Harga Minyak Tumbang karena Munculnya Strain Baru Virus Corona di Inggris

Oleh Tira Santia pada 22 Des 2020, 08:30 WIB
Diperbarui 22 Des 2020, 08:30 WIB
Ilustrasi Harga Minyak Naik
Perbesar
Ilustrasi Harga Minyak Naik (Liputan6.com/Sangaji)

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak jatuh lebih dari 2 persen pada penutupan perdagangan Senin (Selasa pagi waktu Jakarta). Pendorong utama penurunan harga minyak ini karena adanya virus Corona baru yang menyebar dengan cepat.

Penyebaran virus Corona jenis baru ini membuat pembatasan maksimal di Inggris dan juga potensi penutupan Eropa. Tentu saja berbagai pembatasan yang dilakukan tersebut akan membuat pemulihan ekonomi kembali melambat sehingga permintaan bahan bakar melemah.

Mengutip CNBC, Selasa (22/12/2020), harga minyak mentah Brent turun USD 1,85 atau 3,5 persen menjadi USD 50,41 per barel. Sedangkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari turun USD 1,36 atau 2,77 persen menjadi USD 47,74 per barel.

Kontrak WTI untuk pengiriman Februari juga turun USD 1,83 atau 3,7 persen menjadi USD 47,41 per barel.

Kedua kontrak harga minyak tersebut telah kehilangan sebanyak USD 3 di awal perdagangan yang merupakan penurunan harian terbesar dalam enam bulan.

“Laporan jenis baru virus Corona telah membebani sentimen aset berisiko dan juga minyak. Pembatasan mobilitas di seluruh Eropa tidak membantu karena permintaan minyak Eropa dipastikan akan melemah,” jelas analis minyak UBS Giovanni Staunovo.

“Investor harus menyadari bahwa jalan menuju kenaikan permintaan sehingga mendorong harga minyak akan tetap bergelombang.” tambah dia.

Harga minyak Brent naik di atas USD 50 pada minggu lalu untuk pertama kalinya sejak Maret 2020. Kenaikan tersebut didukung oleh optimisme yang berasal dari vaksin Covid-19.

Tetapi virus Corona jenis baru ini dikabarkan 70 persen lebih mudah ditularkan daripada yang asli. Tentu saja hal ini mempengaruhi kekhawatiran pelaku pasar.

Banyak negara telah menutup perbatasan mereka ke Inggris pada hari Senin, menyebabkan kekacauan perjalanan dan meningkatkan prospek kekurangan pangan di Inggris.

Strain virus baru telah terdeteksi di negara lain, termasuk Australia, Belanda dan Italia.

"Pembatasan perjalanan selama beberapa minggu ke depan akan mempersulit rencana OPEC+ untuk secara bertahap meningkatkan produksi," kata analis senior OANDA, Edward Moya.

2 dari 3 halaman

PM Inggris Boris Johnson Gelar Rapat Darurat Soal Blokir Dunia dan Varian Baru COVID-19

Kemunculan Pertama PM Inggris
Perbesar
PM Inggris, Boris Johnson selesai memberikan pernyataan pada hari pertamanya kembali bekerja setelah pulih dari virus Corona di Downing Street, London, Senin (27/4/2020). Ini menjadi kemunculan pertama PM Johnson di depan publik setelah hampir sebulan terinfeksi COVID-19. (AP/Frank Augstein)

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson akan memimpin sebuah pertemuan darurat pada Senin (21/12/2020) waktu setempat, bersama komite krisis di negara tersebut. 

Dilansir VOA Indonesia, pertemuan itu diadakan untuk membahas perjalanan keluar masuk Inggris, terutama pengakutan barang.

Karena kekhawatiran akan varian baru Virus Corona COVID-19 yang telah menyebar cepat di Inggris, beberapa negara di Eropa dan Timur Tengah melarang penerbangan dari negara tersebut pada 20 Desember.

Sementara itu, Prancis melarang semua perjalanan, termasuk semua pengangkut barang, selama 48 jam.

Di bawah kebijakan tersebut, akses terowongan di bawah Selat Inggris ditutup, yang biasanya dilalui ribuan truk setiap hari.

Selain terowongan di bawah Selat Inggris, pelabuhan Dover juga menutup terminal ferinya.

Dover, diketahui merupakan salah satu pelabuhan tersibuk di Inggris, yang lalu lintasnya semakin padat menjelang tenggat Brexit.

Diketahui bahwa kurang dari dua pekan Inggris akan meninggalkan Uni Eropa, dan sejauh ini tanpa perjanjian.

Irlandia, Italia, Austria, Belgia, dan Belanda juga merupakan negara-negara lain yang melarang penerbangan dari Inggris terkait varian baru Virus Corona itu.

Adapun langkah serupa yang diambil oleh Kanada, Kuwait, Arab Saudi dan Israel, sementara negara-negara lainnya mempertimbangkan larangan penerbangan.

Uni Eropa juga dilaporkan akan melakukan pertemuan untuk membahas rekomendasi mereka.

 

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓