Terkendala Cuaca, Lonjakan Harga Pangan Bakal Berlanjut hingga Februari 2021

Oleh Tira Santia pada 01 Feb 2021, 09:46 WIB
Diperbarui 01 Feb 2021, 09:46 WIB
BI Prediksi Inflasi Capai 0,42 Persen pada Januari 2020
Perbesar
Aktivitas jual beli beli di pasar kawasan Glodok, Jakarta, Selasa (28/1/2020). Bank Indonesia memproyeksikan terjadi inflasi di Januari 2020 bersumber dari beberapa komoditas pangan yang mengalami tekanan harga, di antaranya telur ayam akan berkontribusi juga ke inflasi. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif INDEF Tauhid Ahmad, memprediksi kenaikan pangan akan terus berlanjut hingga Februari 2021. Hal itu dipengaruhi oleh faktor cuaca yang membuat produksi dan distribusi terganggu.

“Kalau musim hujan untuk komoditas sayur mayur pasti naik, karena tidak ada yang tumbuh. Otomatis produksi turun drastis, apalagi beberapa wilayah ada yang terendam banjir. Nanti sampai Februari kenaikan harganya akan lebih besar untuk sayur,” kata Tauhid saat dihubungi oleh Liputan6.com, Senin (1/2/2021).

Apalagi di awal tahun sudah banyak permasalahan pangan yang menyebabkan kelangkaan dan harga melonjak, seperti kedelai, daging sapi, cabai rawit merah. Padahal menurut Tauhid masalah itu harus diantisipasi oleh Pemerintah lebih awal.

“Kemungkinan naik adalah ada gangguan pada saat di daerah-daerah produsen itu tidak mengalir ke pasar-pasar, cuaca, atau adanya keterlambatan dari sisi Pemerintah mengeluarkan simpanannya untuk memenuhi daerah-daerah yang minus seperti Jakarta, Batam, dan lainnya,” ujarnya.

Kendati beberapa pangan harganya mahal, namun permintaan akan komoditas tersebut masih cukup banyak. Artinya permintaan di masyarakat sudah mulai berangsur pulih, kata Tauhid.

Adapun ia menyoroti perihal daging sapi, seharusnya pemerintah bisa cepat tanggap dalam memenuhi kebutuhan di dalam negeri. Ia mengusulkan Pemerintah bisa mengantisipasi dengan substitusi daging sapi diganti daging kerbau.

“Untuk daging sapi seharusnya tidak menjadi masalah karena kalau kurang, harus cepat melakukan impor atau substitusi dengan daging kerbau, walaupun sulit,” katanya.

Tauhid pun menyarankan agar Pemerintah segera melakukan operasi pasar untuk mencegah inflasi berkelanjutan. Disarankan juga untuk kedepannya Pemerintah bisa membenahi pencadangan pangan domestik dan menyesuaikan dengan suplai dari global.

Demikian Tauhid menegaskan, dari sisi ketahanan pangan akan terus mengalami gangguan-gangguan namun tidak terlalu banyak. Asal Pemerintah bisa mengantisipasi ketepatan waktu kapan harus impor.

“Kalau lambat maka harga akan naik. Impor memang pilihan terakhir jika produksi terganggu, tapi jangan sampai terlambat. Sehingga petani tidak dapat untung dan pembeli terimbas harga yang mahal,” pungkasnya.

2 dari 4 halaman

Permintaan Tinggi, Harga Pangan Kerap Naik di Akhir Pekan

Jelang Ramadan, Kemendag Jamin Pasokan Sembako Aman
Perbesar
Aktivitas perdagangan di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta, Jumat (20/4). Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengklaim harga pangan terkendali. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Abdullah Mansuri menyoroti kenaikan harga beberapa komoditas pangan pada akhir pekan. Menurutnya, kenaikan harga sering terjadi karena tingginya permintaan.

"Harga pangan ini naik karena Sabtu atau Minggu jadi permintaan lumayan naik," kata Abdullah Mansuri kepada Liputan6.com, Sabtu (30/1/2021).

Namun, dia mengatakan kenaikan harga yang terjadi saat ini cenderung tidak setinggi masa-masa sebelumnya. Sehingga untuk beberapa komoditas secara harga tidak ikut naik.

"Yang lain sih standar karena permintaannya enggak sulit seperti di tahun-tahun sebelumnya. Ada penurunan permintaan," ujar dia.

Merujuk informasi dari laman Informasi Pangan Jakarta, harga untuk sejumlah komoditas pangan pada Sabtu hari ini memang terpantau sedikit naik dibanding satu hari sebelumnya, Jumat (29/1/2021).

Seperti harga daging ayam broiler atau ras yang naik Rp 229 menjadi Rp 37.423 per ekor. Kenaikan harga juga terjadi pada telur ayam ras, yang meninggi Rp 154 menjadi Rp 22.963 per kg.

Kemudian untuk produk cabai seperti cabai merah keriting dan cabai merah besar yang peninggian harganya tergolong besar. Cabai merah keriting meroket Rp 761 menjadi Rp 54.463 per kg, sementara cabai merah besar naik Rp 123 menjadi Rp 51.736 per kg.

Senada, bawang merah juga mengalami kenaikan Rp 31 menjadi Rp 32.243 per kg, daging kambing meninggi Rp 107 menjadi Rp 123.334 per kg, dan harga garam dapur naik Rp 89 jadi Rp 3.350 per 250 gram.

3 dari 4 halaman

Harga Pangan Terpantau Tinggi di Januari 2021, Cabai Rawit Sentuh Rp 80 Ribu per Kg

BI Prediksi Inflasi Capai 0,42 Persen pada Januari 2020
Perbesar
Aktivitas jual beli beli di pasar kawasan Glodok, Jakarta, Selasa (28/1/2020). Bank Indonesia memproyeksikan terjadi inflasi di Januari 2020 bersumber dari beberapa komoditas pangan yang mengalami tekanan harga, di antaranya telur ayam akan berkontribusi juga ke inflasi. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, harga sejumlah komoditas pangan di Jakarta terpantau tinggi di Januari 2021, di antaranya seperti daging ayam, telur ayam, bawang merah, cabai merah besar, cabai merah keriting, daging kambing, hingga garam dapur.

Mengutip laporan pada laman Informasi Pangan Jakarta, Sabtu (30/1/2021), harga daging ayam broiler atau ras naik Rp 229 dibandingkan satu hari sebelumnya menjadi Rp 37.423 per ekor pada Sabtu. Kenaikan harga juga terjadi pada telur ayam ras, yang meninggi Rp 154 menjadi Rp 22.963 per kg.

Harga cabai seperti cabai merah keriting dan cabai merah besar juga kian melambung. Harga cabai merah keriting naik Rp 761 menjadi Rp 54.463 per kg di Sabtu. Sementara cabai merah besar naik menjadi Rp 51.736 per kg.

Senada, bawang merah juga mengalami kenaikan menjadi Rp 32.243 per kg, daging kambing naik menjadi Rp 123.334 per kg, dan harga garam dapur naik menjadi Rp 3.350 per 250 gram.

Di lain sisi, harga beberapa komoditas pangan justru mengalami penurunan. Salah satunya cabai rawit merah, yang secara harga diprediksi mulai turun di penghujung Januari ini berkat adanya panen raya.

"Saya punya keyakinan Februari baru pada posisi normal, karena panen raya juga akan terjadi akhir bulan ini kan kalau enggak salah," kata Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Abdullah Mansuri kepada Liputan6.com.

Adapun harga cabai rawit merah yang di awal 2021 lalu berada di kisaran Rp 85-90 ribu per kg, hari ini turun ke posisi Rp 81.341 per kg. Namun memang, harga ini masih tinggi meskipun ada penurunan. 

Selain cabai rawit merah, penurunan juga terjadi pada harga cabai rawit hijau, yang terpotong Rp 1.610 menjadi Rp 76.048 per kg. Kemudian bawang putih yang harganya terpangkas menjadi Rp 29.731 per kg.

Daging sapi potong yang nilai jualnya sempat menimbulkan gejolak pasca melonjak jadi Rp 130 ribu per kg, kini perlahan mulai ikut turun.

Harga daging sapi has (paha belakang) turun Rp 94 jadi Rp 129.324 per kg, dan daging sapi murni (semur) terpotong Rp 490 jadi Rp 125.487 per kg.

Potongan harga juga dirasakan produk kentang yang turun Rp 125 menjadi Rp 14.853 per kg, serta tomat buah yang turun tipis Rp 53 menjadi Rp 12.243 per kg.

Beberapa bumbu dapur seperti gula pasir dan tepung terigu juga mengalami penurunan harga. Dimana gula pasir terpangkas Rp 18 jadi Rp 13.853 per kg, dan tepung terigu turun Rp 112 menjadi Rp 8.036 per kg. 

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓