Waduh, Stok Batu Bara Pembangkit Listrik PLN Cuma Cukup 5 Hari

Oleh Athika Rahma pada 27 Jan 2021, 14:30 WIB
Diperbarui 27 Jan 2021, 14:30 WIB
Ekspor Batu Bara Indonesia Menurun
Perbesar
Aktivitas pekerja saat mengolah batu bara di Pelabuham KCN Marunda, Jakarta, Minggu (27/10/2019). Berdasarkan data ICE Newcastle, ekspor batu bara Indonesia menurun drastis 33,24 persen atau mencapai 5,33 juta ton dibandingkan pekan sebelumnya 7,989 ton. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Ridwan Djamaluddin mengatakan, stok batu bara di pembangkit listrik milik PLN cukup untuk 5 hari.

Biasanya, stok batu bara PLN dapat digunakan dalam kurun waktu 15 hari.

"Kemarin saya nanya, pasokan per hari kemarin, tersedia untuk berapa hari, dijawab sampai saat ini tersedia pasokan minimal untuk 5 hari. Jadi sudah ada untuk 5 hari," ujar Ridwan dalam konferensi pers daring, Rabu (27/1/2021).

Ridwan mengatakan, pemerintah memastikan stok batu bara untuk kebutuhan listrik selalu terpenuhi. Hal ini juga ditandai dengan komitmen dari 54 perusahaan untuk memasok batu bara ke PLN.

"Kami sudah melakukan pertemuan dengan pihak terkait, berdasarkan arahan Pak Menteri, kebutuhan pasokan batu bara ke PLN tidak boleh tidak cukup," jelas Ridwan.

Adapun, dalam rantai pasok batu bara listrik, terdapa 3 komponen yang berpengaruh. Pertama, kondisi business to business antara PLN dan perusahaan pemasok batu bara. Kedua, kontribusi dari kebijakan pemerintah berupa menjadikan batu bara sebagai barang kena pajak.

"Ketiga, cuaca. Memang harus diakui, cuaca yang terjadi di daerah penghasil batu bara sedang ekstrim dan terkena bencana," ujar Ridwan.

2 dari 3 halaman

Ganti Batu Bara dengan Biomassa, PLN Hemat Banyak Modal

Ekspor Batu Bara Indonesia Menurun
Perbesar
Aktivitas pekerja saat mengolah batu bara di Pelabuham KCN Marunda, Jakarta, Minggu (27/10/2019). Berdasarkan data ICE Newcastle, ekspor batu bara Indonesia menurun drastis 33,24 persen atau mencapai 5,33 juta ton dibandingkan pekan sebelumnya 7,989 ton. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

PT PLN (Persero) terus berupaya memanfaatkan co-firing biomassa sebagai pengganti batu bara di pembangkit listriknya. Terbaru, PLN telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) bersama PTPN III Holding (Persero) dan Perum Perhutani terkait Penyediaan Biomassa untuk PLTU.

Direktur Utama PT PLN (Persero) Zulkifli Zaini mengatakan, pihaknya bakal terus melakukan terobosan dalam penggunaan biomassa untuk co-firing PLTU batu bara yang dikelola perseroan.

Selain karena hemat energi, pemakaian biomassa sebagai pengganti batu bara pun akan sangat mengurangi pengeluaran modal atau capital expenditure (capex) dalam menyalurkan energi listrik.

"Jadi intinya, ini secara capital expenditure ini sangat-sangat minimal. Karena kita menggunakan pembangkit PLTU yang sudah eksisting," kata Zulkifli dalam sesi teleconference, Jumat (22/1/2021).

Menurut perhitungannya, budget penggunaan biomassa dalam melakukan operasi perusahaan atau operating expenditure (opex) juga tergolong jauh lebih terjangkau. Namun, ia belum merinci berapa besar potensi capex yang dapat dihemat PLN.

"Ini adalah sebuah upaya yang akan bisa dilakukan secepat mungkin, tidak perlu melakukan investasi untuk capex. Jadi ini lebih bagaimana energi primernya, bagaimana ke opex-nya," papar Zulkifli.

Lebih lanjut, ia turut menggarisbawahi pelaksanaan co-firing antar BUMN yang akan memberikan dampak perekonomian yang besar, baik bagi semua yang terlibat maupun kepada masyarakat luas.

"Jadi ini sesuatu titik awal yang luar biasa dari kemungkinan kerjasama ke depan yang bisa kita tindaklanjuti secara konkret dan sustain," ujar Zulkifli.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓