Ekonomi China dan Vietnam Lebih Perkasa Dibanding Indonesia, Apa Resepnya?

Oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana pada 05 Feb 2021, 11:51 WIB
Diperbarui 05 Feb 2021, 11:52 WIB
FOTO: Beijing Bersiap Menyambut Jelang Tahun Baru Imlek
Perbesar
Seorang pekerja memasang lentera tradisional Tiongkok di sepanjang gang menjelang Tahun Baru Imlek di Beijing, China, 2 Februari 2021. Imlek tahun ini jatuh pada tanggal 12 Februari 2021. (NOEL CELIS/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia masih terjebak di jurang resesi, setelah pertumbuhan ekonomi minus 2,07 persen pada kuartal IV 2020. Tak hanya Indonesia, negara-negara mitra dagang Indonesia lain seperti Amerika Serikat (AS), Jepang hingga Korea Selatan pertumbuhan ekonominya juga mandek akibat pandemi Covid-19 berkepanjangan.

Namun, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kecuk Suhariyanto mencatat, pengecualia diberikan kepada China dan Vietnam yang perekonomiannya tetap tumbuh positif di sepanjang 2020.

Itu terlihat pada pertumbuhan ekonomi China yang melambung hingga 6,5 persen pada kuartal IV 2020 karena berbagai indikator.

"Kita lihat bahwa pada triwulan IV tahun 2020 perekonomian Tiongkok tumbuh 6,5 persen karena adanya kenaikan pada sektor manufaktur dan juga penjualan retail," kata Suhariyanto dalam sesi teleconference, Jumat (5/2/2021).

Menurut dia, capaian itu turut ditopang oleh kegiatan belanja dengan negara mitra dagang yang tumbuh positif. Seperti dengan Indonesia, yang angka ekspornya ke Negeri Tirai Bambu meningkat pesat di triwulan IV 2020, baik secara kuartalan (qtq) atau secara tahunan (YoY).

Alhasil di sepanjang 2020, pertumbuhan ekonomi China terpantau surplus 2,3 persen.

Vietnam bahkan melaporkan pertumbuhan ekonomi yang lebih perkasa. Negara tetangga China ini mencatatkan pertumbuhan 4,5 persen pada kuartal IV 2020, dan surplus 2,9 persen di sepanjang tahun lalu, lebih tinggi dari Tiongkok.

Kendati begitu, Suhariyanto melanjutkan, Indonesia tak perlu berkecil hati lantaran pertumbuhan ekonominya masih lebih bagus ketimbang beberapa negara mitra dagang besar lainnya.

"Negara-negara mitra dagang lainnya misalnya Amerika Serikat yang jadi negara tujuan ekspor terbesar kedua Indonesia, pertumbuhan ekonominya pada triwulan keempat ini masih kontraksi 2,5 persen. Singapura alami kontraksi 3,8 persen, demikian juga untuk Jepang, Korea Selatan, Hong Kong, dan Uni Eropa," tuturnya.

Secara tahunan, pertumbuhan ekonomi negara-negara tersebut juga masih lebih anjlok daripada Indonesia. Amerika Serikat terpantau minus 3,5 persen, Singapura minus 5,8 persen, Hong Kong minus 6,1 persen, dan Uni Eropa minus 6,4 persen.

2 dari 3 halaman

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Sepanjang 2020 Minus 2,07 Persen

Target Pertumbuhan Ekonomi
Perbesar
Suasana gedung-gedung bertingkat yang diselimuti asap polusi di Jakarta, Selasa (30/7/2019). Badan Anggaran (Banggar) DPR bersama dengan pemerintah menyetujui target pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran angka 5,2% pada 2019 atau melesat dari target awal 5,3%. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 mengalami kontraksi sebesar 2,07 persen. Sementara itu pada triwulan IV 2020 pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi sebesar 0,42 persen dan secara year on year kontraksi sebesar 2,19 persen.

"Pertumbuhan ekonomi secara q to q mengalami kontraksi sebesar 0,42 persen dan pertumbuhan ekonomi y on y dibanding 2019 kontraksi 2,19 persen. Secara kumulatif pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2019 mencapai kontraksi 2,07 persen," ujar Kepala BPS Suhariyanto dalam rilis Pertumbuhan Ekonomi secara daring, Jakarta, Jumat (5/2/2021).

Perekonomian di berbagai negara pada triwulan IV mulai membaik dibanding triwulan sebelumnya. Namun perbaikan belum terlalu signifikan dan masih dibayangi oleh kekhawatiran Virus Corona.

Pada triwulan IV berbagai negara kembali melakukan lockdown akibat peningkatan kasus Virus Corona. Beberapa negara masih kontraksi, yang positif hanya Tiongkok dan Vietnam.

Inflasi diberbagai negara di 2020 juga mengalami perlambatan signifikan bahkan mengarah ke deflasi. Hal ini disebabkan oleh pembatasan mobilisasi juga pergerakan masyarakat diseluruh negara.

"Pandemi menghantam dua sisi, baik dari sisi demand maupun supply," kata Suhariyanto dalam melaporkan laju pertumbuhan ekonomi.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓