Harga Minyak Turun karena Lonjakan Kasus Positif Covid-19 di seluruh Dunia

Oleh Tira Santia pada 19 Jan 2021, 08:30 WIB
Diperbarui 19 Jan 2021, 08:30 WIB
Ilustrasi tambang migas
Perbesar
Ilustrasi tambang migas (iStockPhoto)

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak turun pada penutupan perdagangan Senin (Selasa pagi waktu Jakarta). Harga minyak turun dari level tertinggi dalam 11 bulan yang telah disentuh pada perdagangan pekan lalu.

Kenaikan harga minyak pada pekan lalu terjadi karena pengurangan produksi dan permintaan dari China yang kuat. Namun hal tersebut terhentikan karena jumlah yang terinvesi virus Corona Covid-19 terus meningkat.

Mengutip CNBC, Selasa (19/1/2021), harga minyak mentah Brent turun 30 sen atau 0,5 persen menjadi USD 54,79 per barel pada 06.22 GMT, setelah turun 2,3 persen pada hari Jumat. Sedangkan harga minyak AS turun 21 sen, atau 0,4 persen menjadi USD 52,15 per barel, setelah turun 2,3 persen pada sesi perdagangan sebelumnya.

Kedua harga minyak yang menjadi patokan harga dunia telah menguat dalam beberapa pekan terakhir, didukung oleh dimulainya peluncuran vaksin Covid-19 dan pemotongan mengejutkan dari produksi minyak mentah oleh eksportir minyak terbesar dunia, Arab Saudi.

Namun, infeksi baru yang melonjak di seluruh dunia telah menimbulkan keraguan tentang berapa lama permintaan akan bertahan.

"Relative Strength Indexes (RSI's) pada kedua kontrak berada di wilayah overbought, menunjukkan koreksi sedang dalam perjalanan," kata analis senior OANDA, Jeffrey Halley.

Meningkatnya aktivitas sumur minyak yang di AS menambahkan tekanan lebih lanjut kepada harga minyak. Jumlah sumur minyak dan gas alam untuk memulai kembali aktivitasnya selama delapan minggu berturut-turut karena kenaikan harga telah membuat produksi lebih menguntungkan.

Namun, jumlah rig yang beroperasi kurang dari setengah dari level tahun lalu.

"Namun, bertambahnya jumlah sumur minyak yang aktif tersebut tidak terlalu disukai, dengan setengah dari industri masih tidak ekonomis." tulis ANZ dalam risetnya.

2 dari 3 halaman

Harga Minyak Anjlok 2 Persen karena Kekhawatiran Pelemahan Permintaan China

Hadapi Cuaca Ekstrim, Ditjen Migas Minta Badan Usaha Susun Upaya Mitigasi
Perbesar
Minyak dan Gas Bumi

Sebelumnya, harga minyak turun lebih dari 2 persen pada penutupan perdagangan Jumat (Sabtu pagi waktu Jakarta). Pelemahan ini terjadi karena adanya kekhawatiran permintaan dari China melemah akibat kebijakan lockdown.

Di awal perdagangan sebenarnya harga minyak sempat naik karena data impor yang menguat dari Amerika Serikat (AS), dan rencana negara tersebut untuk mengeluarkan paket stimulus yang lebih besar.

Mengutip CNBC, Sabtu (16/1/2021), harga minyak mentah Brent turun USD 1,32 atau 2,34 persen menjadi USD 55,10 per barel, setelah sebelumnya sempat naik 0,6 persen.

Sedangkan harga minyak mentah West Texas Intermediate AS ditutup melemah USD 1,21 atau 2,26 persen ke level USD 52,36 per barel, setelah sempat naik lebih dari 1 persen pada sesi sebelumnya.

Dua harga acuan minyak ini sempat mencapai level tertinggi dalam hampir setahun tetapi kemudian menuju penurunan mingguan pertama dalam tiga pekan.

Saat ini produsen minyak sedang menghadapi permintaan terbesar untuk menyeimbangkan antara penawaran dan permintaan. Hal tersebut karena adanya dua sentimen yang saling tarik menarik.

Kedua sentimen tersebut adalah peluncuran vaksin Covid-19 di beberapa negara yang diperkirakan bisa memulihkan ekonomi global. Namun sentimen lainnya adalah terjadinya kenaikan penderita Covid-19 secara besar-besaran sehingga mendorong kebijakan lockdown.

Sementara itu, dolar AS menguat sehingga juga memberikan tekanan kepada harga minyak.

Paket bantuan stimulus Covid-19 senilai hampir USD 2 triliun di AS yang diresmikan oleh Presiden Terpilih Joe Biden dapat meningkatkan permintaan minyak dari konsumen terbesar di dunia tersebut.

Namun beberapa analis mengatakan bahwa stimulus tersebut belum bisa menggerakan harga karena belum sepadan dengan pasokan minyak yang ada saat ini.

“Berbicara mengenai permintaan, Asia adalah satu-satunya brightspot,” kata analis Again Capital Management New York, John Kilduff.

“Penguncian baru ini yang sangat mencolok dilakukan di China yang menjadi jantung pertumbuhan ekonomi di Asia sehingga menekan permintaan. Ini masalah," tambah dia.

Impor minyak mentah ke China naik 7,3 persen pada 2020. Hal ini harga yang rendah mendorong negara tersebut untuk melakukan aksi penimbunan.

Tetapi China melaporkan jumlah kasus Covid-19 harian tertinggi dalam lebih dari 10 bulan pada hari Jumat. Hal ini membuat negara tersebut harus mengeluarkan lagi kebijakan lockdown di beberapa kota.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓