Direktur BRI Handayani Beberkan Cara Atur Uang yang Baik, Pakai Formula 40-30-20-10

Oleh Athika Rahma pada 21 Des 2020, 17:10 WIB
Diperbarui 21 Des 2020, 17:10 WIB
Direktur Konsumer BRI, Handayani.
Perbesar
Direktur Konsumer BRI, Handayani.

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Konsumer Bank Rakyat Indonesia (BRI) Handayani mengibaratkan peran wanita dalam rumah tangga layaknya Chief Financial Officer (CFO) di sebuah perusahaan. Handayani pun mengungkapkan cara atur uang yang baik.

Handayani bercerita, wanita memiliki peran dalam mengelola keuangan baik pribadi maupun keuangan keluarga, baik untuk jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang.

"Kalau bicara keuangan, CFO itu benar-benar memastikan bahwa saat ada ancaman, ada sustainability keuangan. Bagaimana CFO itu bisa memilah mana yang desire (keinginan) mana yang needs (kebutuhan)," ujar Handayani dalam webinar BRI Motherpreneur, Senin (21/12/2020).

Menurutnya, wanita harus memiliki horizon keuangan yang baik. Yang terpenting, bagaimana cashflow atau arus kas baik itu pribadi maupun keluarga tidak tersendat apalagi jika ada kejadian tidak terduga seperti saat ini, yaitu adanya pandemi Covid-19.

Untuk wanita yang sudah berkeluarga, mengatur keuangan merupakan tugas kritis karena seorang istri harus memahami kebutuhan keluarga baik jangka pendek, menengah dan panjang, untuk seluruh anggota keluarga. Penting juga bagi seorang istri untuk selalu menyiapkan dana darurat.

"Jangan sampai nggak punya dana darurat. Minimal, 1 tahun ke depan (punya dana darurat), sehingga ketika ada ancaman, ada solusi yang baik," katanya.

Rumus pembagian penghasilan juga harus diterapkan dengan disiplin. Handayani menyarankan untuk menerapkan formula 40-30-20-10 dalam mengatur keuangan, dimana 40 persen penghasilan dihabiskan untuk konsumsi dan kebutuhan sehari-hari, lalu 30 persen (dari penghasilan) adalah batas maksimal utang yang dimiliki.

"20 persennya ini porsi untuk keuangan jangka menengah dan panjang, dan 10 persennya harus jadi dana darurat, ada atau tidak terjadi sesuatu, harus tetap ada dana ini," tandasnya.

2 dari 3 halaman

Pandemi Corona Covid-19 Belum Berakhir, Simak Tips Atur Uang Biar Tak Tekor

Mulai Mengatur Anggaran Keuangan
Perbesar
Ilustrasi Anggaran Keuangan Credit: pexels.com/Breakingpic

Pandemi Covid-19 berdampak kepada seluruh kehidupan masyarakat. Tak hanya dari sisi kesehatan tetapi juga dari sisi keuangan. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Manulife pada Mei 2020, perilaku nasabah mengalami perubahan. 

Survei tersebut dilakukan pada 300 responden di Indonesia. Data tersebut memberi kesimpulan bahwa masa pandemi Corona Covid-19 ini berdampak ke 2 perilaku para nasabah. 

 

Pertama, pandemi Corona Covid-19 memicu nasabah memiliki gaya hidup lebih sehat. Kebanyakan orang jadi berpikir untuk hidup lebih sehat. Sehat tersebut baik dari sisi fisik, mental dan keuangan. 

Menurut survei tersebut, ada beberapa orang yang kembali menata keuangan pribadinya. Mereka sehat secara finansial. Memilah-milah mana yang harus dan mana yang bisa ditunda lebih dulu. Kemudian, ada juga yang memonitor kesehatan mentalnya. Tak ketinggalan ada juga yang ingin sehat secara fisik. Mereka mulai berolahraga untuk menjaga kesehatan tubuhnya.

Selain dapat memicu gaya hidup menjadi lebih sehat, dampak kedua dari pandemi Covid-19 adalah membuat penggunaan digital meningkat drastis. Karena terbatasnya ruang gerak, banyak orang yang sangat memanfaat e-commerce di masa pandemi ini.

Sebanyak 71 persen dari responsen memanfaatkannya dengan sangat baik, seperti untuk membeli makanan atau segala kebutuhan rumah tangga lainnya. Di samping itu, sebagian besar juga pengguna digital memanfaatkannya dalam sosial media yang mereka miliki.

Namun ternyata, e-commerce bisa membuat orang menjadi boros. Perlu diingat bahwa saat ini berada di tengah pandemi COvid-19 yang belum berakhir.

Agar bisa mengatasi tidak terkontrolnya diri sendiri saat berbelanja atau membeli sesuatu, Chief Agency Officer Manulife Indonesia Jeffrey Kie memberikan tips mengelola keuangan yang bisa dilakukan di masa pandemi seperti ini:

1. Mengutamakan sisihkan uang untuk menabung

Hal yang harus diutamakan adalah menabung. Sisihkanlah uang untuk menabung, investasi, atau dana darurat terlebih dulu di awal, baru untuk berbelanja. Bukan menyisikan uang untuk menabung setelah puas belanja.

Oleh karena itu, nantinya kita akan terbiasa untuk menyesuaikan diri pada saat belanja dengan uang yang tersisa. Hal yang terjadi jika uangnya dibelanjakan terlebih dulu nantinya uang tersebut akan habis dan seringkali tidak tersisa.

2. Mengupayakan pengeluaran tidak lebih dari 30-40% dari penghasilan

Tujuan dari upaya tersebut adalah agar kita memiliki banyak anggaran untuk dana darurat. Sampai saat ini setidaknya sudah 9 bulan pandemi melanda Tanah Air, seharusnya kita bisa memperpanjang dana darurat tersebut melihat pengeluarannya berkurang.

3. Menghindari utang

Sebisa mungkin hindarilah berutang. Berutang terlihat sebagai salah satu cara instan, tetapi tidak sesuai dengan prinsip Pegadaian, yakni menyelesaikan masalah tanpa masalah. Memiliki utang malah membuat Anda menyelesaikan masalah dengan masalah. Akan timbul masalah baru lagi nantinya.

4. Memberikan proteksi risiko tak terduga di masa depan

Setidaknya kita memiliki asuransi yang menjajikan untuk bekal masa depan nanti.

5. Membeli sesuatu karna butuh, bukan ingin

Kebanyakan orang berpikir semua keinginan adalah kebutuhan. Padahal itu adalah yang berbeda. Sebenarnya tidak semua keinginan itu adalah kebutuhan. Salah satu cara untuk membedakannya adalah setiap kita mempunyai keinginan, tundalah selama 3 hari. Apabila sudah bisa menunda selama 3 hari, tunda lagi selama 3 hari. Jika Anda bisa menundanya seperti itu, itu berarti hanya keinginan, bukan kebutuhan. Terkecuali jika Anda tidak bisa menundanya, itu baru namanya kebutuhan.

6. Menciptakan sumber income baru

Di masa pandemi seperti sekarang ini, jika sudah terlanjur kena PHK maka salah satu usaha lainnya adalah menciptakan sumber penghasilan yang baru. Salah satu caranya bisa dengan mencari peluang berdagang di sosial media. Selain itu, bisa juga memanfaatkan keahlian yang Anda miliki, misal menjajaki pekerjaan sebagai content writer atau freelance writer.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓