Operasi Pasar, Kementan Jual Kedelai Seharga Rp 8.500 per Kg

Oleh Liputan6.com pada 05 Feb 2021, 10:36 WIB
Diperbarui 05 Feb 2021, 10:36 WIB
Perajin Tahu Kembali Berproduksi
Perbesar
Pekerja menuang kedelai rebus saat proses pembuatan tahu di Jakarta, Senin (4/1/2021). Setelah melakukan mogok produksi selama 1 hingga 3 Januari 2021 akibat naiknya harga kacang kedelei impor, kini para perajin tahu mulai kembali beroperasi. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan) berusaha mwwujudkan stabilisasi pasokan dan harga kedelai di Tanah Air. Salah satunya dengan memantau operasi pasar kedelai di Primkopti Brebes Sengkuyung, Jawa Tengah.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menjelaskan, operasi pasar dilakukan untuk mendekatkan distribusi kedelai agar dapat menopang perajin tahu tempe yang dalam satu bulan terakhir mengalami permasalahan kenaikan harga.

Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementan Agung Hendriadi menegaskan, upaya jangka pendek dalam mendorong stabilisasi pasokan dan harga dilakukan dengan mekanisme penyaluran langsung dari importir ke Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) di Pulau Jawa.

Melanjutkan Gerakan Stabilisasi Pasokan dan Harga Kedelai yang telah dilakukan di beberapa wilayah Pulau Jawa sebelumnya, Kepala Pusat Distribusi dan Cadangan Pangan Risfaheri terus mengawal gerakan stabilitas kedelai ini serta memastikan bahwa di semua wilayah, harga yang sampai kepada pengrajin tahu dan tempe adalah Rp 8.500 per kg.

"Upaya jangka pendek ini kita terus kawal, agar pengrajin tahu tempe dapat terus berproduksi dan konsumen juga mendapatkan harga tahu tempe tidak terlalu mahal," ungkap Risfaheri dalam pernyataannya, Jumat (5/2/2021)

Dia pun berharap upaya stabilisasi pasokan dan harga kedelai dengan mekanisme pasokan kedelai langsung dari importir ke pengerajin tempe tahu melalui Gakoptindo. Sehingga dapat sama-sama menguntungkan baik importir, Gakoptindo maupun pengrajin.

"Tentunya kedepan produksi dalam negeri akan terus ditingkatkan. Sehingga akan mengurangi ketergantungan kita dan produksi tahu tempe tidak terganggu fluktuasi harga kedelai impor," tegasnya.

Sementara itu, Pengrajin Unit Pasar Batang Endang Sumiyati mengungkapkan sangat senang dengan adanya operasi pasar kedelai. Dia berharap kedelai yang diterima berkualitas baik dengan harga yang lebih murah dibanding harga pasar.

"Semoga dengan adanya Gerakan Stabilitas Kedelai ini harga kedelai yang tinggi di pasaran juga ikut turun," kerasnya.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Bos Bulog Bongkar Penyebab Lonjakan Harga Kedelai yang Bikin Tempe Tahu Mahal

Harga Kedelai Naik, Pabrik Tahu Tempe Berhenti Beroperasi
Perbesar
Aktivitas pekerja di pabrik tahu tempe yang berhenti operasi di kawasan Duren Tiga, Jakarta, Sabtu (2/12/2021). Puskopti DKI Jakarta pun menyatakan mogok produksi ini akan dilakukan oleh sekira 5.000 pelaku usaha kecil menengah yang ada di bawah naungannya. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Sebelumnya, Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso memastikan penyebab utama meroketnya harga kedelai beberapa waktu lalu bukan diakibatkan oleh keterbatasan impor. Menurutnya, kenaikan harga bahan baku utama tahu dan tempe tersebut justru diakibatkan oleh praktik kartel.

"Tentang kenaikan harga kedelai kemarin bukan kurang atau karena keterbatasan dari luar negeri. Tapi karena permainan kartel importir kedelai," tegas pria yang akrab disapa Buwas dalam acara Perkenalan Direksi dan Strategi Perum Bulog 2021, Rabu (3/2/2021).

Buwas mengungkapkan, suburnya praktik kartel di tanah air tak lepas dari berkurangnya wewenang Bulog untuk melakukan penugasan impor sejumlah komoditas pangan, termasuk kedelai. Walhasil, sejumlah importir lebih leluasa untuk menaikkan harga jual yang justru membebani konsumen.

"Pedahal dalam regulasi itu untuk impor sembilan bahan pokok itu dilakukan oleh negara yaitu Perum Bulog. Tapi mekanismenya (impor) harus melalui penugasan yang jumlahnya itu kecil," terangnya.

Maka dari itu, Buwas berharap volume penugasan impor komoditas pangan oleh Bulog bisa ditambah dalam jumlah besar. Sehingga dapat memberantas praktik kartel dan lebih terjaminnya kestabilan harga berbagai bahan pangan termasuk kedelai.

"Apalagi asosiasi perajin tahu tempe juga banyak yang menghubungi saya Dirut Bulog kenapa tidak impor kedelai dalam jumlah besar, sehingga harga kedelai untuk tempe bisa dikurangi. Saya jelaskan kalau Bulog itu harus melalui penugasan. Nah, akhirnya mereka baru tau kalau Bulog tidak bisa impor tanpa penugasan," keras dia mengakhiri.

Sebelumnya, Ketua Sahabat Perajin Tempe Pekalongan (SPTP), Mua'limin meminta pemerintah Jokowi berani mengambil terobosan untuk mengendalikan harga kedelai impor. Salah satunya dengan memberi wewenang penuh terhadap Perum Bulog sebagai importir tunggal komoditas utama bahan pembuat tempe tersebut.

"Harga kedelai (impor) ini terlalu besar sekali kenaikannya. Biasanya per kuintal itu harga kedelai impor antara Rp600.000 sampai Rp700.000, sekarang sudah Rp900.000 sampai Rp950.000. Harapannya saya kepada pemerintah, khususnya Presiden Jokowi supaya bisa menurunkan atau mengendalikan harga kedelai impor bisa ditangani langsung oleh Bulog aja sendiri," kata dia saat dihubungi Merdeka.com, Selasa (5/1).

Mua'limin menyakini, melalui cara tersebut pemerintah akan dimudahkan untuk melakukan pengawasan terhadap harga kedelai impor. Menyusul importir yang ada, yakni Bulog merupakan kepanjangan tangan langsung pemerintah.

"Kalau wewenang importir dialihkan semua ke Bulog saya yakin harga (kedelai) jadi bisa dikontrol," jelasnya.

Selain itu, berkurangnya jumlah importir komoditas kedelai juga diharapkan akan membasmi praktik permainan harga. Mengingat, jumlah importir yang terlampau banyak justru dianggap menyulitkan pemerintah maupun otoritas dalam upaya penindakan praktik kotor tersebut.

"Soalnya selama ini kita menduga ada oknum importir yang bisa memainkan harga kedelai ini. Kalau harga naik kayak gini, otomatis kita rakyat kecil yang dirugikan," seru dia mengakhiri.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya