KKP Ingin Indonesia Sontek Australia hingga Vietnam Kembangkan Budidaya Perikanan

Oleh Athika Rahma pada 11 Jan 2021, 12:00 WIB
Diperbarui 11 Jan 2021, 12:00 WIB
Budidaya Ikan Cupang
Perbesar
Pekerja menyortir anakan ikan cupang hias yang siap dibesarkan di pusat budidaya cupang Boston Betta Serpong, Tangerang Selatan, Selasa (8/12/2020). Dalam sebulan Boston Betta mampu menjual Ikan cupang hias sebanyak 10 ribu ekor dengan harga Rp20 ribu - Rp1,5 juta per ekor. (merdeka.com/Dwi Narwoko)

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tengah mendorong subsektor perikanan budidaya sebagai leading sektor perekonomian nasional.

Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono mengatakan, subsektor perikanan budidaya memiliki potensi besar untuk dikembangkan dan menjadi salah satu sumber peningkatan kesejahteraan masyarakat, penyediaan lapangan kerja serta mendukung ketahanan pangan.

"Paradigma peran UPT (Unit Pelayanan Teknis) dari hanya sebatas pelayan masyarakat dan sebagai agent of change serta pemberi solusi, saat ini bertambah perannya sebagai katalisator ekonomi, artinya bukan hanya sebagai pusat informasi teknologi saja tetapi mampu memberikan dampak sebagai penghela kegiatan ekonomi para pembudidaya dan berkontribusi bagi perekonomian nasional," jelas Trenggono dalam keterangannya, Senin (11/1/2021).

Trenggono menegaskan, Indonesia harus bisa kembangkan perikanan budidaya seperti perikanan budidaya di Australia, Norwegia, Jepang, dan juga Vietnam yang sektor perikanan budidayanya sudah berkembang karena Indonesia memiliki lahan dan komoditas yang sangat potensial.

Adapun, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) mempunyai 15 UPT yang tersebar di seluruh Indonesia. Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Seobjakto mengatakan, ke depan subsektor perikanan budidaya diharapkan fokus kepada pengembangan komoditas berbasis kawasan dan terintegrasi.

"Seperti Kampung Nila, Kampung Udang, Kampung Lobster, Kampung Rumput Laut. Kerjasama pengembangannya nanti dengan Pemerintah Provinsi dan juga Kabupaten/Kota. Pengembangan bisnis ini diharapkan berkontribusi lebih besar lagi bagi devisa negara, mendongkrak pertumbuhan nasional serta berdampak positif bagi kesejahteraan masyarakat," kata Slamet.

2 dari 3 halaman

Program yang Dijalankan

Melihat Budidaya Lele dengan Metode Probiotik di Bogor
Perbesar
Peternak Kelompok Pembudidaya Ikan Maju Bersama memberikan pakan lele dengan metode pemeliharaan probiotik, Ciluar, Bogor, Jawa Barat, Selasa (6/8/2019). Selain tidak terlalu banyak mengganti air, metode probiotik juga membuat peternak dapat menghemat pakan lele. (merdeka.com/Arie Basuki)

Sebagai informasi, tahun ini paling tidak sudah ada program yang akan bisa dijadikan model misalnya kota 1000 bioflok di Prabumulih, kampung nila salin di Kabupaten Pati, kampung udang vaname di Kabupaten Aceh Timur dan kampung rumput laut di Seram Bagian Barat.

UPT di KKP sendiri sedang mematangkan program sesuai dengan bidangnya. Seperti BLUPPB Karawang dan BBPBAP Jepara akan ditugasi dan mempersiapkan diri sebagai balai yang fokus mengerjakan tambak udang estate, BBPBAT Sukabumi fokus mengerjakan kolam bioflok nila, BBPBL Lampung dan BPBL Batam fokus mengerjakan budidaya kakap putih, BPBL Lombok fokus mengerjakan budidaya lobster, BPBL Ambon fokus budidaya rumput laut dan balai balai lainnya sesuai dengan keunggulan dan potensi daerah masing masing.

Trenggono juga sempat hadir di BLUPPB Karawang untuk melihat langsung potensi dan menghimbau peran aktif UPT DJPB dalam mengakselerasi pengembangan perikanan budidaya, dan di BLUPPB Karawang akan dilakukan pembangunan kluster tambak udang sebanyak 13 kluster yang akan menjadi acuan dalam pengembangan kawasan tambak ke depan.

"Pembangunan 13 kluster tambak udang ini akan meliputi areal dengan luas mencapai 75 hektar. Harapannya yang tadinya produksinya 3-4 ton per hektar per tahun, nantinya dalam 1 tahun bisa mencapai sekitar 20-30 ton per hektar," kata Slamet.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by