Harga Minyak Naik Ditopang Optimisme Stimulus AS

Oleh Liputan6.com pada 26 Jan 2021, 08:00 WIB
Diperbarui 26 Jan 2021, 08:00 WIB
Ilustrasi Harga Minyak
Perbesar
Ilustrasi Harga Minyak

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak naik tipis pada perdagangan Senin (Selasa waktu Jakarta) karena optimisme seputar rencana stimulus AS dan beberapa kekhawatiran terkait pasokan minyak ke depan. Tetapi kekhawatiran permintaan yang didorong oleh penguncian (lockdown) akibat pandemi Covid-19 membatasi kenaikan.

Dikutip dari CNBC, Selasa (26/1/2021), harga minyak mentah berjangka Brent naik 31 sen menjadi USD 55,72 per barel. Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate AS ditutup 50 sen atau 0,96 persen lebih tinggi pada level USD 52,77 per barel.

Pejabat pemerintahan Presiden AS Joe Biden pada pertemuan dengan anggota parlemen dari Partai Republik dan Demokrat mencoba untuk meredam kekhawatiran Partai Republik bahwa proposal bantuan pandemi senilai USD 1,9 triliun terlalu mahal.

“Di AS, Presiden Biden yang baru dilantik tampaknya mendorong persetujuan cepat dari paket bantuan pandemi senilai USD 1,9 triliun yang diusulkannya, suatu perkembangan yang ditafsirkan oleh pasar sebagai indikasi yang jelas bahwa pemerintahan AS yang baru bertujuan untuk memulai pemulihan ekonomi, yang secara alami akan menguntungkan konsumsi bahan bakar, ”kata Bjornar Tonhaugen, Kepala Pasar Minyak Rystad Energy.

Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya mematuhi pembatasan produksi minyak yang dijanjikan rata-rata 85 persen sejauh ini pada Januari, menunjukkan kelompok itu telah meningkatkan kepatuhannya pada pembatasan pasokan yang dijanjikan.

Masalah pasokan lainnya telah menawarkan beberapa dukungan. Indonesia mengatakan penjaga pantainya menyita sebuah kapal tanker berbendera Iran atas dugaan transfer bahan bakar ilegal, meningkatkan prospek ketegangan lebih di Teluk pengekspor minyak.

Output dari ladang raksasa Kazakhstan, Tengiz, terganggu oleh pemadaman listrik pada 17 Januari.

Sementara itu, negara-negara Eropa telah memberlakukan pembatasan yang ketat untuk menghentikan penyebaran covid-19. Sementara China melaporkan peningkatan kasus COVID-19 baru, menimbulkan kemerosotan prospek permintaan di konsumen energi terbesar di dunia.

Barclays menaikkan perkiraan harga minyak pada 2021, tetapi mengatakan kenaikan kasus di China dapat berkontribusi pada kemunduran ekonomi jangka pendek.

2 dari 3 halaman

Harga Minyak Turun Dipicu Lonjakan Stok di AS

Ilustrasi Harga Minyak Naik
Perbesar
Ilustrasi Harga Minyak Naik (Liputan6.com/Sangaji)

Harga minyak turun pada perdagangan Jumat (Sabtu waktu Jakarta), terbebani oleh peningkatan persediaan minyak mentah AS dan kekhawatiran bahwa pembatasan akibat pandemi baru di China akan mengekang permintaan bahan bakar di negara importir minyak terbesar dunia tersebut.

Dikutip dari CNBC, Sabtu (23/1/2021), harga minyak mentah berjangka Brent turun 60 sen atau 1,1 persen menjadi USD 55,50 per barel. Sedangkan harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS turun 86 sen atau 1,6 persen menjadi USD 52,27 per barel.

Secara mengejutkan, persediaan minyak mentah AS secara mengejutkan naik 4,4 juta barel dalam seminggu terakhir, dibandingkan ekspektasi penurunan 1,2 juta barel.

Departemen Transportasi AS menyatakan intensitas perjalanan di jalan AS turun 11 persen pada November, penurunan yang lebih tajam dibandingkan Oktober karena kasus virus corona meningkat.

"Pandemi tampaknya terus meluas ke gelombang kedua di China, dengan infeksi meningkat dari hari ke hari dan mencapai lagi daerah yang berbeda seperti Shanghai," kata Analis Pasar Minyak Rystad Energy Louise Dickson.

Data persediaan minyak mentah AS menunjukkan tanda-tanda kekuatan dalam permintaan produk domestik.

Sementara stok minyak mentah AS naik secara tak terduga pekan lalu, kilang menaikkan produksi ke penggunaan kapasitas tertinggi sejak Maret dan permintaan bensin dan solar meningkat dari minggu ke minggu.

"Ekspor minyak mentah memang turun cukup dramatis, yang merupakan alasan utama untuk keseluruhan stok minyak mentah yang layak," kata Tony Headrick, analis pasar energi di CHS Hedging.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓