Rupiah Berpeluang Menguat usai Neraca Dagang Indonesia Surplus Lagi

Oleh Pipit Ika Ramadhani pada 15 Jan 2021, 11:14 WIB
Diperbarui 15 Jan 2021, 11:26 WIB
FOTO: Akhir Tahun, Nilai Tukar Rupiah Ditutup Menguat
Perbesar
Karyawan menunjukkan uang dolar AS dan rupiah di Jakarta, Rabu (30/12/2020). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 80 poin atau 0,57 persen ke level Rp 14.050 per dolar AS. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (Dolar AS) berpotensi menguat pada perdagangan Jumat pekan ini. Salah satu sentimennya adalah surplus neraca dagang Indonesia pada Desember 2020.

Mengutip Bloomberg, Jumat (15/1/2021), rupiah dibuka di di angka 14.040 per dolar AS, menguat jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 14.059 per dolar AS.

Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 14.032 per dolar AS hingga 14.050 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah melemah 0,01 persen.

Sedangkan berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di angka 14.068 per dolar AS, menguat jika dibandingkan dengan patokan sebelumnya yang ada di angka 14.119 per dolar AS.

"Pengumuman rencana paket stimulus Joe Biden yang besar, senilai 1,9 triliun dolar AS, memberikan sentimen positif ke aset berisiko dan rupiah berpeluang ikut menguat terhadap dolar AS," kata Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures Ariston Tjendra seperti dikutip dari Antara, Jumat (15/1/2021).

Ariston menuturkan stimulus yang besar diharapkan bisa membantu mempercepat pemulihan ekonomi AS yang tertekan akibat pandemi COVID-19.

Selain itu, lanjutnya, potensi pelemahan dolar AS juga masih terbuka karena pernyataan Gubernur Bank Sentral AS Jerome Powell dini hari tadi yang mengonfirmasi bahwa tingkat suku bunga akan dipertahankan di kisaran rendah dan belum akan dinaikkan dalam waktu dekat. Powell menjelaskan bahwa ekonomi AS membutuhkan waktu untuk pulih dari pandemi.

Di sisi lain, data surplus neraca perdagangan Indonesia untuk Desember yang kembali mengalami surplus akan membawa rupiah menguat.

"Hasil yang surplus bisa membantu penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS," ujar Ariston.

Ariston memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp14.000 per dolar AS hingga Rp14.100 per dolar AS.

Pada Kamis (14/1) lalu, rupiah ditutup menguat 1 poin atau 0,01 persen ke posisi Rp14.059 per dolar AS dari posisi penutupan hari sebelumnya Rp14.060 per dolar AS.

2 dari 3 halaman

Neraca Perdagangan Indonesia Surplus USD 2,1 Miliar di Desember 2020

Neraca Ekspor Perdagangan di April Melemah
Perbesar
Aktifitas kapal ekspor inpor di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (26/5). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus 1,24 miliar . (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan Indonesia pada periode Desember 2020 mengalami surplus sebesar USD 2,1 miliar. Surplus tersebut berasal dari ekspor dan impor pada bulan lalu.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, pada Desember 2020, nilai ekspor tercatat USD 16,54 miliar, tumbuh 14,63 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Bulan sebelumnya, ekspor tumbuh 9,54 persen.

"Banyak komoditas yang mengalami penigkatan harga seperti batu bara, minyak kernel, minyak kelapa sawit, tembaga, dan aluminium. Peningkatan harga ini akan berpengaruh besar kepada nilai ekspor pada Desember 2020," ujarnya, Jumat (15/1/2021).

Sementara itu nilai impor Indonesia pada Desember tercatat USD 14,44 miliar. Apabila dibandingkan dengan November 2020, impor tersebut mengalami kenaikan sebesar 14 persen.

"Meskipun secara year on year nilai impor pada Desember 2020 ini turun tipis sekali 0,47 persen. Secara month to month kenaikan impor 14 persen terjadi karena adanya kenaikan impor migas dan non migas," papar dia.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓