Perpanjang Umur PT Timah Tbk dengan Terobosan Teknologi Pengolahan Biji Timah Primer

Oleh stella maris pada 30 Jan 2021, 13:17 WIB
Diperbarui 30 Jan 2021, 13:58 WIB
Ilustrasi Timah
Perbesar
(Foto: Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara (Tekmira) telah menjalin kerja sama dengan PT Timah Tbk dalam kurun tiga tahun terakhir, khususnya proses dan teknologi ekstraksi bijih timah primer.

Kerja sama yang terjalin sejak 2018 dimulai dengan Kajian Proses dan Teknologi Ekstraksi Timah (Sn) dari Bijih Timah Primer dengan Proses Klorinasi Basah yang berlanjut hingga 2020, untuk kajian tekno ekonomi pengolahan bijih timah primer serta penyusunan studi kelayakan optimalisasi pemanfaatan sisa hasil pengolahan PT Freeport Indonesia (2019-2020).

"Sebagai pengguna jasa Tekmira, kami di PT Timah merasakan kerja sama yang sangat baik karena Tekmira bisa menjawab persoalan besar di PT Timah tekait pengolahan mineral khususnya pengolahan bijih timah primer," ungkap Aidil Yuzar, Kepala Divisi Pengembangan Bisnis PT Timah Tbk yang disampaikan dalam rangka temu mitra secara daring antara Tekmira dengan PT Timah Tbk., Rabu 27 Januari 2021.

Aidil Yuzar menjelaskan bahwa diketahui bersama bahwa sumber daya cadangan timah alluvial baik darat maupun laut sudah semakin menipis. Oleh karena itu perlu dilakukan terobosan teknologi penambangan timah supaya hasilnya optimal.

Tekmira pun berhasil menjawab tantangan tersebut dengan melakukan percobaan skala laboratorium yang selanjutnya discale-up oleh tim litbang PT Timah menjadi skala pabrik dengan kapasitas 400 ton bijih timah primer dan memberikan hasil yang menggembirakan.

"Dengan formula dan kondisi proses yang disusun oleh Tekmira, kami berhasil membuktikan bahwa hanya dengan menggunakan kadar timah 10% dapat menghasilkan kadar timah primer sampai 60%. Jajaran direksi PT Timah Tbk memberikan apresiasi terhadap kinerja litbang kolaborasi PT Timah Tbk dengan Tekmira ini, karena terbukti mampu memberikan solusi untuk perusahaan di masa depan. Potensi timah primer yang dimiliki oleh PT Timah Tbk saat ini lebih dari 500.000 ton, apabila dalam satu tahun mampu mengolah timah primer sebanyak 40.000 ton, maka umur PT Timah Tbk akan bertambah 12 tahun," jelas Aidil Yuzar.

Koordinator Kelompok Pengolahan dan Pemanfaatan Teknologi Mineral Tekmira, Nuryadi Saleh mengungkapkan rasa leganya ketika menerima kabar keberhasilan percobaan skala industri yang dilakukan PT Timah Tbk, berdasarkan kondisi proses yang dilakukan di laboratorium Tekmira.

"Kami sangat gembira, Alhamdulillah hasil skala produksi tidak menyimpang dari skala laboratorium. Untuk ke depann ya, perlu dikaji benefisiasi untuk meningkatkan kadar besi di slag yang menghasilkan kadar sesuai grade yang ditetapkan pemerintah supaya bisa diekspor," ujar Ketua Tim Peneliti Ekstraksi Bijih Timah Primer Tekmira, Isyatun Rodliyah.

Dia juga menyampaikan banyaknya tantangan yang dihadapi justru memacu tim untuk melakukan percobaan karena berdasarkan kajian teoritis dan hasil percobaan yang telah divalidasi berulang kali, meningkatkan kepercayaan bahwa teknologi ini akan berhasil.

"Kami sangat lega atas keberhasilan ini dan memacu kami untuk terus mengembangkan teknologi ekstraksi bijih timah primer ini. Kami juga berharap ke depannya semakin banyak kerja sama untuk ikut memecahkan permasalahan-permasalahan litbang di PT Timah Tbk sehingga ilmu pengetahuan semakin berkembang," ujar Isyatun.

Selaras dengan pesan Menteri ESDM bahwa apabila hasil litbang sudah terbukti secara teknologi dan ekonominya, supaya dilanjutkan untuk dikembangkan dengan industri terkait.

Kepala Puslitbang Tekmira Hermansyah menyatakan bahwa Tekmira berkomitmen mendukung kerja sama dengan PT Timah Tbk dan siap melengkapi fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan untuk kerja sama selanjutnya. Hermansyah menambahkan bahwa tak menutup kemungkinan kerja sama yang akan datang juga mengembangkan teknologi benefisiasi SHPP untuk logam panduan FeSn dan PbSn.

Keberhasilan kerja sama antara PT Timah Tbk dan Tekmira ini membuka peluang kerja sama berikutnya. Kedua pihak dalam temu mitra tersebut mendiskusikan peluang kerja sama berikutnya di antaranya pengolahan lempung dan benefisiasi biji stanit menjadi produk yang dapat diterima oleh pasar.

 

(*)