Demi Investasi Jawa Barat, Ridwan Kamil Rela Jadi Sales Pulpen

Oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana pada 26 Jan 2021, 14:45 WIB
Diperbarui 26 Jan 2021, 14:45 WIB
Ridwan Kamil
Perbesar
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. (Liputan6.com/Huyogo Simbolon)

Liputan6.com, Jakarta - Jawa Barat mencatat total investasi baik dari dalam maupun luar negeri sebesar Rp 120,4 triliun pada 2020 lalu. Provinsi ini menjadi angka penyumbang investasi terbesar di Indonesia, atau sekitar 14,6 persen secara nasional.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menceritakan, prestasi itu diraih provinsinya lantaran ia tak malu untuk bertingkah bak sales pulpen guna mempromosikan Jawa Barat sebagai lahan investasi.

"Saya itu melaksanakan apa yang pak Menteri/Kepala BKPM (Bahlil Lahadalia) suruh. Pak ub, pokoknya lu jualan seheboh-hebohnya. Jadi saya praktekan mempromosikan Jawa Barat," ungkapnya dalam sesi webinar, Selasa (26/1/2021).

"Pokoknya saya udah kayak sales pulpen aja, ke mana-ada orang yang kelihatannya punya potensi saya deketin, saya ajak makan, saya fasilitasi," Ridwan Kamil menambahkan.

Hasilnya, Kang Emil pun bersyukur Jawa Barat berhasil mempertahankan posisinya sebagai provinsi dengan total investasi tertinggi. Selain itu, Jawa Barat juga sukses menjadi pelaku ekspor nomor satu di Indonesia.

Ridwan Kamil lantas menjelaskan dua alasan utama, mengapa investor senag datang ke Jawa Barat. Pertama yakni wilayah yang dipegangnya punya infrastruktur yang dianggap lebih baik dari provinsi lain, termasuk dengan hadirnya Pelabuhan Internasional Patimban yang sudah viral di seluruh dunia.

"Saya banyak pertanyaan dari duta besar ingin kerja sama karena di Patimban berada di wilayah metropolitan Rebana, sebuah kawasan baru dimana akan ada 13 kota industri baru yang sedang kita konsepkan," terangnya.

Alasan kedua, Kang Emil meneruskan, masyarakat Jawa Barat dinilai sebagai yang paling produktif se-Indonesia. Dia melaporkan, masyarakat di provinsi lain produktivitasnya masih kalah dari warga di Jawa Barat.

"Ada yang pindah dari Jawa Barat mereka balik lagi karena produktivitasnya hanya 60 persen dari apa yang kami kerjakan di Jawa Barat," kata Ridwan Kamil.

"Kedua hal tadi yang kami jaga untuk investasi tetap maksimal, dan kita berharap tambahan infrastruktur yang sedang berlangsung beberapa ruas tol termasuk kereta api cepat mudah-mudahan 2 tahun sudah selesai," tandasnya.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

BKPM Catat Realisasi Investasi Kuartal IV-2020 Naik, Capai Rp 214,7 Triliun

20151026-BKPM Luncurkan Layanan Investasi 3 Jam-Jakarta
Perbesar
Sejumlah konsumen menunggu di kantor BKPM, Jakarta, Senin (26/10/2015). Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) merupakan komitmen pemerintah demi memberikan pelayanan prima dan cepat kepada investor. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyampaikan realisasi investasi pada kuartal IV (Q4) 2020, yang mengalami kenaikan baik secara kuartalan (Quartal to Quartal/QtQ) maupun secara tahunan (Year on Year/YoY).

Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengatakan, realisasi investasi pada Q4 2020 sebesar Rp 214,7 triliun. Jumlah tersebut naik 2,7 persen secara QtQ dan 3,1 persen secara YoY.

Menurut dia, program vaksinasi Covid-19 yang dicanangkan Pemerintah RI sejak akhir triwulan tahun lalu jadi kunci utama angka investasi melonjak naik, khususnya Penanaman Modal Asing (PMA).

"Kita tahu bahwa di kuartal keempat dimana kasus pandemi Covid-19 sudah ada vaksinasinya. Itu sudah meningkatkan rasa kepercayaan diri dari teman-teman investor asing yang ada di Indonesia," jelas Bahlil dalam sesi teleconference, Senin (25/1/2021).

Selain vaksinasi, Undang-Undang (UU) Cipta Kerja yang telah diundangkan ke dalam UU Nomor 11 Tahun 2020 juga turut memberikan rasa percaya diri bagi investor asing.

"Yang kedua adalah, pengesahan terhadap UU Cipta Kerja itu cukup memberikan pengaruh yang positif pada keberlangsungan investor asing yang ada di Indonesia," sambung Bahlil.

Bahlil pun menyoroti realisasi investasi yang berasal dari Penanaman Modal Asing (PMA) yang secara angka lebih besar ketimbang Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).

Adapun jumlah PMA pada Q4 2020 sebesar Rp 111,1 triliun (51,7 persen), naik 4,6 persen secara QtQ dan 5,5 persen (YoY). Sementara PMDN sebesar Rp 103,6 triliun (48,3 persen), naik 0,8 persen (QtQ) am 0,7 persen (YoY).

"Yang menarik adalah, antara PMA dan PMDN kita lihat di kuartal keempat, PMA-nya lebih tinggi daripada PMDN-nya. Ini sudah barang tentu naik, baik dari kuartal ketiga maupun di kuartal sama pada tahun lalu," ungkap Bahlil.

Lebih lanjut, Bahlil juga menginformasikan terkait penyerapan jumlah tenaga kerja pada kuartal IV 2020, yang mencapai 294.780 orang.

"Ini kalau kita membandingkan dengan tahun yang lalu, kenaikannya tidak lebih dari 3 persen. Kemudian pada kuartal yang kemarin kenaikannya juga tidak lebih dari 3 persen," tutur Kepala BKPM.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓