Pertamina Power Indonesia Bakal Produksi Baterai Sel untuk Kendaraan Listrik

Oleh Liputan6.com pada 02 Feb 2021, 19:30 WIB
Diperbarui 02 Feb 2021, 19:30 WIB
Mengisi baterai mobil listrik
Perbesar
Mengisi baterai mobil listrik (Arief/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - PT Pertamina Power Indonesia akan memproduksi baterai sel dalam proyek kendaraan listrik berbasis baterai. Anak perusahaan Pertamina ini akan bekerja sama dengan perusahaan lain yang sudah biasa memproduksi kendaraan listrik.

"Belum ada satu institusi yang membuat baterai sel, kita akan bekerja sama dengan yang patner bisa membangun EV Battery (kendaraan listrik)," kata Direktur Utama PT Pertamina Power Indonesia, Heru Setiawan dalam BUMN Media Talk berjudul EV Battery: Masa Depan Ekonomi Indonesia, secara virtual, Jakarta, Selasa (2/2).

Dalam hal ini, Pertamina Powe akan membuat baterai pack yang merupakan bagian dari ekosistem kendaraan listrik sebagai salah satu komponennya. Sebab dalam bisnis kendaraan listrik berbasis baterai ini juga terdapat industri pelengkap lainnya seperti dashboard, kaca, dan sebagainya yang merupakan turunan dari produk petrochemical.

Dalam industri ini, tambah Heru, produsen listrik juga akan melakukan penyesuaian komponen kendaraan. Sebab baterai sebagai salh satu komponennya memiliki bobot yang tidak ringan.

"Mobil yang sekarang tidak terlalu berat, EV ini akan berat, makanya komponen lainnya akan dikurangi beratnya," kata dia.

Selain itu, pihaknya juga akan mengelola kilang-kilang minyak yang ada untuk membuat komponen yang diproduksi dari petrochemical. Produk turunan ini nantinya bisa digunakan untuk membuat komponen mobil lainnya. Sehingga diharapkan bisa mengurangi ketergantungan impor produk petrochemical.

"Ini sejalan dengan kilang kita yang akan diproduksi buat petrochemical untuk membuat komponen mobil dari body sampai ban, ini diharapkan bisa mengurangi ketergantungan kita dengan impor," kata dia mengakhiri.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

2 dari 4 halaman

Stafsus Erick Thohir: Pengembangan Baterai Kendaraan Listrik Tak Terkait Politik

Mobil Listrik GIIAS 2019
Perbesar
Teknologi fast charging pada mobil listrik DFSK Glory E3 dipamerkan dalam GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2019 di ICE BSD, Tangerang, Jumat (19/7/2019). Glory DFSK E3 hanya perlu waktu 30 menit untuk mencapai 80 persen daya baterai. (Liputan6.com/Fery Pradolo)

Staf Khusus III Menteri BUMN, Arya Sinulingga, menegaskan pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik tidak ada kaitaannya dengan politik. Menurutnya, rencana ini sama sekali tidak menjadi alat politik menuju Pemilihan Presiden 2024 mendatang.

Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Ramson Siagian, dalam RDP bersama Tim Percepatan Proyek EV Battery Nasional pada Senin (1/2/2021), mengingatkan program ini jangan hanya sekadar menjadi retorika politik menuju 2024.

"Soal politik itu tidak ada karena jauh-jauh ini sudah ada pembentukan holding. Tidak ada hubungannya sama sekali," kata Arya dalam diskusi virtual mengenai baterai kendaraan listrik (EV) pada Selasa (2/2/2021).

Arya mengungkapkan, Indonesia nantinya pun sudah akan memproduksi baterai kendaraan listrik sebelum 2024. Ia menegaskan, proyek pengembangan ekosisitem baterai kendaraan listrik ini tujuannya untuk transisi energi.

"Tahun 2023 pun sudah berproduksi, jadi ini real. Kalau nanti pakai motor listrik, bisa pakai baterai buatan Indonesia. Jadi ini tujuannya untuk transisi energi dan kita sudah diakui dunia," tuturnya.

Ia pun menyebutkan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) sudah diakui oleh perusahaan kendaraan listrik asal Amerika Serikat (AS), Tesla. Antam merupakan salah satu perusahaan BUMN di balik Industri Battery Holding (IBH), yang bertujuan mengembangkan industri baterai kendaraan listrik di Tanah Air.

"Di website Tesla itu, salah satu yang diharapkan untuk joint partner mereka itu PT Antam. Tidak mungkin mereka mau main-main seperti itu," sambungnya.

Pada bulan lalu, melalui laporan Tesla Conflict Minerals Report, diketahui sejumlah perusahaan smelter dari seluruh dunia yang masuk rantai produksi Tesla, dan salah satunya adalah Antam.

3 dari 4 halaman

Masuk Rantai Produksi Tesla, Begini Komentar Antam

Tesla
Perbesar
Logo Tesla

Melalui laporan Tesla Conflict Minerals Report, diketahui sejumlah perusahaan smelter dari seluruh dunia yang masuk rantai produksi Tesla, termasuk perusahaan BUMN, PT Aneka Tambang Tbk (Antam).

Menanggapi hal tersebut, Antam mengaku sangat terbuka menjalin kemitraan dengan partner strategis tak terkecuali Tesla yang disebut-sebut akan berinvestasi di Indonesia dalam waktu dekat.

"Terkait dengan hal ini, pada prinsipnya Perusahaan terbuka dalam menjalin kemitraan dengan partner strategis berdasarkan profitabilitas menguntungkan dalam mengembangankan proyek-proyek hilirisasi, baik nasional maupun internasional," kata SVP Corporate Secretary, Kunto Hendrapawoko kepada Liputan6.com, ditulis Rabu, (27/1/2021).

Selain itu, Antam juga menyebut bila kerja sama dengan mitra yang memiliki akses teknologi menjadi salah satu cara perusahaan mengembangkan mineral olahan yang dimiliki.

"Terutama mitra kerja yang memiliki akses terhadap teknologi, kapabilitas akses market, dan pendanaan untuk mengembangkan produksi mineral olahan baru dari cadangan yang yang dimiliki Perusahaan," ujar dia. 

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓