Pendapatan Naik 4 Kali Lipat, eFishery Dukung Ribuan Petani Lewati Krisis Pandemi

Oleh Liputan6.com pada 22 Des 2020, 16:45 WIB
Diperbarui 22 Des 2020, 22:32 WIB
Pembudidaya udang. Dok KKP
Perbesar
AHPND merupakan jenis penyakit lintas batas (transboundary disease) yang saat ini tengah menjadi ancaman serius pada industri budidaya udang. Dok KKP

Liputan6.com, Jakarta - Di 2020, eFishery sebagai salah satu startup akuakultur terbesar di Indonesia mencatatkan peningkatan pendapatan hingga empat kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Tercatat terjadi peningkatan hingga 287,2 persen pada year-on-year Gross Merchandise Value (GMV) di tahun 2020 ini.

“Di tahun ini kami secara agresif mengoptimalkan lini bisnis kami selain eFisheryFeeder, yaitu eFisheryFund untuk akses terhadap pendanaan, eFisheryFeed untuk penyediaan pakan, dan eFisheryFresh untuk pendistribusian produk hasil budidaya,” ungkap Co-founder dan CEO eFishery Gibran Huzaifah dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (22/12/2020).

“Hal ini dilakukan karena kami melihat pembudidaya ikan mengalami kesulitan dalam mendapatkan modal usaha, terbatasnya pakan yang tersedia di retailer, dan juga kendala dalam penyaluran hasil budidayanya," lanjut dia.

eFisheryFund memberikan akses dan menghubungkan pembudidaya ikan secara langsung dengan institusi keuangan. Fitur utama dari eFisheryFund adalah Kabayan (Kasih Bayar Nanti), yaitu program cicilan yang dapat dimanfaatkan oleh para pembudidaya untuk memperoleh produk eFishery seperti eFisheryFeeder dan pakan ikan.

Penyediaan pakan yang didukung oleh eFisheryFeed ini telah bekerja sama dengan berbagai brand pakan, sehingga pembudidaya memiliki lebih banyak pilihan. Lebih dari 3.000 ton pakan ikan dari berbagai merek telah didistribusikan melalui layanan ini.

Selama 2020, eFisheryFund telah menjalin kerja sama dengan berbagai institusi keuangan, seperti BRI, Alami Sharia, dan Investree. Hingga saat ini, lebih dari 800 pembudidaya telah didukung oleh eFisheryFund dengan total pinjaman yang disetujui mencapai lebih dari Rp 50 miliar.

Pembudidaya pun memiliki fleksibilitas dalam pengembalian pinjaman karena eFisheryFund menawarkan tenor hingga 6 bulan. Skema ini banyak membantu pembudidaya yang usahanya nyaris tutup akibat pandemi.

“Kalau tidak ada Kabayan, usaha budidaya saya sudah tutup saat pandemi karena kehabisan modal,” ungkap Baban, pembudidaya ikan nila asal Pamijahan, Kabupaten Bogor.

Pandemi Covid-19 secara signifikan membuat perekonomian Indonesia mengalami pukulan dan mengguncang sektor UMKM, termasuk sektor perikanan budidaya.

Di awal pandemi, permintaan ikan mengalami penurunan hingga 20 persen. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, antara lain oleh permintaan pasar yang turun, pasar horeka (hotel, restoran, dan kafe) yang masih lesu, dan akses untuk berpindah ke pasar online yang belum maksimal.

“eFishery berfokus untuk meningkatkan dampak sosial yang dapat membantu menjaga usaha para pembudidaya tetap berjalan. Salah satu langkah yang kami lakukan adalah dengan menarik ikan hasil panen pembudidaya dan mengolahnya menjadi produk beku demi menambah nilai jual dan memperpanjang masa konsumsi. Dengan demikian, hasil panen dapat disimpan lebih lama sehingga mengurangi risiko terbuangnya hasil panen,” Gibran menjelaskan.

“Melalui eFisheryFresh, ikan yang ditarik dari pembudidaya kemudian disalurkan ke berbagai channel dengan jalur B2B. Selama tahun 2020 ini, lebih dari 1.000 ton ikan telah ditarik dari puluhan kelompok tani dari berbagai daerah di Indonesia.

2 dari 3 halaman

Disambut Baik Pembudidaya

Melihat Budidaya Lele dengan Metode Probiotik di Bogor
Perbesar
Peternak Kelompok Pembudidaya Ikan Maju Bersama memberikan pakan lele dengan metode pemeliharaan probiotik, Ciluar, Bogor, Jawa Barat, Selasa (6/8/2019). Kelompok Pembudidaya Ikan Maju Bersama mampu menghasilkan sekitar 300 kilogram lele per tahunnya. (merdeka.com/Arie Basuki)

Program Tarik Ikan ini pun disambut baik oleh pembudidaya. "Di tengah wabah seperti sekarang ini, kami mengalami kendala dalam serapan hasil panen. Kadang kami terpaksa jual rugi ke tengkulak. Program Tarik Ikan ini membantu usaha budidaya kami tetap berjalan,” ujar Kuncoro, pembudidaya ikan patin asal Rejotangan, Kabupaten Tulungagung.

Selain pendistribusian melalui jalur business to business (B2B), di tahun ini eFishery juga meluncurkan program BerIkan untuk Indonesia (Beri Ikan untuk Indonesia), sebuah aksi sosial yang dijalankan bekerja sama dengan WeCareId, Aksi Cepat Tanggap (ACT), dan Shafira Foundation.

Gerakan ini bertujuan untuk membantu masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19 dengan memberikan paket bahan makanan berprotein tinggi berupa ikan segar yang diambil langsung dari pembudidaya. Sebanyak 30 ton ikan telah didistribusikan ke lebih dari 20.000 orang penerima, termasuk diantaranya 10.000 orang tenaga kesehatan di wilayah Bandung, Cimahi, dan Jakarta.

Rantai nilai akuakultur end-to-end tidak hanya diciptakan eFishery untuk dapat mengembangkan ekosistem akuakultur secara menyeluruh di Indonesia, namun juga sekaligus untuk meningkatkan kesejahteraan pembudidaya. Demi melancarkan misi pemberdayaan pembudidaya dan meningkatkan akses pembudidaya terhadap pasar dan keuangan, eFishery turut membangun fasilitas eFisheryPoint.

Di eFisheryPoint, pembudidaya dapat memperoleh berbagai informasi seputar teknologi budidaya perikanan dan juga berpartisipasi dalam kegiatan edukatif lainnya, seperti seminar peningkatan literasi finansial.

Saat ini eFisheryPoint telah tersebar di lebih dari 65 kota di Indonesia.Dalam periode satu tahun terakhir ini, inovasi yang diciptakan eFishery telah membantu pembudidaya dalam meningkatkan produksi sebesar 26 persen dan pendapatan mereka meningkat hingga 45 persen.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓