Indeks Manufaktur Indonesia Naik ke Level 51,3 di Desember 2020

Oleh Liputan6.com pada 04 Jan 2021, 15:00 WIB
Diperbarui 04 Jan 2021, 15:00 WIB
Implementasi TKDN akan memperkuat struktur manufaktur sehingga bisa mendongkrak daya saing industri sekaligus perekonomian nasional. (Dok Kemenperin)
Perbesar
Implementasi TKDN akan memperkuat struktur manufaktur sehingga bisa mendongkrak daya saing industri sekaligus perekonomian nasional. (Dok Kemenperin)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perindustrian (Menperin), Agung Gumiwang Kartasasmita, memastikan aktivitas industri manufaktur di tanah air menunjukkan kinerja yang gemilang pada bulan terakhir tahun 2020. Meskipun masih di tengah tekanan berat akibat pandemi Covid-19, geliat industri manufaktur di dalam negeri terus berupaya bangkit menembus fase ekspansif.

Menurutnya, hal tersebut tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Desember 2020 yang tercatat di level 51,3. Atau naik dibanding capaian bulan sebelumnya yang berada di posisi 50,6.

"Ini capaian yang luar biasa, saya berterima kasih kepada para pelaku industri yang tetap berusaha semaksimal mungkin mengoptimalkan sumber daya yang ada di tengah keterbatasan yang ada. Hal ini juga menunjukkan bahwa langkah-langkah kebijakan Kementerian Perindustrian mampu mendorong hal ini," kata Menperin Agus di Jakarta, Senin (4/1).

Menperin Agus mengungkapkan, peningkatan indeks ini didukung adanya pertumbuhan pesanan baru, yang mengacu ekspansi solid pada output. "Kenaikan ini merupakan tercepat kedua dalam sejarah survei selama hampir sepuluh tahun," terangnya.

Dia menyebut, terdapat tiga subsektor yang diproyeksi mampu mencatatkan akselerasi pertumbuhan ciamik pada 2021, yakni industri makanan, minuman, serta kertas dan barang dari kertas. Kementeriannya mencatat, industri minuman misalnya, dapat tumbuh 4,39 persen secara tahunan pada 2021.

Agus menyatakan, pihaknya akan memberikan perhatian khusus pada beberapa sektor manufaktur, seperti industri farmasi, produk obat, kimia, obat tradisional, bahan kimia, barang dari bahan kimia, logam dasar, dan makanan.

Untuk tahun ini, pertumbuhan industri tersebut diperkirakan kembali ke jalur positif. Seluruh subsektor manufaktur digadang-gadang kembali bergairah.

"Dengan asumsi pandemi sudah bisa dikendalikan dan aktivitas ekonomi sudah bisa kembali pulih, kami memproyeksikan pertumbuhan industri manufaktur pada 2021 akan tumbuh 3,95 persen," ucapnya.

Optimisme tersebut sejalan dengan investasi pada industri pengolahan nonmigas yang masih tumbuh positif. Pasalnya, kendati pertumbuhan PDB diproyeksikan terkontraksi 2,22 persen pada 2020, nilai investasinya justru meningkat dan berpotensi melonjak tahun ini.

"Sepanjang 2020, nilai investasi industri pengolahan nonmigas diperkirakan mencapai Rp265,28 triliun atau naik 24,48 persen dari realisasi investasi pada 2019 senilai Rp213,11 triliun. Pada tahun ini, investasi diproyeksikan naik 21,97 persen menjadi Rp323,56 triliun," tandasnya.

Reporter: Sulaeman

Sumber: Merdeka.com

2 dari 4 halaman

Investasi Manufaktur Dipatok Tembus Rp 323 Triliun di 2021

Implementasi TKDN akan memperkuat struktur manufaktur sehingga bisa mendongkrak daya saing industri sekaligus perekonomian nasional. (Dok Kemenperin)
Perbesar
Implementasi TKDN akan memperkuat struktur manufaktur sehingga bisa mendongkrak daya saing industri sekaligus perekonomian nasional. (Dok Kemenperin)

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan realisasi investasi di sektor industri manufaktur pada 2021 bisa mencapai Rp 323,56 triliun.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, proyeksi ini didukung upaya pemerintah dalam mempercepat proses pemulihan ekonomi nasional (PEN) akibat dampak pandemi Covid-19.

"Investasi diperkirakan menjadi faktor penggerak pertumbuhan industri di tahun 2021," kata Agus Gumiwang dalam Konferensi Pers Akhir Tahun 2020 secara virtual, Senin (28/12/2020).

Menurutnya, beberapa sektor dan subsektor industri masih akan jadi primadona bagi para investor di tahun depan. Seperti industri makanan dan minuman yang masih jadi idola, serta sektor logam dasar, otomotif dan elektronik.

"Ada beberapa subsektor yang kami percaya bahwa dia akan tumbuh, bahkan ada sektor tumbuh menyamping, lebih tinggi dari sektor lain. Dan ini sektor-sektor yang pasti kami proyeksikan akan dapat perhatian lebih besar dari calon investor," ujarnya.

Dia juga memberikan perhatian khusus bagi sektor industri otomotif yang diperkirakan akan semakin kuat berkat program kendaraan listrik yang dicanangkan pemerintah.

"Otomotif pasti jadi kekuatan kita, apalagi kita dorong kendaraan bermotor berbasis baterai dan listrik di mana kita ada bahan baku nikel besar," sambungnya.

Begitu juga dengan sektor industri alat kesehatan dan farmasi, yang kini kebutuhannya selama pandemi Covid-19 sangat besar. Agus Gumiwang pun mencium potensi pendapatan lebih di sektor tersebut.

"Barangkali, in term of size-nya, pertumbuhannya tidak sebesar dari sektor-sektor lain. Tapi kami harapkan pertumbuhan investasinya, dilihat dari presentasi dibandingkan periode-periode sebelumnya akan kami dorong agar bisa tumbuh jauh lebih cepat," tuturnya. 

3 dari 4 halaman

Infografis Ekonomi Indonesia di Tengah Wabah Corona

Infografis Ekonomi Indonesia di Tengah Wabah Corona
Perbesar
Infografis Ekonomi Indonesia di Tengah Wabah Corona (Liputan6.com/Abdillah)
4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓