KKP Targetkan Produksi Perikanan Budidaya Capai 19,47 Juta Ton di 2021

Oleh Liputan6.com pada 28 Des 2020, 16:40 WIB
Diperbarui 28 Des 2020, 16:48 WIB
Deretan kolam ikan Koi, milik Kelompok Budidaya Ikan (Pokdakan) ikan koi, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.
Perbesar
Deretan kolam ikan Koi, milik Kelompok Budidaya Ikan (Pokdakan) ikan koi, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. (Liputan6.com/Jayadi Supriadin)

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan produksi perikanan budidaya untuk 20201 mencapai sekitar 19,47 juta ton. Angka tersebut naik dari target produksi tahun 2020 sebanyak 18,44 juta ton.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto menyampaikan, dari total target sebesar 19,47 juta ton terdiri dari ikan sebesar 7,92 juta ton dan rumput laut 11,55 juta ton.

“Meski era pandemi, kita sudah terbiasa dengan pola cara kerja saat ini. Oleh karenanya, mari kita bekerja secara maksimal untuk mencapai target yang sudah ditetapkan,” kata Slamet di Jakarta, Senin (28/12/2020).

Disamping produksi ikan konsumsi, target lain pada tahun 2021 adalah produksi Ikan hias. Di mana sekarang ini harus sudah memulai koordinasi dan kerjasama dengan Pemerintah Daerah baik Provinsi/Kabupaten/kota, guna membangun sinergitas pembangunan perikanan budidaya di daerah daerah.

“Kebutuhan ikan hias juga meningkat dari tahun ke tahun baik untuk dalam negeri maupun ekspor. Makanya dengan daerah, jalin kerjasama baik untuk budidaya maupun bisnisnya sehingga memberikan kontribusi peningkatan ekonomi baik untuk pembudidaya maupun daerah,” ucap Slamet.

Selain target produksi, yang tidak kalah penting yaitu meningkatkan kesejahteraan para pembudidaya. Sebab, pandemi Covid-19 masih menjadi momok penurunan ekonomi secara umum disemua sektor.

"Harapannya sektor perikanan budidaya menjadi salah satu penopang kebangkitan ekonomi masyarakat. Caranya bagaimana mampu meningkatkan target pendapatan para pembudidaya, agar mereka bisa lebih mandiri dan mapan. Disinilah tugas kita semua dan tentunya kita semua harus terus bersemangat mencapai target tersebut,” ujar Slamet.

Program prioritas lain perikanan budidaya salah satunya adalah pakan mandiri. Slamet berharap agar ke depannya, pakan mandiri akan semakin strategis dan mampu meningkatkan produksi perikanan budidaya. Geliat pembudidaya ikan untuk memproduksi pakan secara mandiri semakin banyak.

“Saya terus terang saja memberikan apresiasi yang sangat besar dan terima kasih karena pertumbuhan pakan mandiri sangat pesat dan kami akan terus mendukung program ini,” ucap Slamet.

Dwi Aditya Putra

Merdeka.com

2 dari 3 halaman

KKP Salurkan Bantuan Budidaya Ikan Rp1,8 Miliar ke Kalimantan Barat

Budidaya Ikan Lele Kala Pandemi COVID-19
Perbesar
Seorang warga memberi pakan untuk ikan lele budidaya di Tangerang, Jumat (6/11/2020). Pemerintah setempat bersama warga memanfaatkan lahan untuk bubidaya ikan lele guna menggerakan ekonomi masyarakat di masa pandemi COVID-19. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyalurkan bantuan berupa paket budidaya sistem bioflok tahun anggaran 2020 dengan total nilai sebesar Rp 1,8 miliar untuk sebanyak 11 kelompok yang terdapat di kabupaten dan kota di Provinsi Kalimantan Barat.

"Pendistribusian bantuan budidaya ikan sistem bioflok memiliki potensi untuk meningkatkan kapasitas SDM di masyarakat karena dapat meningkatkan keterampilan pembudidaya melalui teknologi yang diadaptasi," kata Dirjen Perikanan Budi daya KKP Slamet Soebjakto dikutip dari Antara, Senin (7/12/2020).

Selain itu, ujar Slamet Soebjakto, paket bantuan tersebut juga diharapkan meningkatkan pendapatan dari efisiensi budi daya ikan sistem bioflok serta limbah yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik.

Bantuan yang diberikan berjumlah 11 paket bantuan dengan total nilai sebesar Rp1,8 miliar untuk 11 kelompok yang terdapat di kabupaten dan kota Provinsi Kalimantan Barat. Kabupaten dan kota tersebut terdiri dari Kota Pontianak, Kabupaten Mempawah, Landak, Kubu Raya,  Ketapang dan Melawi.

Pemerintah, kata dia, terus melakukan berbagai upaya untuk memulihkan ekonomi masyarakat melalui berbagai program bantuan yang disalurkan secara terukur serta berorientasi untuk meningkatkan produktivitas masyarakat.

Ia menilai bahwa bantuan ini dapat menjadi solusi akan penyediaan sumber protein bergizi tinggi dengan harga yang terjangkau di masyarakat.

"Dengan asupan protein yang terpenuhi, tingkat kesehatan dan gizi masyarakat dapat terjaga sehingga produktivitas masyarakat dapat terus meningkat di masa mendatang," ucapnya.

Kepala Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Mandiangin Andy Artha Donny Oktopura mengungkapkan bantuan budi daya ikan sistem bioflok bertujuan untuk meningkatkan produksi perikanan budi daya, serta diseminasi teknologi budi daya ikan yang efisien, produktivitas tinggi dan ramah lingkungan.

Bantuan tersebut, kata dia, adalah sebagai stimulus usaha bagi masyarakat untuk penciptaan lapangan kerja dan ketahanan pangan, sehingga diharapkan dapat terus memberi manfaat ekonomi bagi kelompok penerima dan masyarakat sekitarnya.

"Kami berharap kepada semua kelompok penerima bisa memanfaatkan bantuan yang diberikan secara optimal, serta meningkatkan ketahanan pangan dan menstimulus usaha bagi masyarakat untuk penciptaan lapangan kerja," ucapnya.

Menurut dia, keuntungan budi daya ikan sistem bioflok antara lain masa budi daya yang lebih singkat, hemat air, tidak perlu lahan yang luas serta hemat pakan, dapat diintegrasikan dengan sayur, hasil panen dan keuntungan yang lebih tinggi.

Andy juga mengharapkan Bantuan Budi daya Ikan Sistem Bioflok dapat menstimulus usaha bagi masyarakat khususnya di tengah pandemi COVID-19, dapat direplikasi oleh masyarakat sehingga meningkatkan produksi ikan lele di Kalbar dan bisa dimanfaatkan serta dio

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓