Rupiah Menguat ke 14.045 per Dolar AS Jelang Pelantikan Joe Biden

Oleh Athika Rahma pada 20 Jan 2021, 10:35 WIB
Diperbarui 20 Jan 2021, 10:35 WIB
FOTO: Akhir Tahun, Nilai Tukar Rupiah Ditutup Menguat
Perbesar
Karyawan menunjukkan uang dolar AS dan rupiah di Jakarta, Rabu (30/12/2020). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 80 poin atau 0,57 persen ke level Rp 14.050 per dolar AS. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (Dolar AS) menguat pada perdagangan Rabu pekan ini. Kurs rupiah bergerak menguat menjelang pelantikan Joe Biden yang digelar Rabu 20 Januri 2021.

Mengutip Bloomberg, Rabu (20/1/2021), rupiah dibuka di angka 14.057 per dolar AS, menguat tipis dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level 14.065 per dolar AS. Menjelang siang, rupiah terus menguat ke 14.045 per dolar AS.

Sejak pagi hingga pukul 10.45 WIB hari ini, rupiah bergerak di kisaran 14.045 per dolar AS hingga 14.065 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah melemah 0,11 persen.

Sedangkan berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di angka 14.065 per dolar AS, melemah jika dibandingkan dengan patokan sebelumnya yang ada di angka 14.086 per dolar AS.

Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures mengatakan pada hari ini rupiah masih ada kemungkinan menguat dengan sentimen dukungan stimulus fiskal besar AS dari calon Menteri Keuangan AS, Janet Yellen.

"Stimulus yang besar ini bisa membantu pemulihan ekonomi AS lebih cepat. Hal ini memicu minat pasar terhadap aset berisiko," ujar Ariston dikutip dari Antara, Rabu (20/1/2021).

2 dari 4 halaman

Proposal Stimulus

Ilustrasi dolar AS
Perbesar
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menguat, Jakarta, Kamis (23/10/2014) (Liputan6.com/Johan Tallo)

Dalam sidang penetapan Senat pada Selasa (19/1), Yellen mendesak anggota parlemen untuk "bertindak besar" pada paket bantuan virus corona berikutnya setelah Presiden terpilih Joe Biden pekan lalu menguraikan proposal stimulus 1,9 triliun dolar AS sebagai bagian dari agenda kebijakan domestik yang besar pada pengeluaran pemerintah.

Rencana tersebut diharapkan dapat memberikan dorongan penting bagi ekonomi yang dilanda COVID-19, namun investor mengatakan stimulus besar-besaran juga dapat memperluas defisit yang sudah besar dan menaikkan imbal hasil obligasi.

Di sisi lain, lanjut Ariston, kondisi kenaikan kasus COVID-19 di Tanah Air bisa menahan laju penguatan rupiah.

Jumlah kasus positif COVID-19 bertambah 10.365 pada Selasa (19/1) kemarin sehingga total kasus positif menjadi 927.380, pasien sembuh 753.948 orang, dan meninggal 26.590 jiwa.

"Kondisi yang terus menaik ini bisa memicu kebijakan yang lebih ketat terhadap pergerakan aktivitas ekonomi," kata Ariston.

Ariston memperkirakan rupiah pada hari ini akan bergerak di kisaran Rp14.000 per dolar AS hingga Rp14.100 per dolar AS.

Pada Selasa (19/1) lalu, rupiah ditutup menguat 5 poin atau 0,04 persen ke posisi Rp14.065 per dolar AS dari posisi penutupan hari sebelumnya Rp14.070 per dolar AS.

3 dari 4 halaman

Infografis Rupiah dan Bursa Saham Bergulat Melawan Corona

Infografis Rupiah dan Bursa Saham Bergulat Melawan Corona
Perbesar
Infografis Rupiah dan Bursa Saham Bergulat Melawan Corona (Liputan6.com/Triyasni)
4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓