Mendag: Saat Ini Era Kolaborasi antar Negara, Bukan Lagi Persaingan

Oleh Tira Santia pada 29 Jan 2021, 17:15 WIB
Diperbarui 29 Jan 2021, 17:15 WIB
Neraca Ekspor Perdagangan di April Melemah
Perbesar
Aktifitas kapal ekspor inpor di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (26/5). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus 1,24 miliar . (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi mengatakan, untuk mengoptimalkan transformasi menuju negara penghasil dan pengekspor barang industri dan industri berteknologi tinggi, perlu didukung melalui perjanjian perdagangan internasional.

“Perjanjian perdagangan sangat penting karena untuk mengekspor produk lebih banyak, perlu membuka pasar yang lebih luas. Saat ini merupakan era kolaborasi, bukan lagi era persaingan,” kata Mendag dalam Konferensi Pers Trade Outlook 2021, Jumat (29/1/2021).

Menurutnya untuk memajukan ekspor di era ini harus membuka pasar Indonesia juga. Maka diperlukan kesiapan ekspor yang optimal agar mampu berkolaborasi dengan berbagai negara melalui perjanjian dagang yang sudah ada untuk saling membuka pasar, sekaligus berupaya meningkatkan nilai tambah masing-masing produk yang diekspor.

“Kemendag juga menargetkan penyelesaian perundingan perjanjian dagang yang masih berlangsung secepatnya,” kata Mendag.

Selain itu, peluang peningkatan ekspor ke negara-negara non tradisional juga terus digali. Ini sebagai langkah antisipatif menghadapi kondisi perekonomian di negara-negara tujuan ekspor utama Indonesia yang tertekan akibat pandemi Covid-19.

Lantaran ekspor Indonesia pada 2020 ke sejumlah kawasan non tradisional tumbuh cukup tinggi di tengah tekanan pertumbuhan ekonomi global, yaitu ke Eropa Barat (meningkat 17,07 persen), Australia (14,52 persen), dan Eropa Timur (99,9 persen).

“Dengan terjalinnya perdagangan yang lebih luas, diharapkan menjadi pemantik datangnya investasi yang mendorong industrialisasi. Dengan demikian, kolaborasi yang menghasilkan barang bernilai tambah dapat terwujud,” ujarnya.

Adapun sejumlah strategi lain yang akan dilakukan untuk meningkatkan ekspor, yaitu promosi dagang di dalam dan luar negeri, seperti penyelenggaraan Trade Expo Indonesia 2021 di Indonesia dan keikutsertaan pada Expo 2020 Dubai, Uni Emirat Arab.

Selain itu, juga ada penguatan misi dagang yang meliputi forum bisnis, business matching, dan dialog bisnis. Pemanfaatan teknologi digital akan menjadi salah satu solusi dalam menggerakkan perekonomian di tengah kondisi pandemi Covid-19 dengan masih terbatasnya mobilitas antar negara.

“Adapun untuk meningkatkan daya saing produk ekspor, Kemendag juga menguatkan program Indonesia Design Development Center (IDDC), termasuk penyelenggaraan Good Design Indonesia (GDI), dan Designer Dispatch Services (DDS) untuk eksportir Indonesia dan UKM,” pungkasnya.

2 dari 3 halaman

Mendag: Surplus Neraca Perdagangan 2020 Terbesar Sepanjang Sejarah Indonesia

Kinerja Ekspor dan Impor RI
Perbesar
Tumpukan peti barang ekspor impor di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (17/7). Ekspor dan impor masing-masing anjlok 18,82 persen dan ‎27,26 persen pada momen puasa dan Lebaran pada bulan keenam ini dibanding Mei 2017. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi menyebut neraca perdagangan tahun 2020 memperoleh surplus terbesar sepanjang sejarah Indonesia yakni USD 21,7 miliar.

“Total daripada trade nonmigas kita adalah surplus USD 21,7 miliar, seperti saya utarakan ini adalah salah satu surplus terbesar dalam sejarah Indonesia terutama pasca daripada finansial krisis tahun 1998,” kata Mendag dalam konferensi pers Trade Outlook 2021, Jumat (29/1/2021).

 

Kendati surplus, tetap saja ekspor non migas Indonesia terkoreksi. Jika dilihat hasil dari pada ekspor 2020  nilainya USD 163,3 miliar  yang merupakan perolehan dari ekspor Migas sebesar USD 8,3 miliar dan non migas sebesar USD 155 miliar.

Mendag menjabarkan struktur ekspor non migas kita terkoreksi sekitar 29,54 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dan ekspor daripada non migas terkoreksi hanya 0,58 persen dari pada tahun 2019 yang jumlahnya mencapai USD 155,9 miliar.

“Dengan semua kajian PSBB pandemi, kita merasa bahwa angka USD 155 miliar itu koreksi yang tidak sampai 0,6 persen ini menunjukkan bahwa resilience (ketahanan) daripada ekspor kita,” jelasnya.

Sedangkan untuk total impor tahun 2020 mencapai USD 141,6 miliar, namun terkoreksi sekitar 17,35 persen dibandingkan tahun sebelumnya.  Sehingga bisa diketahui bahwa impor migas lah yang yang membuat neraca perdagangan terseok-seok.

“Jadi kalau kita lihat total daripada impor non-migas kita adalah USD 127,3 miliar atau setara dengan 14,74 persen dibandingkan tahun 2019. Dan ini  mungkin capaian terbesar sejak tahun 2012 tetapi perbedaannya tahun 2012 itu harga komoditas melonjak tinggi menyebabkan mendapatkan pendapatan yang luar biasa,” jelas Mendag.

Lebih lanjut Mendag mengatakan terdapat 10 negara yang menjadi destinasi ekspor utama Indonesia. Diantaranya RRT, Amerika Serikat, Jepang, India, Singapura, Malaysia, Filipina, Korea Selatan, Vietnam, dan Thailand.

Demikian surplus tertinggi tahun 2020 diperoleh dari negara Amerika Serikat sebesar USD 11,3 miliar, India USD 6,47 miliar, dan Filipina USD 5,26 miliar.     

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓