Harga Daging Naik, KPPU Belum Temukan Pelanggaran Persaingan Usaha

Oleh Liputan6.com pada 22 Jan 2021, 14:40 WIB
Diperbarui 22 Jan 2021, 14:40 WIB
Jelang Lebaran, Permintaan Daging Sapi Meningkat 50 Persen
Perbesar
Pedagang melayani pembeli di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta, Sabtu (16/5/2020). Permintaan daging sapi jelang Idul Fitri meningkat hingga 50 persen daripada hari biasa mengakibatkan harga naik dari rata-rata Rp100 ribu per kilogram menjadi Rp120 ribu per kilogram. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta Wakil Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Guntur Saragih mengaku belum menemukan adanya unsur pelanggaran atas lonjakan harga daging sapi di wilayah Jabodetabek.

Menyusul pihaknya saat ini belum melakukan penelitian untuk menyelidiki kenaikan harga daging yang sempat membuat pedagang melakukan aksi mogok jualan.

"Kenaikan harga daging memang terjadi khususnya di Jabodetabek. Terkait dengan pelanggaran sampai hari ini memang (belum ditemukan. Kami belum sampai ke masuk tahap penelitian," tuturnya dalam webinar Pengawasan di Komoditas Bawang Putih, Jumat (22/1/2021).

Untuk itu, KPPU berencana melakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui penyebab pasti atas melejitnya harga daging di Jabodetabek.

"Jadi ini masih terus kita lihat. Opsi (penelitian) itu masih terbuka tergantung perkembangannya," terangnya.

Kendati demikian, KPPU menduga kenaikan harga daging kali ini bukan disebabkan oleh faktor persaingan usaha. Sehingga dipastikan berbeda dengan kasus serupa yang terjadi pada 2016 lalu yang murni diakibatkan oleh faktor persaingan usaha.

"Kenaikan harga (daging kali ini) bisa karena pasar memang supply nya lebih mahal, dan bisa juga karena ada kondisi satu dan lainnya karena keterbatasan gitu. Tentunya (kenaikan) saat ini beda case dengan kejadian sebelumnya (2016)," tutupnya.

 

Potret Lapak Kosong Pedagang Daging
Perbesar
Gantungan daging di los pedagang yang kosong di Pasar Kebayoran, Jakarta, Rabu (20/1/2021). Para pedagang daging sapi di sejumlah pasar di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) menggelar aksi mogok jualan mulai Rabu hingga Jumat (22/1). (Liputan6.com/Johan Tallo)
2 dari 3 halaman

Aksi Mogok Pedagang

Sebelumnya, Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi), Abdullah Mansuri, memastikan mulai Selasa malam (19/1) pedagang daging sapi di wilayah wilayah Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jadetabek) resmi melakukan aksi mogok penjualan. Kalaupun tetap berjualan lebih dikarenakan untuk menghabiskan stok daging yang ada.

"Ya memang hari ini mulai tadi malam sudah efektif temen-temen tidak berdagang ya. Kalau ada (berjualan) lebih menghabiskan barang dagangannya tadi malam. Dan hari ini laporannya dari Bekasi, Tangerang Banten, Depok dan Jakarta sudah mulai tutup," tuturnya saat dihubungi Merdeka.com, Rabu (20/1).

Abdullah mengungkapkan, aksi mogok ini menindaklanjuti keputusan Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) atas seruan berhenti berjualan daging sapi di wilayah Jadetabek selama tiga hari ke depan. Sebagaimana yang tertuang dalam SE bernomor 08/A/DPD-APDI/I/2021 yang memuat rencana mogok jualan sejak Selasa (19/1) hingga Kamis (22/1).

"Jadi, ini (aksi mogok) yang bagian protes dari pedagang," imbuh dia.

Sulaeman

Merdeka.com

 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓