Tembus 50 Negara, Nilai Ekspor Perikanan Makassar Capai Rp 5,4 Triliun di 2020

Oleh Tira Santia pada 01 Feb 2021, 12:00 WIB
Diperbarui 01 Feb 2021, 12:00 WIB
Ekspor Perikanan Melonjak 24 Persen
Perbesar
Pedagang mengecek ikan di Pelelangan ikan Muara Baru, Jakarta, Sabtu (6/7/2019). Angka ini mengalami kenaikan 24% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya mencapai Rp32 triliun. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Ekspor komoditas kelautan dan perikanan dari Makassar, Sulawesi Selatan sepanjang 2020 telah menjangkau 50 negara. Total ekspor keseluruhan 158.050,46 ton dengan nilai Rp5,47 triliun.

Kepala Balai Besar Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BBKIPM) Makassar, Sitti Chadidjah, memaparkan lima besar negara tujuan ekspor dari Makassar ialah Tiongkok dengan volume 115.083,21 ton senilai Rp2,40 triliun.

Disusul Korea Selatan dengan 5.787,58 ton senilai Rp157,68 miliar dan Vietnam 5.607,72 ton senilai Rp63,07 miliar. Kemudian Amerika Serikat sebanyak 5.3.72,92 ton senilai Rp803,41 miliar dan Jepang dengan volume 4.675,29 ton senilai Rp620,57 miliar.

"Itu dari lima besar negaranya, tapi kalau secara keseluruhan, total ekspor 158.050,46 ton dengan nilai Rp5,47 triliun," jelas Chadidjah.

Terdapat lima komoditas asal Makassar yang diburu di pasar ekspor selama 2020. Kelimanya ialah rumput laut yang telah diekspor sebanyak 125.463,81 ton dengan nilai Rp1,78 triliun. Kemudian Karagenan yang menyentuh nilai Rp913,91 miliar dengan volume ekspor mencapai 10.589,40 ton.

Selanjutnya udang vanamei dengan jumlah 6.821,89 ton senilai Rp830,50 miliar, lalu tuna dengan jumlah 2.420,50 ton senilai Rp313,04 miliar. Terakhir gurita dengan jumlah 2.147,53 senilai Rp128,70 miliar.

"Kurang lebih itu lima komoditas primadona yang dikirim dari Makassar," sambungnya.

Menurut Chadidjah, unit pengolah ikan (UPI) yang terlibat di pasar ekspor pada tahun lalu mengalami kenaikan dibanding tahun 2019. Jika pada 2019 keterlibatan UPI sebanyak 118, pada 2020 meningkat menjadi 130.

"Kita akan terus membuka kran ekspor, karena dengan ekspor, ada geliat ekonomi di masyarakat," kata Chadidjah seperti dikutip dari keterangan resminya pada Senin (1/2/2021).

2 dari 3 halaman

Menteri KKP Trenggono Targetkan PNBP Perikanan Tangkap di Atas Rp 595 Miliar

Pasar Ikan Modern Muara Baru Mulai Ditempati Pedagang
Perbesar
Pedagang menyortir ikan di Pasar Ikan Modern (PIM) Muara Baru, Jakarta, Kamis (21/2). PIM Muara Baru memiliki berbagai fasilitas. (Merdeka.com/Iqbal Nugroho)

Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, menyampaikan tiga program terobosan 2021-2024 dalam rapat kerja perdana dengan Komisi IV DPR di Gedung DPR Jakarta, Rabu (27/1/2021). Melalui tiga program terobosan ini, KKP menargetkan peningkatan pendapatan negara dari sektor kelautan dan perikanan hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Salah satu prioritas tersebut adalah peningkatan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sub-sektor perikanan tangkap bisa lebih dari Rp 595 miliar.

"Saya mohon dukungan supaya PNBP dari perikanan tangkap tidak lagi Rp 595 miliar, tapi bisa lebih tinggi untuk kepentingan bangsa ini," ungkap Trenggono dalam keterangan tertulis pada Rabu (27/1/2021).

Dua prioritas lain termasuk pengembangan perikanan budidaya yang didukung oleh Badan Riset Kelautan dan Perikanan untuk keberlangsungan sumber daya laut dan perikanan darat, serta pembangunan kampung-kampung perikanan budidaya air tawar, payau dan laut, seperti Kampung Lobster, Lele, Nila, Kakap, hingga Kampung Rumput Laut.

Trenggono menjelaskan, alasannya memilih pengembangan perikanan budidaya demi menjaga ekosistem laut dan darat itu sendiri. Sebab perikanan budidaya yang dikembangkan berdasarkan hasil penelitian dan penerapan inovasi teknologi. Selain itu, tren dunia juga memilih jalan serupa seperti Jepang, Norwegia, hingga Tiongkok.

"Saya sedang me-review semua. Produksi budidaya dalam 10-15 tahun ke depan akan meningkat tajam, sementara produksi perikanan tangkap akan menurun dengan tajam. Dengan meningkatkan kegiatan budidaya, ekosistem dan populasi ikan di laut akan terjaga sehingga generasi berikut masih akan terpenuhi nutrisinya dari hasil perikanan", tutur Trenggono.

Dari pengembangan perikanan budidaya ini juga, Trenggono berharap Indonesia memiliki komoditas unggulan kedepannya seperti lobster.

Sementara pemilihan Kampung Perikanan Budidaya bertujuan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, khususnya di masa pandemi. Kampung-kampung budidaya ditargetkan menjadi sumber ekonomi baru, yang tidak hanya diisi oleh kegiatan produksi tapi juga aktivitas ekonomi lainnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓