas dia.

Implementasi program P3DN akan dapat memberikan kesempatan kepada industri-industri di Indonesia untuk tumbuh. Potensi dari APBN mencapai Rp 607 triliun, yang terdiri atas Belanja Barang senilai Rp 357,4 triliun dan Belanja Modal Rp 250,3 triliun.

"Sejak Timnas P3DN diluncurkan pada tahun 2018, Kemenperin telah mengeluarkan sertifikat TKDN untuk lebih dari 10.000 produk. Tentunya ke depan kami akan akselerasi lagi,” ujarnya.

Terkait kebijakan harga gas, pada 2020 terdapat 176 perusahaan dari tujuh sektor yang telah mendapat fasilitas tersebut. “Dengan adanya fasilitasi ini, beberapa perusahaan mulai merencanakan untuk memperbarui teknologi agar dapat memanfaatkan gas bumi dengan lebih efisien,” tuturnya.

Selain itu, Agus mengemukakan bahwa penerapan harga gas di Jawa bagian Barat telah ter-cover 100 persen. Sedangkan Jawa bagian Timur telah mencapai 82 persen, serta wilayah Sumatera sekitar 20-30 persen.

“Kami menargetkan agar semua sektor penerima kebijakan penurunan harga gas ini dapat bertambah dan coveragenya makin meningkat,” katanya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓