Menteri Trenggono Jajaki Kerjasama dengan Vietnam soal Budidaya Perikanan

Oleh Liputan6.com pada 04 Feb 2021, 17:15 WIB
Diperbarui 04 Feb 2021, 17:15 WIB
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono melakukan kunjungan ke Balai Besar Riset Budidaya Laut dan Penyuluhan Perikanan (BBRBLPP) di Kabupaten Buleleng, Bali. (Dok KKP)
Perbesar
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono melakukan kunjungan ke Balai Besar Riset Budidaya Laut dan Penyuluhan Perikanan (BBRBLPP) di Kabupaten Buleleng, Bali. (Dok KKP)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengungkapkan rencananya untuk berkolaborasi dengan Vietnam dalam bidang sektor perikanan.

Dia yakin melalui kerja sama dengan negara yang telah memiliki keberhasilan dalam budidaya, sektor budidaya perikanan Indonesia bisa lebih baik dan berdaya saing tinggi.

Dia menyebut, Vietnam memiliki pengalaman keberhasilan pada bidang budidaya, khususnya dalam teknologi pembesaran lobster. Sehingga, ini sesuai dengan misi Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk memajukan budidaya lobster di Indonesia.

"Kita bisa berkolaborasi. Indonesia dan Vietnam kan sudah memiliki hubungan baik sejak lama. Kita juga memiliki jalur geografi yang hampir mirip. Kita bisa barengan," ujar dia dalam pernyataannya, Kamis (4/2).

Oleh karena itu, dia menginginkan segera bisa bersinergi bersama Vietnam untuk bidang pengolahan produk perikanan. Harapannya, ke depannya Indonesia dan Vietnam dapat selalu menjalin sinergi yang saling menguntungkan, khususnya dalam produk unggulan perikanan masing-masing.

"Sehingga dapat menjadi salah satu negara ASEAN yang berkontribusi terhadap penyediaan pangan dunia," terangnya.

Sementara itu, Duta Besar RI untuk Vietnam, Denny menyambut baik rencana dari Menteri Trenggono untuk menjalin kerja sama antara Indonesia dan Vietnam. Menurutnya, potensi kelautan dan perikanan Indonesia sangat kaya dan masih dapat dieksplor lebih dalam, khususnya dalam peningkatan kerja sama kedua negara.

Walhasil, dia berharap kerja sama Indonesia dan Vietnam ke depannya bisa lebih kuat. "Khususnya dalam sektor kelautan dan perikanan," tutupnya.

Reporter: Sulaeman

Sumber: Merdeka.com

2 dari 4 halaman

Punya Turunan Ekonomi Besar, KKP Kembangkan Budidaya Perikanan di 2021

Budidaya Ikan Lele Kala Pandemi COVID-19
Perbesar
Seorang warga memberi pakan untuk ikan lele budidaya di Tangerang, Jumat (6/11/2020). Pemerintah setempat bersama warga memanfaatkan lahan untuk bubidaya ikan lele guna menggerakan ekonomi masyarakat di masa pandemi COVID-19. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) akan menggerakkan budidaya perikanan di 2021. Untuk pengembangannya, KKP akan menggalakkan sinergi dengan lintas sektor.

"Kita pilih subsektor ini sebagai salah satu prioritas kerja karena budidaya adalah kelestarian, kebersinambungan untuk generasi berikut. Kalau tidak budidaya maka akan habis sumber daya perikanan," ungkap Trenggono, seperti dikutip dari keterangan tertulisnya pada Selasa (19/1/2021).

Diungkapkannya, budidaya perikanan yang dikembangkan tidak hanya komoditas ikan air tawar tapi juga air payau, seperti udang vaname, kerapu, dan bawal. "Untuk itu baik di laut maupun di darat, kita akan gerakkan budidaya termasuk udang dan sebagainya," tambahnya.

Menurutnya, budidaya perikanan memiliki turunan ekonomi yang cukup banyak, seperti jual beli pakan, pembenihan hingga usaha pembesaran. Sehingga, perputaran ekonomi yang dihasilkan pun besar dan menciptakan peluang lapangan kerja untuk masyarakat.

Rencananya, untuk pengembangan budidaya perikanan, KKP akan bersinergi dengan lintas sektor. Baik dengan kepala daerah, elemen masyarakat, instansi pemerintah lainnya, termasuk dengan perguruan tinggi.

Kerjasama dengan perguruan tinggi dinilainya sangat penting, khususnya untuk memperkuat riset dan inovasi teknologi di sektor kelautan perikanan. Melalui pemanfaatkan teknologi, jumlah produksi yang dihasilkan bisa lebih banyak, baik untuk komoditas perikanan dan juga pakan.

"Saya berharap pakan ini bisa dikembangkan antara pemerintah dan perguruan tinggi, sehingga potensi impor bahan baku pakan seperti tepung ikan, tepung kedelai dan tepung gandum tidak ada lagi," jelas Trenggono.

3 dari 4 halaman

KKP Ingin Indonesia Sontek Australia hingga Vietnam Kembangkan Budidaya Perikanan

Budidaya Ikan Cupang
Perbesar
Pekerja menyortir anakan ikan cupang hias yang siap dibesarkan di pusat budidaya cupang Boston Betta Serpong, Tangerang Selatan, Selasa (8/12/2020). Dalam sebulan Boston Betta mampu menjual Ikan cupang hias sebanyak 10 ribu ekor dengan harga Rp20 ribu - Rp1,5 juta per ekor. (merdeka.com/Dwi Narwoko)

Sebelumnya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tengah mendorong subsektor perikanan budidaya sebagai leading sektor perekonomian nasional.

Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono mengatakan, subsektor perikanan budidaya memiliki potensi besar untuk dikembangkan dan menjadi salah satu sumber peningkatan kesejahteraan masyarakat, penyediaan lapangan kerja serta mendukung ketahanan pangan.

"Paradigma peran UPT (Unit Pelayanan Teknis) dari hanya sebatas pelayan masyarakat dan sebagai agent of change serta pemberi solusi, saat ini bertambah perannya sebagai katalisator ekonomi, artinya bukan hanya sebagai pusat informasi teknologi saja tetapi mampu memberikan dampak sebagai penghela kegiatan ekonomi para pembudidaya dan berkontribusi bagi perekonomian nasional," jelas Trenggono dalam keterangannya, Senin (11/1/2021).

Trenggono menegaskan, Indonesia harus bisa kembangkan perikanan budidaya seperti perikanan budidaya di Australia, Norwegia, Jepang, dan juga Vietnam yang sektor perikanan budidayanya sudah berkembang karena Indonesia memiliki lahan dan komoditas yang sangat potensial.

Adapun, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) mempunyai 15 UPT yang tersebar di seluruh Indonesia. Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Seobjakto mengatakan, ke depan subsektor perikanan budidaya diharapkan fokus kepada pengembangan komoditas berbasis kawasan dan terintegrasi.

"Seperti Kampung Nila, Kampung Udang, Kampung Lobster, Kampung Rumput Laut. Kerjasama pengembangannya nanti dengan Pemerintah Provinsi dan juga Kabupaten/Kota. Pengembangan bisnis ini diharapkan berkontribusi lebih besar lagi bagi devisa negara, mendongkrak pertumbuhan nasional serta berdampak positif bagi kesejahteraan masyarakat," kata Slamet. 

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓