Harga Minyak Turun Imbas Kasus Covid-19 Dunia Melonjak

Oleh Tira Santia pada 14 Jan 2021, 08:30 WIB
Diperbarui 14 Jan 2021, 08:30 WIB
Ilustrasi Harga Minyak Naik
Perbesar
Ilustrasi Harga Minyak Naik (Liputan6.com/Sangaji)

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak sedikit berubah pada hari Rabu, didukung oleh penurunan persediaan minyak mentah AS yang lebih besar dari perkiraan.

Meski demikian, harga minyak tetapi di bawah tekanan karena meningkatnya kasus COVID-19 global mengancam permintaan bahan bakar global.

Dikutip dari CNBC, Kamis (14/1/2021), harga minyak mentah Brent turun 53 sen menjadi USD 56,05 per barel. Kenaikan sebelumnya membuat harga mencapai USD 57,42 per barel, terkuat sejak 24 Februari.

US West Texas Intermediate (WTI) menetapkan 30 sen, atau 0,6 persen lebih rendah pada USD 52,91 per barel.

Persediaan minyak mentah AS turun 3,2 juta barel dalam seminggu hingga 8 Januari menjadi 482,2 juta barel, melebihi ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters untuk penurunan 2,3 juta barel. Naiknya pasokan minyak ini karena penyuling meningkatkan produksi minyak mentah, Administrasi Informasi Energi mengatakan.

"Kenaikan kuat dalam aktivitas penyulingan telah menghasilkan penarikan persediaan minyak kelima berturut-turut, mendorong mereka ke level terendah sejak Maret lalu," kata Matt Smith, direktur riset komoditas di ClipperData.

Produksi minyak mentah naik 274.000 barel per hari pada pekan lalu, kata EIA.

Hal ini menambah optimisme atas pengetatan pasar, dimana Arab Saudi memotong pasokan minyak mentah pada Februari.

 

2 dari 3 halaman

Kasus Covid-19 Meningkat

Ilustrasi Harga Minyak Naik
Perbesar
Ilustrasi Harga Minyak Naik (Liputan6.com/Andri Wiranuari)

Tetapi meningkatnya kasus COVID-19 yang terus memacu pembatasan perjalanan dan aktivitas lain oleh pemerintah di seluruh dunia membatasi harga minyak dan pandemi diperkirakan akan membayangi pasar selama beberapa bulan mendatang, kata para analis.

"Sementara saya melihat harga minyak mentah diperdagangkan lebih tinggi selama beberapa bulan mendatang, investor perlu berhati-hati bahwa jalan menuju permintaan minyak yang lebih tinggi dan harga akan tetap bergelombang," kata analis minyak UBS, Giovanni Staunovo.

Pemerintah di seluruh Eropa mengumumkan penguncian virus corona yang lebih ketat dan lebih lama pada hari Rabu karena kekhawatiran tentang varian yang menyebar cepat yang pertama kali terdeteksi di Inggris, dengan vaksinasi diperkirakan tidak akan banyak membantu selama dua hingga tiga bulan ke depan.

China mencatat lonjakan harian terbesar dalam kasus COVID dalam lebih dari lima bulan. Meskipun empat kota diisolasi, peningkatan pengujian dan tindakan lain yang bertujuan untuk mencegah gelombang infeksi lain di ekonomi terbesar kedua di dunia itu.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓