Harga Minyak Turun karena Adanya Strain Baru Virus Corona Covid-19

Oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana pada 29 Des 2020, 08:01 WIB
Diperbarui 29 Des 2020, 08:02 WIB
Ilustrasi tambang migas
Perbesar
Ilustrasi tambang migas (iStockPhoto)

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak turun pada penutupan perdagangan Senin (Selasa pagi waktu Jakarta), setelah sebelumnya sempat naik menjadi USD 52 per barel. Saat ini investor tengah menunggu pertemuan OPEC+ yang kemungkinan akan mengeluarkan kebijakan soal pembatasan produksi.

Di awal perdagangan, harga minyak naik karena optimisme stimulus AS dan mulainya kampanye vaksinasi Covid-19 di Eropa. Namun kemudian mengalami tekanan karena permintaan yang lemah dan prospek produksi OPEC+ yang lebih tinggi.

Mengutip CNBC, Selasa (29/12/2020), harga minyak mentah Brent turun 43 sen, atau 0,84 persen menjadi USD 50,86 per barel, setelah sempat naik ke USD 52,02 per barel di awal sesi. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup turn 61 sen atau 1,26 persen menjadi USD 47,62 per barel.

Presiden AS Donald Trump akhirnya menandatangani UU bantuan corona dan langkah-langkah bantuan pendanaan lainnya untuk mencegah penutupan pemerintah.

Selain itu, Eropa pada hari Minggu juga telah meluncurkan kampanye vaksinasi COVID-19 massal.

"Penandatanganan RUU stimulus AS, dengan kemungkinan peningkatan nilai yang disepakati akan mendorong harga minyak di minggu yang singkat ini," kata analis OANDA, Jeffrey Halley.

Harga minyak telah pulih dari posisi terendah dalam sejarah yang pernah ditorehkan pada tahun ini karena dampak dari pandemi Covid-19. Penurunan aktivitas karena lockdown membuat permintaan akan minyak melemah.

Harga minyak mentah Brent akhirnya kembali menguat dan mencapai USD 52,48 pada 18 Desember, tertinggi sejak Maret dimana harga minyak mencetak level terendah.

Sayangnya, kemunculan strain baru virus Covid-19 telah menyebabkan pembatasan pergerakan atau lockdown diberlakukan kembali. Hal ini tentu saja kembali membebani harga minyak.

 

2 dari 3 halaman

Pertemuan OPEC+

Saat ini, fokus pelaku pasar adalah pertemuan organisasi negara eksportir minyak beserta para sekutunya seperti Rusia. Pertemuan akan di gelar awal tahun depan atau tepatnya pada 4 Januari.

Rencananya, OPEC+ akan mengurangi produksi minyak untuk mendukung kenaikan harga minyak. Kesepakatan yang mungkin akan dilakukan adalah kembali mengurangi produksi tetapi untuk nilainya memang belum ada gambaran sampai saat ini.

Pada kesepakatan sebelumnya, OPEC+ berencana untuk meningkatkan produksi sebesar 500 ribu barel per hari pada Januari dan Rusia mendukung peningkatan dengan jumlah yang sama pada Februari.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓